Sepanjang pekan ini, harga minyak mentah dunia dihajar aksi jual yang cukup deras. Brent ditutup di level US$71,99 per barel pada Jumat (26/6/2026), amblas 4,34% hanya dalam satu sesi. WTI terkoreksi 3,74% ke US$69,23 per barel. Dalam hitungan sepekan, Brent sudah turun 10,65% dan WTI merosot 9,62%, koreksi yang cukup brutal setelah berbulan-bulan bertengger di kisaran US$100. Bukan main.
Katalis utama pelemahannya cukup jelas: pasar mulai mengendurkan premi risiko geopolitik yang selama ini menjadi bantalan harga. Volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pekan ini meningkat ke level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran meletus pada Februari lalu, didorong kesepakatan gencatan senjata yang membuka kembali jalur pelayaran yang sebelumnya terhambat. Ketika tanker mulai lancar melintas, kekhawatiran soal kelangkaan pasokan global otomatis mengempis.
Tapi situasinya belum sepenuhnya beres. Jumlah kapal yang melintas di Hormuz masih jauh di bawah rata-rata historis sekitar 125 kapal per hari sebelum krisis pecah, artinya pemulihan distribusi minyak global baru di tahap awal. Kamis (25/6/2026), sebuah kapal kargo kena proyektil tak dikenal di perairan dekat Oman. Insiden itu sempat memantik lonjakan harga lebih dari 2%, sebelum akhirnya berbalik. Dua pejabat AS menyebut Iran yang melepaskan tembakan ke kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara otoritas Tehran menyatakan keamanan kapal di luar jalur resmi tidak bisa dijamin.
Entah kebetulan atau tidak, optimisme soal membaiknya arus tanker terbukti lebih besar dari rasa takut sesaat itu. Harga kembali tertekan ke bawah.
Dari Venezuela muncul faktor tambahan. Gempa bumi Kamis kemarin memunculkan tanda tanya soal keberlangsungan produksi sekitar 1,2 juta barel per hari. Penilaian awal memperlihatkan fasilitas minyak, kilang, dan terminal ekspor relatif aman karena lokasinya jauh dari episentrum. Gangguan pasokan listrik, bagaimanapun, membuat kepastian operasional masih menggantung.
Fokus pasar sudah bergeser. Bukan lagi soal apakah Hormuz akan ditutup total, tapi seberapa cepat arus pengiriman bisa kembali normal. Selama pemulihan tanker terus berjalan tanpa gangguan besar baru, tekanan pada harga minyak agaknya masih akan berlanjut, meski volatilitas harian tetap tinggi.
Bagi ekonomi global, ini lumayan melegakan. Harga minyak yang melandai dari puncak US$100 ke kisaran US$60-an berarti tekanan inflasi energi mulai berkurang, daya beli masyarakat lebih terjaga, dan proyeksi pertumbuhan 2026 punya sedikit ruang untuk bernapas.
Pertanyaannya tinggal satu: seberapa tahan pemulihan ini kalau satu insiden saja di Hormuz sudah cukup memantik lonjakan 2% dalam hitungan jam?