Tujuh unit trainset produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA ditarik kembali oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) dua pekan lalu. Penyebabnya: ditemukan komponen yang berpotensi fatigue. Sementara itu, penumpang KRL Jabodetabek hari ini masih berjejal di kereta buatan Jepang tahun 1971 yang, ironisnya, belum pernah sekalipun mati di tengah jalan.
Rapat dengar pendapat Komisi VI DPR bersama KAI pada Rabu (23/9/2026) berlangsung alot. Ujungnya, DPR menyetujui impor trainset bukan baru sebagai solusi transisi. Pragmatis? Ya. Tapi keputusan itu menyimpan pertanyaan besar soal ke mana industri perkeretaapian nasional mau dibawa.
Angka-angkanya cukup bikin dahi berkerut. Rata-rata harian penumpang KRL Jabodetabek sudah menyentuh 1,1 juta orang, dengan proyeksi 369 juta penumpang sepanjang 2026. Saat jam sibuk, tiap meter persegi kereta ditempati 8 orang, jauh di atas standar ideal 6 orang per m². Lin Rangkasbitung lebih parah: rasionya 1:12, waktu tunggu bisa 10-12 menit. Bukan sekadar tidak nyaman. Ini sudah masuk kategori risiko keselamatan.
Total kebutuhan trainset tahun ini 105 unit. Stok awal 2026 hanya 102, dan itu sebelum 13 trainset dijadwalkan masuk kandang alias dikonservasi. Gap-nya 13 trainset, hitungan konservatif.
Masalahnya, INKA tidak bisa menambal angka itu. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin membeberkan fakta yang cukup mengejutkan: INKA memproyeksikan kapasitas produksi 8 unit per tahun untuk pesanan 16 trainset, tapi realisasinya cuma 2-3 unit per tahun. Keterlambatan lebih dari setahun. "Di kita, masih ada trainset dari tahun 1977 sebanyak enam unit yang harus dikonservasi, tetapi karena kapasitas bertambah terus, jadi masih dipakai," ujar Bobby. Di Jepang, kereta yang sama sudah pensiun setelah 20 tahun.
Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang tidak menyembunyikan frustrasinya. Ia menunjuk rekam jejak INKA yang, menurut dia, konsisten bermasalah sejak tipe BN-Holec, KFW, hingga iE305 sekarang. Semua produk baru, bukan bekas. Tokyo Metro seri 6000 buatan 1971 justru masih setia melayani rute Bogor, Rangkasbitung, Tangerang, dan Tanjung Priok tanpa insiden berarti. "Tidak ada (insiden). KRL bekas Jepang masih andal semua, buktinya masih jalan 55 tahun hingga kini di Jabodetabek. INKA bila buat KRL selalu bermasalah sejak (tipe) BN-Holec, KFW hingga produk sekarang iE305. Ini menunjukkan bukan hanya kualitas, tetapi reliabilitasnya juga utama," tegasnya.
Deddy juga menyoroti hambatan regulasi. PP Nomor 29 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perdagangan saat ini mengizinkan impor barang bekas hanya jika industri dalam negeri belum bisa memproduksi. Ia mendorong revisi, bukan pencabutan, agar impor tetap diizinkan selama kemandirian produksi belum tercapai. Preseden sudah ada: kapal roro feri boleh diimpor bekas, alutsista pun demikian, meski Pindad dan PAL eksis.
Proyeksi jangka panjang KAI yang paling mencemaskan. Pada 2029, mayoritas trainset akan berusia 45 tahun, titik di mana suku cadang sudah tidak diproduksi dan komponen mulai kelelahan masif. Hingga 2031, ada 87 trainset yang harus diganti. Kapasitas produksi INKA hari ini? Tiga unit per tahun. Kebutuhan idealnya 12-14 unit. Bak gayung yang tidak pernah bersambut.
Untuk 2040, KAI membutuhkan sekitar 260 trainset, mencakup Jabodetabek, Bandung Raya, Semarang Raya, Yogyakarta-Solo, hingga proyek elektrifikasi di Sumatera Utara dan Surabaya Raya. Angka itu, kalau diadu dengan kapasitas INKA sekarang, terasa seperti lelucon yang tidak lucu.
Beberapa anggota Komisi VI dari Fraksi PDI-P masih berharap INKA bisa dipacu lebih keras. Mufti Anam menyebut hambatan utama bukan soal kemampuan teknis semata, melainkan kondisi keuangan yang sudah terkuras. "(INKA) punya kapasitas produksi, tetapi ada hambatan soal modal karena uang sudah habis untuk cost of run di periode-periode sebelumnya. Artinya, kalau ada keberpihakan pemerintah untuk hidupkan INKA, itu bisa," ujarnya. Klaim yang, jujur saja, masih perlu dibuktikan dengan angka konkret, bukan semangat nasionalisme industri semata.
Sepakat impor adalah satu hal. Selama TRL dan MRL INKA masih terjebak di kisaran level 4-5 dari skala 9, impor kereta bekas Jepang itu agaknya bukan solusi transisi. Melainkan solusi tetap yang hanya kita enggan akui.