Edhie Baskoro Yudhoyono punya satu pesan yang terus diulang dalam dua forum berbeda pekan ini, dan bunyinya sama tajamnya: berhenti jadi penonton.
Dalam audiensi kebangsaan bersama Mojang Jajaka Jawa Barat, Kang Nong Banten, Abang None Jakarta, serta para duta pemuda dan olahraga di Rumah Kebangsaan MPR RI pada 24 September, Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu menantang generasi muda untuk melihat gelar dan selempang yang mereka sandang bukan sebagai finish line. "Jangan cuma berhenti dari urusan mahkota. Coba kalian lanjutkan bagaimana gelar juara dan selempang yang kalian miliki hari ini menjadi platform untuk memajukan Indonesia, budaya, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif," tegasnya.
Sehari sebelumnya, pesan serupa disampaikan kepada komunitas Maritim Muda Nusantara. Konteksnya lebih spesifik kali ini: laut Indonesia. Ibas menekankan bahwa kepemilikan geografis berupa perairan yang membentang dari Sabang sampai Merauke tidak otomatis menghasilkan kemakmuran. "Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang apa yang kita punya. Kita sudah punya semuanya. Tetapi apa yang bisa kita ciptakan dari apa yang kita punya hari ini," ujarnya.
Dua forum, satu benang merah: potensi besar Indonesia, baik budaya maupun maritim, masih terlalu banyak mangkrak sebagai modal mentah.
Ibas merumuskan perjalanan yang ia harapkan terjadi dalam tiga langkah sederhana: "Dari budaya menjadi karya, dari karya menjadi ekonomi, dan dari ekonomi menjadi kesejahteraan." Kerangka ini agaknya sengaja dibuat mudah dicerna, karena audiensinya bukan analis atau birokrat, melainkan anak muda berusia dua puluhan yang jauh lebih akrab dengan algoritma ketimbang kebijakan fiskal.
Untuk sektor maritim, Ibas secara khusus mendorong perguruan tinggi membuka lebih banyak program studi yang relevan, mulai dari teknologi kelautan, akuakultur, logistik, industri perkapalan, hingga ekonomi biru. Bukan sekadar konsumen hasil laut, generasi muda didorong tampil sebagai inovator dan wirausahawan di sektor ini. "Kita harus punya ahli dan pakar-pakar maritim untuk masa depan," kata Ibas kepada komunitas Maritim Muda Nusantara.
Di forum ekonomi kreatif, Ibas meluncurkan gagasan berlabel "Satu Anak Muda, 1.000 Karya". Konsepnya: manfaatkan teknologi digital untuk memproduksi konten, produk, dan inovasi yang menjangkau ribuan orang, bukan sekadar lingkaran terdekat. Cerita kuliner lokal, destinasi wisata tersembunyi, sejarah daerah yang belum pernah diangkat, semuanya bahan baku yang tinggal menunggu tangan mau mengolahnya.
Ibas juga menyinggung kecerdasan buatan dan derasnya arus informasi digital. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai konteks kenapa literasi dan berpikir kritis tidak bisa lagi dianggap kemewahan. "Perkuat ilmu, perkuat karakter, perkuat adab kita," serunya, memangkas kalimat menjadi lebih ringkas dari versi aslinya tapi tidak kehilangan nadanya.
Sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat yang hadir turut menawarkan tindak lanjut yang lebih konkret. Dede Yusuf menyebut akan berkomunikasi dengan Menteri Dalam Negeri agar ada payung regulasi yang memperkuat dukungan pemerintah daerah terhadap para duta dan alumninya. Dina Lorenza mendorong pemanfaatan pariwisata dan media digital untuk promosi potensi daerah. Sabam Sinaga membuka ruang kolaborasi lewat program Youth Camp serta akses pendanaan kebudayaan.
Apakah semua ini akan berakhir sebagai foto di media sosial dan sesi tepuk tangan, atau benar-benar melahirkan ekosistem yang Ibas gambarkan, itu yang masih perlu dibuktikan. Entah kebetulan atau tidak, pesan "dari budaya menjadi kesejahteraan" itu terdengar jauh lebih menarik daripada sekadar slogan, kalau memang ada jalur konkretnya.