Enam kali Auto Reject Atas berturut-turut. Saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) seperti tidak kenal rem sejak 16 September 2026, menguat 9,91 persen ke level Rp1.885 per saham di sesi perdagangan terakhir, setelah sebelumnya parkir di Rp1.075 pada 3 September lalu.
Dalam enam sesi ARA itu, TRUK sudah meroket 810 poin atau 75,35 persen. Hitung lebih panjang: dari posisi Rp258 pada 25 Maret 2026, saham ini sudah melangit 630,62 persen, setara kenaikan 1.627 poin. Kapitalisasi pasar TRUK kini bertengger di Rp819,98 miliar.
Bahan bakar rally-nya jelas: masuknya dua nama besar dari ekosistem kripto Indonesia. Gabriel Rey, CEO platform investasi Triv, bersama Andry Hakim dari Hakimson Growth Capital, mengakuisisi total 20 persen saham TRUK yang sebelumnya dikantongi Catur Dharma Anugerah Surya. Transaksi keduanya dikunci pada 18 September 2026.
Gabriel mengambil porsi lebih besar, 15 persen atau 65,25 juta saham TRUK senilai Rp27,92 miliar, lewat entitas PT Pukul Rata Kanan dengan harga Rp428 per lembar. Andry Hakim via Hakimson Growth Capital menyerok 5 persen atau 21,75 juta saham senilai Rp9,3 miliar, di harga yang sama. Total belanja keduanya: Rp37,22 miliar.
Yang bikin alis naik: harga akuisisi Rp428 itu jauh di bawah harga pasar saat transaksi dieksekusi. Pada penutupan 18 September, TRUK sudah diperdagangkan di Rp1.420. Diskon lebih dari 69 persen terhadap harga pasar. Rezeki memang tidak kemana.
"Akuisisi ini bukan sekadar investasi. Kami masuk untuk membawa strategi baru, memperkuat arah korporasi, dan membuka babak baru bagi TRUK. Fokus kami jelas, mendorong transformasi bisnis, mengoptimalkan potensi perusahaan, dan membangun pertumbuhan lebih kuat ke depan," tegas Gabriel Rey.
Pasar jelas menyambutnya. Tapi ada sisi yang agaknya belum banyak disorot: kondisi keuangan TRUK sendiri tidak sepenuhnya mulus. Sepanjang semester pertama 2026, emiten ini masih membukukan rugi bersih Rp3,75 miliar, lebih dalam dibanding kerugian Rp3,12 miliar di periode sama tahun lalu. Pendapatan pun tergerus tipis dari Rp19,61 miliar menjadi Rp19,24 miliar. Beban langsung memang ikut menyusut dari Rp16,69 miliar ke Rp16,52 miliar, tapi belum cukup untuk membalik posisi dari merah ke hijau.
Bukan kinerja yang sudah ada. Taruhan Gabriel dan Andry justru pada apa yang bisa mereka bentuk dari sini, setidaknya itu klaim manajemen. Rekam jejak keduanya di industri aset digital memang membuat sebagian pelaku pasar penasaran, entah kebetulan atau tidak, nama-nama kripto kerap muncul di tengah rally saham yang tidak terduga.
Bagi investor ritel yang sudah telanjur masuk di harga atas, pertanyaannya sederhana: akankah transformasi yang dijanjikan duo ini terwujud dalam laporan keuangan kuartal-kuartal berikutnya, atau rally ini cuma selebrasi di depan cermin?