KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ular Langka 150 Tahun Tak Tercatat Muncul Lagi di...

Internasional

Ular Langka 150 Tahun Tak Tercatat Muncul Lagi di Kutch India

Ular pasir Afro Asia yang terakhir tercatat di Kutch pada 1872 ditemukan kembali oleh petugas kehutanan India pada September ini, menjadi verifikasi fisik pertama dalam lebih dari 150 tahun.

Ular Pasir Afro Asia Muncul Kembali di Kutch

Lebih dari 150 tahun lalu, naturalis Ferdinand Stoliczka mencatat keberadaan ular pasir Afro Asia saat menjelajahi India pada era 1870-an. Setelah itu, spesies ini seolah menguap dari radar ilmuwan, setidaknya di wilayah Kutch. Sampai malam 6 September lalu mengubah segalanya.

Jayesh Dumadiya dan timnya baru saja menyelesaikan patroli di dekat Kala Dungar, titik tertinggi di Kutch, ketika perhatian mereka tersedot ke seekor ular tak biasa di tepi jalan. Awalnya tim sedang menangani ular royal berkepala hitam yang sudah lebih dulu ditemukan. Tapi ular kedua ini lain cerita. Dumadiya yang berpengalaman pun mengaku tak pernah melihat spesies itu sebelumnya.

"Ular yang muncul di jalan ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. Jadi saya memotret dan merekam videonya, lalu mengirimkannya kepada para ahli, penyelamat ular, dan ilmuwan," ungkap Dumadiya kepada Indian Express.

Rekaman dan foto itu kemudian berputar di kalangan ilmuwan dan penyelamat satwa liar. Identifikasinya tidak butuh waktu lama. Ular pasir Afro Asia. Reptil semi berbisa yang terakhir tercatat di Kutch lebih dari satu setengah abad silam. Bukan angka kecil.

Dheeraj Mittal, Konservator Hutan setempat, mengaitkan catatan historis itu langsung dengan ekspedisi Stoliczka yang mengumpulkan spesimen zoologi dalam perjalanannya melintasi India. Sejak jejak Stoliczka itu, kata Dumadiya, ada dua atau tiga laporan penampakan yang beredar, tapi tak satu pun bisa dikonfirmasi.

"Ini adalah penampakan langka dan semacam catatan kedua setelah rekam jejak tahun 1872. Terdapat catatan historisnya, namun kami baru berhasil melihat dan merekam reptil tersebut kembali setelah sekian tahun lamanya," tegas Mittal.

Bagi Mittal, momen ini bukan sekadar temuan lapangan biasa. Ular pasir Afro Asia memang cocok dengan lanskap kering seperti Kutch, sehingga keberadaannya di sana masuk akal secara ekologis. Yang bikin penemuan ini besar bukan hanya fakta kemunculannya, tapi kemampuan memverifikasinya secara fisik. Selama ini, verifikasi itulah yang absen meski laporan sesekali muncul.

"Ular ini endemik di lanskap seperti Kutch, sehingga penampakannya ini bagaikan sebuah penemuan kembali. Mampu memverifikasi secara fisik di 2026 atas catatan yang dibuat pada tahun 1872 adalah suatu pencapaian besar," imbuh Mittal.

Secara biologis, spesies ini tergolong adaptif. Hidup di habitat kering dan gersang, ia memangsa kadal serta hewan pengerat kecil. Semi berbisa, kalau data ini bisa dipercaya, statusnya yang tidak terlalu berbahaya bagi manusia agaknya turut membuat ular ini nyaris tak pernah masuk sorotan selama berpuluh tahun.

Pihak berwenang kehutanan kini berencana mendokumentasikan temuan ini dalam jurnal ilmiah. Bagi keanekaragaman hayati Kutch, ini satu lagi catatan yang masuk ke buku, 154 tahun setelah halaman sebelumnya ditulis.