Sejak 2022 hingga pertengahan 2026, wisatawan asing yang datang ke Indonesia telah membelanjakan Rp6,2 triliun lewat QRIS antarnegara, dalam 17,8 juta transaksi. Angka itu lebih dari tiga kali lipat dibanding transaksi outbound warga Indonesia ke enam negara mitra yang nilainya Rp1,85 triliun dari 5 juta transaksi, sehingga net inbound tercatat Rp4,6 triliun.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menyebut posisi ini sebagai capaian yang layak dirayakan. "Kita net inbound, artinya kita menerima banyak pembayaran dari turis-turis yang datang ke Indonesia. Lebih banyak dibandingkan orang Indonesia yang pergi ke enam negara tadi," kata Fili dalam forum FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9).
Enam negara yang sudah terhubung dalam jaringan QRIS antarnegara: Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. BI kini memperluas jangkauan itu lewat nota kesepahaman dengan Hong Kong dan Timor-Leste. Capaian ini pula yang mengantarkan QRIS antarnegara meraih penghargaan 50-in-5 Awards 2026 kategori Kolaborasi dari Digital Public Goods Alliance.
Tapi ada celah yang tidak kecil. Dari total 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025, sekitar 60,23 persen berasal dari negara di luar cakupan QRIS antarnegara. Angka yang agaknya jadi pengingat bahwa potensi sesungguhnya masih jauh dari tergarap.
Untuk menjembatani itu, BI bersama sejumlah mitra meluncurkan Indonesia Travel Pack 2026, panduan digital dalam format e-book yang mengintegrasikan informasi destinasi wisata, konektivitas telekomunikasi, dan pilihan layanan pembayaran bagi wisatawan dari negara yang belum masuk skema QRIS bilateral. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman menjelaskan bahwa paket ini dirancang agar wisatawan tetap bisa bertransaksi mudah meski negaranya belum terhubung.
Konektivitas pembayaran juga tidak berdiri sendiri dari sisi kelembagaan. BI mengoperasionalkan kerangka Local Currency Transaction (LCT) dengan tujuh negara mitra termasuk Uni Emirat Arab, dan yang terbaru adalah kerangka LCT Indonesia-Singapura yang mulai berjalan 31 Agustus 2026 untuk transaksi menggunakan rupiah dan dolar Singapura. Kalau QRIS antarnegara melayani transaksi ritel wisatawan, LCT bekerja di lapisan yang lebih dalam: perdagangan, investasi, pasar keuangan. Dua sisi dari satu koin.
Fondasi merchant-nya pun sudah terbentang. Hampir 46 juta merchant kini terjangkau QRIS di seluruh Indonesia, sekitar 69 persennya pelaku UMKM. Tiap transaksi wisatawan, dengan kata lain, berpotensi langsung mengalir ke warung, lapak oleh-oleh, atau pedagang lokal yang selama ini tak tersentuh sistem pembayaran digital asing.
Deputi Gubernur BI Thomas A.M. Djiwandono mengingatkan bahwa memperluas konektivitas teknis saja tidak cukup. "Tiga fondasi perlu diperkuat, yakni tata kelola yang jelas, termasuk pelindungan konsumen dan pengawasan, proses bisnis yang efisien, serta teknologi yang interoperabel dan berdaya tahan terhadap risiko operasional maupun siber," ujar Thomas. Klaim yang masih perlu dibuktikan dalam praktik, tentu, tapi arahnya sudah benar.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah konektivitas pembayaran bekerja. Rp6,2 triliun sudah menjawab itu. Yang lebih mendesak: memastikan uang dari wisatawan tidak hanya berputar di hotel berbintang dan mal besar, tapi juga menyebar ke pelaku usaha lokal di penjuru daerah. Sebab, konektivitas tanpa pemerataan hanyalah pipa yang mengalirkan air ke satu titik saja.