Rupiahnya saja yang di-lobby, atau strateginya?
Selasa sore, sekitar pukul 15.40 WIB, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumpulkan jajaran eselon satu Kementerian Keuangan bukan di ruang rapat resmi, melainkan di lobby gedung Kemenkeu sendiri. Rapat berlangsung sekitar empat puluh menit, bubar pukul 16.20 WIB. Pemicunya jelas: rupiah yang hari itu menembus level Rp 17.500 per dolar AS.
Bukan angka yang bisa diabaikan.
Sejumlah pejabat hadir dalam pertemuan singkat itu. Sekretaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun ada di sana, begitu juga Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Dirjen Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti, serta Plh Dirjen Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto. Kumpulan nama yang, kalau dibaca, mencakup hampir seluruh lini pertahanan fiskal pemerintah.
Agenda utamanya: merancang strategi membantu Bank Indonesia menahan tekanan nilai tukar yang kian berat.
Purbaya belum buka kartu soal langkah konkret. Tapi bocoran yang beredar cukup spesifik, yakni skema intervensi di pasar surat berharga negara, atau bond market. Bukan strategi baru sepenuhnya. Tapi sinyal bahwa pemerintah mulai serius turun tangan, bukan cuma berdiri di pinggir lapangan.
Seberapa dalam? Seberapa cepat? Itu yang belum ada jawabnya.
Sepanjang tahun ini, tekanan terhadap rupiah datang bertubi-tubi. Kombinasi suku bunga Amerika Serikat yang enggan turun, sentimen risk-off global, dan tekanan neraca berjalan domestik membuat nilai tukar jadi salah satu variabel paling diawasi pelaku pasar. Level Rp 17.500 bukan sekadar angka psikologis, ini zona yang bisa mempertebal biaya impor, mendongkrak inflasi, sekaligus menghajar emiten-emiten dengan utang dolar yang belum ter-hedge.
Intervensi di pasar obligasi, kalau benar dijalankan, bisa jadi solusi dua arah: menstabilkan yield SBN yang ikut tertekan, sekaligus mengirim sinyal ke pasar bahwa pemerintah punya amunisi dan kemauan memakainya. Bak gayung bersambut dengan upaya BI yang selama ini bertarung sendirian di pasar valas.
Bagi investor ritel yang pegang reksa dana pendapatan tetap atau SBN langsung, perkembangan ini patut dicermati, agaknya lebih serius dari biasanya. Intervensi yang efektif bisa menahan kejatuhan harga obligasi lebih dalam. Tapi kalau pasar menilai langkahnya setengah hati, koreksi bisa terus menggelinding. Dan itu cerita yang sama sekali berbeda.