MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BRI Cetak Laba Rp34,77 Triliun per Agustus, BBRI M...

Finansial

BRI Cetak Laba Rp34,77 Triliun per Agustus, BBRI Masih Tertekan di Pasar

Laba bersih BRI tumbuh 6,63% secara tahunan hingga Agustus 2026, ditopang efisiensi beban bunga dan lonjakan pendapatan dividen. Tapi di pasar sekunder, harga saham BBRI masih nyangkut di zona merah.

Laba BRI Tumbuh 6,6% Jadi Rp 34,77 Triliun hingga Agustus 2026

Laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat Rp34,77 triliun hingga akhir Agustus 2026, tumbuh 6,63% secara tahunan dari Rp32,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini melanjutkan tren positif dari semester I-2026, di mana BRI sudah mengantongi Rp30,86 triliun atau naik 17,42% yoy.

Pendorong utama pertumbuhan laba agaknya bukan dari sisi top line, melainkan efisiensi. Pendapatan bunga memang hanya naik tipis 0,22% yoy menjadi Rp109,67 triliun, tapi beban bunga berhasil dipangkas 6,70% yoy menjadi Rp32,41 triliun. Kombinasi ini mendorong net interest income (NII) naik 3,44% yoy ke Rp77,26 triliun. Bukan efek dramatis, tapi konsisten.

Justru dari pos lain datang kejutan yang lebih menarik. Pendapatan dividen melonjak 43,73% yoy menjadi Rp4,54 triliun. Keuntungan dari peningkatan nilai wajar aset keuangan hampir dua kali lipat, naik 105,68% yoy menjadi Rp5,79 triliun dari sebelumnya Rp2,82 triliun. Dua pos ini, kalau data ini bisa dipercaya, menjadi penopang yang jauh lebih penting dari sekadar angka sampingan.

Dari sisi intermediasi, kredit yang disalurkan BRI menembus Rp1.446,98 triliun, tumbuh 13,66% yoy dari Rp1.273,09 triliun setahun sebelumnya. Total aset melesat 10,53% yoy ke Rp2.127,78 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) terkerek 12,59% yoy menjadi Rp1.655,84 triliun, ditopang tabungan yang naik 14,24% yoy ke Rp623,73 triliun dan deposito yang menguat 15,04% ke Rp582,75 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) pun sedikit mengencang ke 87,39% dari 86,56% pada Agustus 2025.

Satu bayangan tetap menemani pertumbuhan ini. Beban impairment tercatat Rp29,95 triliun hingga Agustus 2026, naik 8,90% yoy. Masif. Di semester I-2026 saja, pencadangan sudah tembus Rp25,51 triliun. Klaim manajemen soal kualitas aset yang terjaga masih perlu dibuktikan seiring siklus kredit yang terus bergulir.

Satu lagi yang patut dicermati: NIM BRI di semester I-2026 berada di 6,40%, turun dari 6,58% di periode yang sama tahun lalu. Kompresi margin ini sejalan dengan tren industri, tapi tetap jadi pertanyaan tersendiri seberapa jauh ruang efisiensinya masih ada. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum menekan laba lebih dalam?

Menjelang pelaporan kuartal III-2026, Sekretaris Perusahaan BBRI Dhanny mengonfirmasi bahwa laporan keuangan per 30 September 2026 akan menjalani limited review oleh akuntan publik sebelum dipublikasikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Narasi fundamental yang solid itu belum cukup untuk menggerakkan harga saham. BBRI ditutup di Rp3.150 pada akhir perdagangan Jumat (25/9/2026), mencerminkan koreksi 13,46% sepanjang tahun berjalan. Investor kawakan Lo Kheng Hong pun dilaporkan memberikan perhatian pada banderol saham di level tersebut, sinyal yang biasanya dibaca pasar seperti gayung bersambut. Apakah ini nilai wajar yang sedang diobral, atau memang ada risiko yang belum sepenuhnya terpricing, itulah pertanyaan yang kini menggantung di benak pelaku pasar.