Harga oli motor yang biasanya Rp95.000 kini dijual Rp155.000. Naik 60 persen. Barang yang sama, bengkel yang sama. Bagi sebagian orang ini cuma soal ganti oli rutin, tapi angka itu mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.
Rupiah sempat menyentuh Rp17.737 per dolar AS pekan lalu, level terlemah dalam periode terakhir, sebelum sedikit menguat ke Rp17.696 pada pembukaan Senin (25/5) pagi. Penguatan tipis 21 poin itu, menurut analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, didorong harapan perdamaian di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan." Perundingan yang dimediasi Pakistan itu menyentuh isu pembukaan Selat Hormuz, program nuklir Teheran, dan pencabutan sanksi. Pasar merespons dengan harga minyak yang melunak. Bagi rupiah, itu cukup untuk sekadar napas.
Tapi napas sesaat tidak serta-merta memangkas tekanan yang sudah menumpuk berbulan-bulan. Lukman sendiri mengakui masih ada beban dari sisi domestik, khususnya data neraca transaksi berjalan yang mencatat defisit besar. Rupiah diprediksi masih akan bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 dalam waktu dekat. Level Rp17.000-an bukan lagi angka psikologis. Sudah jadi kenyataan sehari-hari.
Di tingkat konsumen, kenyataan itu terasa dalam bentuk yang sangat konkret. Spare part motor yang mayoritas diimpor dari Thailand, seperti CDI, naik sekitar 20 persen. Gandum dan bahan pokok berbasis impor mulai merayap naik di rak supermarket, yang kini jarang lagi menggelar promo buy two get one. Layanan digital berlangganan berbasis dolar AS pun makin mencekik kantong.
Menariknya, tidak semua pihak terkena getahnya. Diaspora Indonesia di luar negeri justru menikmati windfall tak terduga: kiriman 100 dolar Australia yang dulu setara sekitar Rp1 juta kini bisa menghasilkan Rp1,2 juta lebih untuk keluarga di tanah air. Bonus lumayan, entah kebetulan atau tidak, yang datang justru dari depresiasi mata uang sendiri.
Itu sisi lain dari cerita yang lebih besar. Ketika rupiah amblas, pengusaha dan produsen menanggung biaya produksi yang membengkak karena ketergantungan pada impor bahan baku, pembiayaan eksternal, dan arus modal asing. Beban itu tidak tinggal di neraca perusahaan. Ia merembes ke harga jual, lalu ke kantong konsumen, yang mulai memangkas konsumsi: beli tiga, bukan lima; tunda beli Nintendo Switch yang harganya sudah tembus Rp1,2 juta per judul; kurangi frekuensi servis kendaraan. Pola klasik demand destruction yang biasanya baru keliatan efeknya tiga hingga enam bulan kemudian.
Kontraksi konsumsi yang seperti ini, kalau berlanjut, bisa lebih merusak dibanding angka kurs itu sendiri. Daya beli yang tergerus secara gradual tidak membuat headline besar. Tapi efeknya pada pertumbuhan ekonomi nyata dan kumulatif.
Pertanyaannya bukan lagi soal kapan rupiah kembali ke Rp15.000-an, karena agaknya itu harapan yang terlalu optimistis untuk jangka pendek. Pertanyaan yang lebih relevan: seberapa lama konsumen masih punya ruang menyesuaikan diri sebelum penyesuaian itu tidak lagi cukup?