JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rumah Prefab China Serbu Pasar Global, dari Alibab...

Bisnis

Rumah Prefab China Serbu Pasar Global, dari Alibaba ke Depan Pintu

Ekspor bangunan prefabrikasi China melonjak dari US$1,7 miliar ke US$4,3 miliar dalam lima tahun. Di balik tren ini, ada perang harga yang menggerus margin produsen hingga tinggal ribuan yuan per unit.

Rumah dari China Bisa Dibeli Online, Dirakit Sehari Jadi

Nilai ekspor bangunan prefabrikasi China melonjak ke US$4,3 miliar pada 2025, hampir tiga kali lipat dibanding US$1,7 miliar pada 2020. Bukan sekadar statistik perdagangan biasa. Di baliknya ada pergeseran industri yang cukup dramatis: ratusan pabrik yang tadinya mengandalkan pasar domestik kini berpacu berebut pembeli di luar negeri.

Ironisnya, bukan karena ambisi ekspansi global yang terencana. Krisis properti domestik China yang berkepanjangan, ditambah meredanya permintaan unit karantina pasca-pandemi, membuat banyak pabrik kehilangan dua sumber pendapatan utama sekaligus. Hebei Shengtai Integrating Housing di Kota Hengshui adalah salah satu yang terpaksa berputar haluan. Sun Guangqing, kepala produksi dan desain perusahaan yang baru beroperasi 2022 itu, mengakui jalan keluarnya cuma satu. "Ketika penjualan domestik anjlok, pabrik harus mencari pasar lain, dan pasar luar negeri lebih besar," kata Sun.

Produk yang dijual pun berevolusi. Bukan lagi barak pekerja atau unit isolasi berdinding tipis, melainkan rumah kapsul futuristis, kabin lipat mewah, tiny house bergaya Skandinavia, hingga vila modular untuk glamping resort dan properti liburan. Serena He, pendiri Luban Cabin di Linyi, Provinsi Shandong, mencatat permintaan dari sektor pariwisata terus bertumbuh: glamping di Australia dan Selandia Baru, wisata gurun di Timur Tengah, jaringan homestay Eropa, proyek resor Asia Tenggara.

Bagaimana konsumen global memesan? Bisa semudah membuka Alibaba. Pasangan kreator YouTube Grateful Off-Grid dari AS membuktikannya: mereka memesan satu unit rumah modular dari Heshi Integrated Housing Co. lewat platform e-commerce itu, menunggu 30 hari proses produksi, lalu sekitar sebulan perjalanan laut. Paket tiba dalam bentuk kontainer berisi modul-modul bangunan, dan dengan bantuan derek, seluruhnya dirakit menjadi hunian seluas 71,5 meter persegi dalam waktu satu hari.

Harga unitnya US$15.800, sekitar Rp284 juta. Tapi setelah ongkos kirim, tarif impor, dan pajak, total pengeluaran mereka mencapai US$28.689, sekitar Rp516 juta. Mahal? Relatif. Dibanding harga rumah konvensional AS yang dihajar kenaikan biaya material dan kekurangan pekerja konstruksi terampil, angka itu agaknya masih bisa diterima sebagian kalangan.

Data mendukung narasi ini. Robert Dietz, kepala ekonom National Association of Home Builders, menyebut AS mengimpor lebih dari 70.000 kit bangunan prefabrikasi pada 2025, dengan sekitar 40% bersumber dari China. Tren pencarian digital juga mengonfirmasi: kata kunci "Tiny House" dicari lebih dari 450.000 kali per bulan di AS, sementara "modular homes" menembus 201.000 dan "prefab homes" melampaui 165.000 pencarian bulanan.

Keunggulan kompetitif China bukan semata harga, kalau data ini bisa dipercaya penuh. June Liu dari Qingdao Jingcheng Metal Technology menjelaskan bahwa baja, panel insulasi, pintu, jendela, dan komponen lain tersedia dalam satu kawasan di sekitar Weifang. Pelabuhan Qingdao hanya dua jam perjalanan. Rantai pasok domestik yang terintegrasi ini membuat produsen China bisa menyelesaikan satu unit dalam 15 hingga 25 hari, lalu mengirimkannya ke luar negeri dalam tiga bulan. Hao Dong, dosen senior bidang manajemen di University of Southampton, menambahkan bahwa ekspor China tetap tumbuh meski dihantam tarif, gesekan geopolitik, dan gangguan logistik. Persepsi terhadap produk "Made in China" pun, menurut Hao, menunjukkan perbaikan nyata.

Tapi ada sisi gelap yang jarang masuk narasi sukses ini. Perang harga di pasar domestik begitu sengit sampai Sun sendiri mengakui harga rumah expandable double-wing buatannya dipangkas lebih dari separuh menjadi di bawah 20.000 yuan, dengan margin yang tersisa hanya 1.000 hingga 2.000 yuan per unit. Tipis sekali. Pang Hufeng, manajer operasional Hebei Shengshuo Metal Products, bernasib serupa: margin tinggal ratusan yuan, meski perusahaannya kini mengandalkan ekspor untuk 80% penjualan. "Terlalu banyak pabrik mengejar pesanan ekspor, menekan margin dan menciptakan lingkaran yang membuat harga semakin rendah," kata Sun. Ia memperkirakan lebih dari sepertiga perusahaan di industri ini bisa gulung tikar dalam beberapa tahun mendatang.

Fenomena ini juga mulai memantik kekhawatiran di negara-negara Barat. Membanjirnya produk China berharga kompetitif di segmen industri demi segmen, kini termasuk hunian, disebut-sebut sebagai "China shock 2.0". Entah kebetulan atau tidak, ekspansi ekspor ini kabarnya masuk agenda pembahasan pertemuan Trump dan Xi Jinping. Bagi produsen lokal di negara tujuan ekspor, pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: bagaimana bersaing melawan pabrik yang bisa kirim rumah dengan harga di bawah US$1.000 sebelum ongkir?