JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IPO Sepi, EBUS Bergairah: Paradoks Pasar Modal Ind...

Bisnis

IPO Sepi, EBUS Bergairah: Paradoks Pasar Modal Indonesia

BEI mengakui aktivitas IPO 2026 jauh lebih lesu dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun pasar obligasi justru meledak dengan 71 emisi EBUS senilai Rp76,1 triliun. Di sisi lain, enam emiten baru yang melantai pekan ini kompak bertahan di zona hijau, dengan PRDL memimpin dengan kenaikan 81,67% dari harga IPO.

RANS bicara soal isu pencucian uang, bagaimana ceritanya?

Lima perusahaan. Rp1,67 triliun. Itulah potret IPO Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026, angka yang bisa dibilang pucat jika dibandingkan gegap gempita tahun-tahun sebelumnya.

BEI tidak menyangkal. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menyebutnya "lebih sedikit pada tahun ini", pengakuan langka dari otoritas bursa yang biasanya cenderung optimistis. Tapi Saidu langsung memasang pembingkai: keberhasilan BEI, klaimnya, tidak lagi diukur semata dari jumlah transaksi atau nominal penghimpunan dana. BEI kini lebih fokus pada kualitas, dari sisi fundamental, tata kelola, hingga kesiapan perusahaan menjadi emiten publik. Setidaknya itu klaim manajemen.

Pernyataan yang menarik, sekaligus patut dicermati lebih jauh.

Sebab di balik sepinya jalur IPO, ada cerita lain yang sama sekali berbeda. Sepanjang periode yang sama hingga 9 Juli 2026, pasar Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) justru bergeliat dengan 71 emisi dari 43 perusahaan, menghimpun total Rp76,1 triliun. Bukan angka kecil. Selisihnya dengan total dana IPO bahkan tidak bisa disebut kesenjangan, lebih tepat disebut jurang.

Perusahaan-perusahaan Indonesia tidak sedang enggan mencari modal dari pasar. Mereka hanya memilih jalur yang berbeda, dan surat utang ternyata lebih menarik ketimbang melepas saham ke publik. Apakah karena valuasi yang dianggap kurang menggiurkan, atau karena prosedur IPO yang masih terasa berat? BEI menyebut reformasi regulasi sedang berjalan, tapi perinciannya belum jelas.

Pipeline IPO saat ini berisi enam perusahaan dengan target penghimpunan sekitar Rp2,47 triliun. Saidu menyebut komposisi aset didominasi kategori besar, dengan Healthcare sebagai sektor paling menonjol, disusul Consumer Cyclicals, Consumer Non-Cyclicals, dan Basic Materials.

Di lantai perdagangan sendiri pekan ini cukup semarak. Enam emiten baru melantai sepanjang 7-10 Juli 2026: PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS). Semua masih hijau dari harga IPO masing-masing hingga penutupan sesi pertama Jumat.

PRDL jadi bintangnya. Produsen alat diagnostik ini langsung ARA 35% di hari debut, kemudian ARA lagi sehari berikutnya, sehingga investor yang masuk di harga IPO Rp120 sudah mengantongi keuntungan 81,67% hanya dalam dua sesi perdagangan. JELI menyusul di posisi kedua dengan kenaikan 66,11% dari harga IPO Rp900, meski sempat menyentuh Rp2.190 sebelum berbalik ke Rp1.495 di akhir sesi pertama Jumat. Koreksi 31,74% dari puncak dalam sehari. Bukan main.

Pola serupa terulang pada JECX dan BACH. Keduanya sempat membukukan ARA berulang sebelum akhirnya amblas cukup dalam dari level tertinggi, masing-masing 26,92% dan 27,01%. Masih cuan dari harga IPO, tapi investor yang beli di atas sudah nyangkut.

RANS, perusahaan media dan hiburan milik Raffi Ahmad, langsung ARA di debut perdananya dan bertengger di Rp228 atau naik 34,12% dari harga IPO Rp170. EMMI menjadi yang paling kalem dengan kenaikan tipis 4,26%.

Kalau seseorang membeli satu lot dari keenam saham ini di harga IPO, modal yang dibutuhkan sekitar Rp335.200. Pada penutupan sesi pertama Jumat, nilai keranjang itu sudah menjadi Rp435.600, atau naik hampir 30% dalam hitungan hari. Rata-rata kenaikan keenam saham mencapai 35,55%. Angka yang menggoda, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya sebelum sesi kedua buka.

Koreksi tajam JELI, JECX, dan BACH jadi pengingat bahwa ARA beruntun tidak otomatis menjamin harga bertahan di puncak. Momen distribusi bisa datang lebih cepat dari perkiraan. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum yang nyangkut makin ramai?