MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Direktur BYAN Lepas 709.500 Saham di Tengah Drama...

Finansial

Direktur BYAN Lepas 709.500 Saham di Tengah Drama Akuisisi Jhonlin

Alastair McLeod menjual saham BYAN senilai Rp9,48 miliar dalam dua hari, tepat di saat harga saham tengah normalisasi pasca konfirmasi akuisisi 30% oleh Jhonlin Baratama milik Haji Isam.

Bayan Resources cabut force majeure usai diikat akad Haji Isam

Timing-nya patut dicermati. Alastair McLeod, Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN), melepas 709.500 saham perseroan dalam dua transaksi pada 21 dan 22 September 2026, tepat beberapa hari setelah konfirmasi salah satu deal batu bara terbesar tahun ini resmi keluar ke publik.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, McLeod menjual 185.200 saham pada 21 September dengan harga Rp13.352 per lembar, senilai Rp2,47 miliar. Keesokan harinya, ia melepas lagi 524.300 saham di harga Rp13.373, atau Rp7,01 miliar. Total dua transaksi: Rp9,48 miliar. Bukan angka yang menggeser pasar. Tapi sinyalnya menarik.

Setelah aksi jual ini, kepemilikan McLeod di BYAN tergerus dari sekitar 4 juta saham menjadi 3,29 juta saham, berkurang sekitar 17,7% dari posisi sebelumnya. Porsinya di total saham beredar tetap di kisaran 0,01%. Ini bukan divestasi yang mengacak struktur kepemilikan, lebih terasa seperti aksi ambil untung di momen yang dipilih dengan cermat.

Konteksnya perlu diletakkan dengan benar. Pada 16 September 2026, PT Jhonlin Baratama meneken perjanjian jual beli saham bersyarat dengan pengendali BYAN, Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Lewat transaksi ini, Jhonlin Group milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam akan mengambil 10.000.000.500 saham biasa BYAN, setara sekitar 30% dari saham yang beredar. Pengumuman konfirmasi itu keluar 18 September, dua hari sebelum McLeod mulai menjual.

Saham BYAN sudah melalui perjalanan volatilitas yang tidak main-main dalam sebulan terakhir. Ketika rumor keterlibatan Haji Isam pertama berhembus di pertengahan Agustus, harga sempat melesat ke Rp17.275 per lembar, lalu dihajar balik ke Rp10.200 setelah pengumuman force majeure pada 15 Agustus. Meroket lagi begitu konfirmasi akuisisi keluar. McLeod memilih menjual di fase normalisasi, saat harga sudah kembali ke kisaran Rp13.000-an, agaknya setelah kabar revisi RKAB 2026 untuk tiga anak usaha BYAN juga sudah masuk ke pasar.

Apakah ini sekadar profit-taking biasa dari seorang direktur yang kebetulan pegang saham di harga beli lebih rendah? Bisa jadi. Atau ada pembacaan lain soal sejauh mana aksi korporasi ini akan terus mendorong harga. Pertanyaannya, berapa lama narasi Jhonlin ini bisa menopang ekspektasi pasar? Pada saat artikel ini ditulis, BYAN sudah naik 4,01% ke Rp12.325 per lembar, dan pasar tampak masih nyaman dengan cerita masuknya Haji Isam sebagai pemegang saham baru yang besar.