JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Limbah Gaza Lumpuhkan Desalinasi Israel, Krisis Ai...

Internasional

Limbah Gaza Lumpuhkan Desalinasi Israel, Krisis Air Merembet Dua Sisi

Ledakan mikroalga sepanjang 100 kilometer di pesisir Mediterania melumpuhkan lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel, dipicu 45.000 meter kubik limbah mentah Gaza yang mengalir ke laut setiap harinya.

Krisis Air Mengancam Israel Akibat Ledakan Alga Pesisir Mediterania

Sepanjang September 2026, lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel terpaksa menghentikan operasional setelah sistem penyaring mereka tersumbat ledakan populasi mikroalga yang membentang 100 kilometer di pesisir Mediterania. Otoritas Israel merespons dengan memangkas pasokan air di wilayah selatan sekaligus menghentikan irigasi pertanian, kebijakan yang langsung terasa di lapangan.

Akar masalahnya bukan rahasia. Sekitar 90 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza hancur sejak konflik meletus Oktober 2023. Akibatnya, kurang lebih 45.000 meter kubik limbah mentah tumpah ke Laut Mediterania setiap hari, belum termasuk 15.000 meter kubik lainnya yang meresap ke dalam air tanah Gaza. Seluruh lima fasilitas pengolahan limbah di wilayah tersebut sudah lama berhenti beroperasi.

Nitrogen dan fosfor dari limbah mentah itulah yang menjadi "pupuk" bagi mikroalga dan sianobakteri beracun di sepanjang pesisir. Asosiasi Lingkungan Zalul menyebut ini bukti nyata bahwa pencemaran laut tidak tunduk pada garis batas politik. "Pembuangan limbah tanpa pengolahan dari Jalur Gaza ke laut berkontribusi terhadap memburuknya krisis yang berdampak pada fasilitas desalinasi Israel. Air limbah tersebut mengandung nutrisi seperti nitrogen dan fosfor yang menjadi makanan bagi mikroalga dan sianobakteri," ungkap Zalul.

Kalangan akademisi ikut membunyikan alarm. Jack Gilron, Profesor Emeritus di Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University, menilai insiden ini sebagai peringatan keras yang sudah lama seharusnya diantisipasi. "Insiden saat ini semakin menegaskan perlunya persiapan menghadapi ancaman terhadap salah satu sumber utama air minum Israel," tegasnya.

Namun pihak yang paling dihajar justru warga Gaza sendiri. Data OCHA dan UNICEF mencatat 91 persen rumah tangga di sana mengalami kerawanan air parah, sementara 1,1 juta anak-anak hidup dalam ketidakpastian akses air minum harian. Sebagian besar harus berjalan jauh mengangkut jeriken atau bergantung pada truk tangki yang jadwalnya tidak menentu.

"Ini situasi yang sangat buruk dari sisi lingkungan maupun kesehatan masyarakat," kata Omar Shatat, Wakil Direktur Eksekutif Coastal Municipalities Water Utility di Gaza. Warga pengungsi pesisir, tambahnya, menjadi yang paling rentan karena terpapar langsung konsentrasi pencemaran tertinggi. "Laut sudah sangat tercemar, dan orang pertama yang terkena dampaknya adalah warga Gaza serta mereka yang mengungsi," ujar Shatat.

Gambaran lapangan bahkan lebih suram dari sekadar angka. Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Kota Gaza, menggambarkan kondisi pengungsian yang nyaris tak terbayangkan. "Warga Palestina hidup dikelilingi air limbah. Di sanalah mereka makan, mendapatkan air, dan berjalan," ujarnya. Penumpukan limbah padat di kamp pengungsian juga memicu ledakan populasi tikus yang kini mulai merambah permukiman Israel di dekat perbatasan. Pertanyaannya, berapa lama situasi ini dibiarkan?

Sejumlah lembaga kemanusiaan Indonesia berupaya menambal kekosongan itu. LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mendistribusikan 100.000 liter air bersih ke Gaza Utara, DT Peduli memasok 1,078 juta liter pada pertengahan September 2026, dan Relawan Nusantara membangun fasilitas sumber air permanen berkapasitas 200.000 liter per hari di Jalan Al-Bahr. "Semoga bantuan ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk menguatkan masyarakat Gaza. Mereka tidak sendiri. Ada masyarakat Indonesia yang terus berusaha hadir," kata Ridwan, Kepala Divisi Program Kemanusiaan LAZNAS BMH.

Zalul memperingatkan, kalau aliran limbah tidak segera ditangani, dampaknya agaknya akan merembet jauh melewati wilayah selatan Israel. Krisis air ini, entah kebetulan atau tidak, menjadi cermin paling jelas betapa konflik bersenjata bisa memproduksi bencana lingkungan yang tidak kenal batas, menghukum semua pihak secara bersamaan.