Sepanjang Juni hingga Agustus 2026, Toyota Veloz HEV membukukan penjualan 7.105 unit, hampir dua kali lipat dari BYD M6 DM yang hanya meraup 4.423 unit di periode yang sama. Bukan angka biasa di segmen LMPV ramah lingkungan yang pemainnya masih bisa dihitung jari.
Veloz HEV, dirilis sekitar akhir 2025, sudah mengumpulkan 15.554 unit sejak Januari. Cukup mengejutkan untuk model yang belum genap setahun beredar. Rinciannya: Juni 2.698 unit, Juli 2.140 unit, Agustus 2.267 unit. Konsisten. Tanpa tanda-tanda akan melambat.
M6 DM mulai pengiriman sejak Juni lalu. Debut yang solid sebenarnya, dengan 1.825 unit di bulan pertama. Tapi tren berikutnya agak mengkhawatirkan: Juli anjlok ke 1.437 unit, Agustus kembali tergerus ke 1.161 unit. Apakah ini sekadar penyesuaian pasar pasca-launching, atau ada sesuatu yang lebih dalam? Belum ada jawaban pasti, dan agaknya pasar sendiri masih menunggu.
M6 DM tetap layak diacungi jempol sebagai PHEV terlaris di Indonesia hingga kini. Ia berhasil melewati Chery Tiggo 8 CSH yang selama ini menjadi raja di segmen PHEV, termasuk mengungguli Jaecoo J7 dan J8 SHS dari grup yang sama. Bukan main, mengingat peminat SUV di sini masih jauh lebih besar dari MPV.
Perbandingan Veloz HEV versus M6 DM memang tidak sepenuhnya apple-to-apple. Veloz HEV bermain di teknologi hybrid konvensional yang lebih dulu dikenal pasar Indonesia, sementara M6 DM masuk dengan PHEV yang penetrasi pasarnya masih jauh lebih rendah. Secara historis, konsumen Indonesia lebih nyaman dengan hybrid dibanding plug-in hybrid yang menuntut kebiasaan pengisian daya rutin. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin perilaku konsumen jangka panjang, Veloz HEV punya keunggulan struktural yang sulit digeser dalam waktu dekat.
Harga pun jadi faktor. Veloz HEV diposisikan jauh di bawah Kijang Innova Zenix HEV yang menembus Rp500 jutaan. Bagi keluarga yang butuh MPV tujuh penumpang dengan embel-embel ramah lingkungan tapi kantong tidak sedalam itu, Veloz HEV terasa pas, bak gayung bersambut antara kebutuhan pasar dan strategi Toyota.
Landscape persaingan di segmen ini sendiri masih cukup sepi. Suzuki Ertiga punya MHEV, tapi teknologinya mild hybrid, yang dampaknya pada efisiensi tidak sedramatik full hybrid atau PHEV. Mitsubishi, yang sebenarnya punya Xpander HEV di pasar lain, justru memilih membawa Xforce HEV ke Indonesia sejak akhir Juli lalu. Toyota pun, menurut informasi yang beredar, belum berencana menambah model LMPV hybrid baru dalam waktu dekat, fokus memaksimalkan Veloz HEV yang sudah ada dulu.
Dengan minimnya kompetitor langsung, Toyota bahkan mulai melirik peluang ekspor. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) disebut tengah membuka peluang ekspor Veloz Hybrid ke pasar global. Sinyal kepercayaan diri yang tidak main-main. Kalau ekspor benar-benar terealisasi, Veloz HEV bukan sekadar jawara kandang, tapi bisa jadi salah satu produk Indonesia yang mendunia di era elektrifikasi ini.