SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Babak Belur di Semester I, Semester II Buka P...

Finansial

IHSG Babak Belur di Semester I, Semester II Buka Peluang Rebound

Setelah ambles 31,81% sepanjang semester pertama 2026, IHSG berpeluang pulih di paruh kedua, meski analis mengingatkan pemulihannya tidak akan berbentuk V-shape.

IHSG Berpotensi Pulih pada Semester II, Simak Sentimen Penggeraknya

Angka 31,81% itu bukan typo. Sebesar itulah IHSG ambles sejak Januari hingga akhir Juni 2026, menutup perdagangan Jumat (26/6) di level 5.896,13 dan resmi masuk daftar indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini. Investor asing membuang saham domestik senilai Rp 71,68 triliun secara year to date, setara sekitar US$ 3,99 miliar, dalam aksi jual yang agaknya belum menunjukkan tanda-tanda tuntas sepenuhnya.

Semester pertama memang berat. Pasar dihajar bertubi-tubi: rupiah melemah, BI Rate naik, dan yang paling bikin pasar deg-degan adalah ancaman MSCI untuk mendegradasi status Indonesia ke frontier market. Kombinasi itu cukup untuk membuat banyak investor ritel nyangkut di harga atas.

Tapi para analis kini mulai melirik peluang di semester kedua. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai prospek paruh kedua lebih cerah dibanding paruh pertama, meski ia mengingatkan bahwa jalan menuju pemulihan tidak akan mulus. "Semester kedua berpotensi lebih baik dibanding semester pertama, tetapi belum tentu mudah karena volatilitas pasar diperkirakan masih cukup tinggi," kata Liza.

Peluang rebound, menurut Liza, semakin terbuka karena sebagian besar sentimen negatif sudah tercermin pada valuasi saham saat ini. Ada tiga syarat yang harus terpenuhi: rupiah yang lebih stabil, aliran dana asing yang kembali masuk, dan tidak munculnya kejutan kebijakan baru dari dalam maupun luar negeri. Tanpa itu, ruang penguatan indeks tetap sempit. "Peluang rebound tetap ada, terutama apabila rupiah semakin stabil, arus dana asing mulai kembali, serta tidak muncul kejutan baru dari kebijakan global maupun domestik," ujarnya.

Senada, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi memperkirakan pemulihan IHSG berlangsung secara gradual. Bukan ledakan V-shape. Base case Wafi menempatkan IHSG di kisaran 6.000 hingga 6.500 hingga akhir 2026. Skenario optimistisnya, 6.500 hingga 7.000, baru bisa terwujud jika reformasi yang diajukan ke MSCI berjalan kredibel dan rupiah kembali ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Sebaliknya, jika MSCI benar-benar mengkonfirmasi penurunan status Indonesia pada November nanti, indeks bisa terperosok ke 5.400 hingga 5.600.

Liza sedikit lebih optimistis, dengan target akhir tahun di kisaran 7.000 hingga 7.250. Keduanya sepakat soal satu hal: skenario IHSG jatuh di bawah 5.000 butuh guncangan yang benar-benar di luar ekspektasi pasar.

Dari sudut pandang makro, Bank Mandiri menawarkan narasi yang lebih positif. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai penguatan rupiah dan rebound IHSG dalam beberapa pekan terakhir bukan kebetulan, melainkan hasil koordinasi fiskal dan moneter yang semakin solid. "Penguatan rupiah dan rebound IHSG dipengaruhi oleh koordinasi fiskal dan moneter yang solid, serta langkah-langkah kebijakan yang nyata di lapangan," jelas Andry.

Dua minggu terakhir, pasar obligasi Indonesia kembali mencatat inflow setelah sebelumnya mengalami outflow sepanjang tahun. Perbaikan kurva imbal hasil SBN, terutama tenor panjang, mulai menarik kembali minat investor asing ke aset domestik. Cadangan devisa di kisaran US$ 144 hingga 145 miliar, setara lebih dari lima bulan impor, memberikan bantalan yang tidak kecil untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Andry tetap mengingatkan pasar untuk waspada. Sinyal kenaikan suku bunga The Fed bisa memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Risiko eksternal, kata dia, tetap ada.

Untuk strategi portofolio, Wafi merekomendasikan investor selektif di sektor perbankan, energi dan komoditas, konsumer staples, dan telekomunikasi, sambil menghindari emiten dengan isu tata kelola tinggi dan utang valas besar. Liza punya daftar yang lebih spesifik: BBRI, BBCA, BMRI, BBNI untuk perbankan; ICBP dan INDF untuk konsumer; JPFA dan CPIN untuk unggas; TLKM untuk telekomunikasi; serta ANTM, MDKA, dan PTBA di sektor komoditas dan mineral.

Semester kedua mungkin lebih bersahabat. Tapi dengan MSCI masih menggantung dan rupiah yang belum betul-betul stabil, investor yang terburu-buru averaging down perlu tahu: gradual recovery bukan berarti aman dari gejolak.