MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Populasi Singapura Cetak Rekor 6,21 Juta, tapi Kri...

Internasional

Populasi Singapura Cetak Rekor 6,21 Juta, tapi Krisis Penuaan Mengintai

Singapura resmi melampaui ambang 'super-tua' versi PBB, dengan 21,4% penduduknya berusia 65 tahun ke atas, tepat di saat populasi negara kota itu mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Banyak Warga Asing, Populasi Singapura Capai Rekor 6,21 Juta Jiwa

Singapura resmi menyentuh rekor populasi baru, 6,21 juta jiwa per Juni 2026, naik 1,6% dibanding tahun sebelumnya. Terdengar seperti kabar baik. Sampai kamu lihat komposisinya.

Data yang dirilis Dewan Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura pada 25 September menunjukkan negara kota itu kini masuk kategori masyarakat "super-tua" versi PBB, yaitu ketika setidaknya 21% penduduk berusia 65 tahun ke atas. Proporsinya sekarang 21,4%, naik dari 20,7% pada 2025 dan 13,7% satu dekade lalu. Kecepatan pergeserannya, agaknya, mulai membuat para perencana kebijakan berkeringat dingin.

Mesin utama pertumbuhan populasi bukan lahirnya lebih banyak bayi. Justru warga asing. Jumlah penduduk nonwarga naik 3,7% menjadi 1,98 juta jiwa, menyumbang porsi terbesar kenaikan keseluruhan. Di negara dengan luas wilayah sekitar 730 kilometer persegi itu, lonjakan populasi asing bukan sekadar angka statistik. Pada 2013, Singapura pernah diguncang protes jalanan ketika pemerintah berencana mendorong populasi ke 6,9 juta jiwa pada 2030. Sensitivitas itu belum sepenuhnya hilang, terutama saat biaya hidup dan tekanan lapangan kerja kembali jadi topik hangat.

Tingkat pengangguran masih terkendali di 1,9% pada kuartal kedua 2026. Tapi PHK pada periode yang sama mencapai level tertinggi sejak pertengahan pandemi 2020. Dua data yang saling tarik-menarik, keduanya sama-sama layak dicermati.

Sisi demografisnya lebih serius. Warga Singapura berusia 80 tahun ke atas diproyeksikan mencapai 152.000 jiwa tahun ini, naik dari 145.000 pada 2025, dan melompat 60% dibanding satu dekade lalu ketika angkanya masih 95.000 jiwa. Proporsi kelompok usia kerja (20-64 tahun) sebaliknya menyusut ke 59,3%, turun dari 64,3% pada 2016. Tren ini tidak berbalik arah dalam semalam.

Pertanyaannya: siapa yang nantinya menopang beban fiskal itu? Para sosiolog memperingatkan potensi "gerontokrasi" karena lansia kian mendominasi komposisi pemilih, berpotensi memunculkan ketegangan kepentingan antar generasi. Bukan ancaman yang bisa diabaikan begitu saja di negara yang seluruh sistemnya dirancang untuk efisiensi. Satu sinyal positif: hampir 34% warga Singapura di atas 65 tahun masih aktif bekerja pada 2025, naik dari 24,7% di 2015. Lansia produktif bisa jadi penyangga, bukan beban.

Untuk merespons tekanan demografis ini, Singapura membuka naturalisasi hingga 30.000 orang per tahun selama lima tahun. Reformasi layanan kesehatan pun diarahkan ke pencegahan dan perawatan berbasis komunitas, bukan sekadar bergantung pada kapasitas rumah sakit. Proyeksinya: pada 2035, lebih dari seperempat warga Singapura akan berusia 65 tahun ke atas. Angka yang tidak main-main.

Di sisi ekonomi, kondisinya relatif kondusif. Agustus lalu, Singapura menaikkan proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 4,5%-5,5%, dari estimasi awal 2,0%-4,0%, setelah kuartal kedua mengejutkan banyak pihak dengan ekspansi yang lebih kencang dari perkiraan. Tapi pertumbuhan jangka pendek tidak otomatis menyelesaikan persoalan struktural jangka panjang. Populasi menua, kelahiran rendah, ketergantungan pada tenaga asing, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin kondisi sesungguhnya, adalah kombinasi yang akan terus menghajar Singapura jauh melewati angka-angka 2026.