Rp280,4 miliar digelontorkan, dan delapan hari kemudian INET sudah duduk di meja konsorsium internasional di Singapura. Kecepatan itu sendiri sudah bercerita banyak soal betapa seriusnya PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) memasuki bisnis infrastruktur kabel bawah laut.
Pada 15 September 2026, INET merampungkan penyertaan modal di PT Sarana Global Indonesia (SGI) lewat pengambilan 180.000 saham baru senilai nominal Rp18 miliar. Nilai transaksinya jauh lebih besar dari itu: Rp280,4 miliar, dengan selisihnya dicatat sebagai agio saham. Hasilnya, INET kini menggenggam 60% SGI, sementara pemilik lama Chandra Arie Setiawan terdilusi ke 39,9997%. SGI resmi jadi anak usaha.
Bukan akuisisi biasa. SGI berdiri sejak 2000 dan bertransformasi jadi perusahaan EPC kabel laut sejak 2010, dengan portofolio yang, jujur saja, cukup bikin iri. Rekam jejak mereka mencakup Palapa Ring Barat 1.744 km, Palapa Ring Timur 2.071 km, perluasannya 1.247 km, ditambah sejumlah ruas lain dari Sabang sampai Luwuk. Di segmen kabel listrik bawah laut, SGI juga pernah mengerjakan pemasangan kabel daya PLN-WIKA sepanjang 36 km, tiga sirkuit, termasuk proyek interkoneksi Singapura-Malaysia.
Aset fisiknya tak kalah menarik. SGI memiliki Pacific Guardian, kapal kabel khusus sepanjang 115,6 meter berbobot 6.133 GT yang dilengkapi ROV berkemampuan menyelam hingga 2.500 meter, serta tongkang Nostag 10 berukuran 92x28 meter. Kedua armada berbendera Indonesia, artinya memenuhi asas cabotage yang belakangan makin diperketat pemerintah. Ada pula gudang kabel 1.000 meter persegi di Kupang dengan kapasitas tangki 200 km.
Yang membuat investasi ini menarik dari sisi cashflow adalah kontrak pemeliharaan jangka panjangnya. SGI terikat kontrak 15 tahun dengan PT Palapa Timur Telematika sejak 2019 untuk merawat 4.571 km jaringan Palapa Ring Timur, ditambah kontrak dengan PT Len Telekomunikasi Indonesia untuk Palapa Ring Tengah 1.807 km, dan PT Mora Telematika Indonesia untuk jalur Sape-Ende-Kupang-Bajo. Pendapatan berulang semacam ini adalah penyeimbang yang dibutuhkan INET dari sisi profil revenue. Pola cashflow yang stabil dan bisa diprediksi.
"Indonesia adalah negara kepulauan, dan masa depan digital kita secara harfiah terletak di dasar laut. Melalui akuisisi SGI, INET memiliki kemampuan end-to-end untuk membangun, mengoperasikan, dan menjaga jaringan yang menghubungkan Indonesia. Akuisisi ini merupakan investasi untuk memperkuat kedaulatan konektivitas Indonesia," ujar Direktur Utama INET Muhammad Arif.
Delapan hari setelah akuisisi tuntas, INET menandatangani MoU di Singapura pada 23 September 2026 bersama lima mitra untuk membangun Synergy Gateways of Indonesia Cable System, atau SGI Cable System. Panjangnya 6.870 km dengan 14 titik pendaratan: Jakarta, Pontianak, Pangkalan Bun, Banjarmasin, Balikpapan, Banyu Urip, Singaraja, Mataram, Makassar, Palu, Manado, Bitung, Ambon, hingga ujung di Sorong. Barat ke timur, dalam satu sistem.
Konsorsiumnya terbilang kelas berat. FiberHome Technologies Indonesia masuk sebagai mitra teknologi dan pemasok sistem kabel laut, menargetkan seluruh material tiba di Indonesia sekitar September 2027. Nokia menyediakan teknologi jaringan optik berkapasitas tinggi. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) alias Surge bergabung sebagai pengguna kapasitas untuk mendukung ekspansi broadband. NTT Group masuk lewat Weave, yakni PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), perusahaan patungan Surge dan NTT East, sebagai mitra backbone sekaligus distribusi kapasitas.
Dalam konsorsium ini, SGI berperan ganda: pengembang sekaligus pelaksana penggelaran. Pergeseran peran yang tidak kecil, mengingat selama ini SGI lebih dikenal sebagai kontraktor EPC. "Selama lebih dari dua dekade, tim SGI telah menggelar dan menjaga ribuan kilometer kabel di perairan Nusantara. Bergabung dengan INET memberi kami platform, modal, dan skala untuk melangkah ke tahap berikutnya, termasuk pengembangan layanan kabel listrik bawah laut dan pasar regional," kata Direktur Utama SGI Bastian Sembiring.
Spesifikasi teknis SGI Cable System dirancang untuk jangka panjang: 16 pasang serat optik, kapasitas sistem 25 Tbps, usia desain 25 tahun. Target Ready for Service akhir 2028. Sistem ini akan melengkapi ambisi INET membangun jaringan tulang punggung serat optik nasional sepanjang 21.800 km, di mana segmen bawah laut selama ini menjadi mata rantai yang paling sulit dikontrol sendiri.
Analis Stockbit Christian William Munaba, yang bertemu manajemen INET pada 16 September 2026, mencatat bahwa bisnis kabel bawah laut memiliki barrier to entry yang tinggi: perizinan, modal proyek, slot produksi kabel, landing points, rekayasa kelautan, ketersediaan kapal, sampai pengalaman eksekusi. Siapa yang sudah masuk duluan dengan aset selengkap SGI, agaknya punya keunggulan yang tidak mudah direplikasi kompetitor mana pun.
Nilai Rp280,4 miliar setara 7,35% dari ekuitas INET berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026. Bukan angka yang menguras kas. Tapi kalau proyek 6.870 km ini berjalan sesuai jadwal dan permintaan kapasitas data terus melesat seiring ekspansi AI dan pusat data di Indonesia, imbal balik strategisnya bisa jauh melampaui angka itu.