JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga TBS Sawit Sumut Turun Rp95 per Kg, Kalteng B...

Bisnis

Harga TBS Sawit Sumut Turun Rp95 per Kg, Kalteng Bertahan di Rp3.782 per Kg

Harga TBS kelapa sawit di Sumatera Utara periode 23–29 September 2026 turun hampir Rp100 per kg, sementara Kalimantan Tengah menetapkan harga lebih rendah dengan faktor K yang berbeda.

Indonesia Warns 139 Palm Oil Mills Over Low Farmer Prices

Memasuki pekan terakhir September 2026, harga tandan buah segar kelapa sawit di dua sentra produksi utama Indonesia bergerak dengan dinamika masing-masing. Sumatera Utara mencatat koreksi yang cukup terasa. Kalimantan Tengah merilis angka penetapan yang lebih tenang.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara menetapkan harga TBS untuk tanaman umur 10-20 tahun di level Rp3.971,11 per kg untuk periode 23-29 September 2026. Angka ini turun Rp95,09 per kg dari periode sebelumnya yang berada di Rp4.066,20 per kg. Koreksi hampir seratusan rupiah dalam satu pekan, bukan penurunan kecil. Eh, maksudnya: bukan penurunan kecil. Angka yang patut dicermati petani plasma.

Seluruh strata tanaman kompak melemah. Tanaman umur 3 tahun kini dihargai Rp3.341,38 per kg, tergerus Rp79,59 per kg. Tanaman tua di atas 25 tahun masuk rentang Rp3.392,50 hingga Rp3.650,47 per kg, dengan penurunan berkisar Rp80-Rp87 per kg. Merata, tanpa pengecualian.

Apa pemicunya? Rata-rata harga CPO lokal dan ekspor Sumut tercatat Rp15.812,59 per kg, dengan harga kernel lokal di Rp13.524,84 per kg. Faktor K yang dipakai dalam kalkulasi ditetapkan 93,74 persen. Kombinasi ketiga variabel itulah yang akhirnya menekan angka akhir TBS di tingkat pekebun plasma, hasil rapat Tim Penetapan Harga TBS pada 23 September 2026.

Berbeda cerita di Kalimantan Tengah. Disbun Kalteng merilis harga TBS umur 10-20 tahun untuk Periode I September 2026 di angka Rp3.782,95 per kg. Lebih rendah dibanding Sumut, meski basis CPO lokalnya tidak terpaut jauh. Rata-rata CPO lokal Kalteng tercatat Rp15.502,13 per kg, kernel lokal di Rp13.645,48 per kg. Faktor K Kalteng ditetapkan 92,31 persen, sedikit di bawah Sumut, yang agaknya menjadi salah satu penyebab selisih harga akhir antarprovinsi itu.

Kepala Disbun Kalteng H. Rizky A. Badjuri menyebut transparansi sebagai ruh dari pengumuman ini. "Informasi harga TBS ini diharapkan dapat menjadi rujukan yang bermanfaat. Langkah ini penting untuk mendukung terciptanya ekosistem perkebunan kelapa sawit yang transparan, berkeadilan, berkelanjutan, dan berdaya saing di Kalimantan Tengah," ujarnya, Jumat (25/9/2026). Rizky menambahkan pihaknya akan terus mendorong kemitraan yang seimbang antara perusahaan dan petani, baik swadaya maupun plasma.

Bagi petani sawit, selisih harga antarprovinsi ini bisa jadi cermin retak dari betapa sensitifnya angka Faktor K terhadap hasil akhir di lapangan. Dengan Faktor K Sumut yang lebih tinggi dan harga CPO yang sedikit lebih kuat, wajar bila harga TBS di sana melampaui Kalteng meski keduanya sama-sama kena tekanan di sisi hilir. Pertanyaannya: apakah koreksi di Sumut ini akan berlanjut pekan depan, atau sekadar fluktuasi sesaat sebelum harga CPO global kembali menguat?