MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Reli 36 Persen, tapi Yield Obligasi Mulai...

Finansial

Bitcoin Reli 36 Persen, tapi Yield Obligasi Mulai Gigit

Bitcoin bertahan di kisaran USD84 ribu di penghujung Q3 2026, mencatat reli 36 persen sejak pertengahan Agustus. Tapi kenaikan yield obligasi AS ke level tertinggi sejak 2007 mulai bikin pelaku pasar was-was.

Bitcoin Naik 36 Persen, Harga Emas dan Saham Cenderung Mendatar

Sepanjang lima pekan terakhir, Bitcoin melakukan sesuatu yang jarang terjadi: naik 36 persen sementara saham jalan di tempat dan emas justru amblas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius di kalangan analis, apakah aset kripto terbesar di dunia ini mulai bergerak mengikuti logikanya sendiri, terlepas dari dua aset acuan yang selama ini menjadi pasangan korelasinya.

Pada Sabtu, 26 September 2026, Bitcoin bertengger di kisaran USD83.136, terkoreksi tipis 0,4 persen dari hari sebelumnya. Sehari sebelumnya, harga sempat mendekati USD85 ribu setelah tergelincir di bawah USD83 ribu di awal pekan. Volatilitas harian masih ada. Tapi Bitcoin menutup kuartal ketiga jauh lebih kokoh dibanding posisinya di awal Agustus.

Bandingkan dengan SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) yang hanya naik 0,05 persen dalam periode yang sama, atau SPDR Gold Shares (GLD) yang justru turun 1,4 persen. Selisih 36 poin persentase antara Bitcoin dan S&P 500 dalam lima pekan bukan angka yang bisa ditelan begitu saja.

Ada tiga mesin di balik reli ini. Pertama, Departemen Keuangan AS menggandakan program pembelian kembali obligasi pada 19 Agustus, langkah yang menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan dan bertepatan persis dengan awal kenaikan Bitcoin. Kedua, short squeeze turut mengakselerasi momentum, ketika para pedagang yang terlanjur pasang posisi jual terpaksa beli Bitcoin untuk menutup posisi mereka. Tekanan beli semacam ini biasanya mereda cepat setelah posisi short habis tertutup. Ketiga, permintaan institusional: ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk USD999 juta pada 21 September, tertinggi sejak lonjakan serupa pada Oktober 2025. Angka ini agaknya paling berarti dari ketiganya karena sifatnya bisa berkelanjutan minggu ke minggu, tidak seperti dua faktor pertama yang cenderung sementara.

Tapi ada awan gelap. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menembus 5,2 persen pada akhir pekan lalu, menyentuh level tertinggi sejak 2007. Real yield naik dari 2,18 persen pada 1 September menjadi 2,65 persen per 23 September. Imbal hasil obligasi tenor lima tahun bahkan sempat menyentuh 5,03 persen pada 24 September, juga rekor sejak 2007. Ini masalah nyata bagi Bitcoin karena kripto tidak memberikan yield sama sekali. Ketika obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil setinggi ini dengan risiko yang jauh lebih rendah, daya tarik relatif Bitcoin otomatis tergerus.

Di sisi lain, M2 atau jumlah uang beredar AS mencapai USD23,3 triliun per 1 Agustus, naik USD120 miliar dalam sebulan. Tambahan likuiditas seperti ini secara historis jadi angin segar bagi aset berisiko termasuk Bitcoin. Pertanyaannya, cukupkah itu untuk mengimbangi tekanan yield yang terus menanjak?

Dari sisi korelasi, gambarannya lebih berlapis dari yang terlihat di permukaan. Lima pekan terakhir memang Bitcoin dan saham bergerak berbeda arah. Kalau jendela pengamatan diperpanjang ke 90 hari, korelasi Bitcoin dengan emas justru berada di level tertinggi dalam enam tahun terakhir pada pertengahan September. Divergensi lima minggu belum bisa menganulir pola jangka panjang itu.

Indeks VIX ditutup di level 14,21, alias di bawah ambang 15 yang mencerminkan kondisi pasar tenang. Reli Bitcoin ini, bisa jadi kebetulan, terjadi justru ketika pasar saham sedang dalam mode adem-ayem, bukan saat ada gejolak yang biasanya mendorong perputaran aset.

USD80.875 per Bitcoin. Itu harga penutupan pada 18 September, sekitar 4 persen di bawah posisi terkini, dan kini jadi angka yang banyak diperhatikan analis. Kalau yield obligasi terus naik tapi Bitcoin bertahan di atas level itu, baru ada alasan untuk mulai percaya bahwa sesuatu yang struktural sedang bergeser. Sebaliknya, kalau Bitcoin kembali amblas bersamaan dengan kenaikan yield, reli ini kemungkinan besar hanyalah efek short squeeze dan stimulus likuiditas yang sudah kehabisan napas.