Sektor perbankan Indonesia sedang menghadapi ujian yang tidak sederhana: likuiditas lebih ketat dari yang tercermin di angka resmi, NIM tertekan, dan semester II-2026 diperkirakan lebih berat dari babak pertama.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight untuk sektor ini, meski secara taktikal untuk tiga bulan ke depan posisinya netral. Analis Victor Stefano menempatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan utama, dengan alasan yang cukup solid: BCA mampu mempertahankan porsi tabungan sekitar 50% dalam lima tahun terakhir sembari menekan eksposur deposito berjangka. "Struktur tersebut mencerminkan kekuatan basis transaksi dan membantu menjaga biaya dana," tulis Victor dalam risetnya. Pertumbuhan dana pihak ketiga BBCA sejak kuartal III-2024 terutama ditarik segmen atas dengan CAGR 13,8%, jauh di atas segmen menengah dan bawah yang masing-masing hanya tumbuh 3,1% dan 4%.
Tapi ada catatan yang mengganjal. BRI Danareksa hanya memproyeksikan pertumbuhan agregat laba bersih perbankan sebesar 4% secara tahunan pada 2026, jauh di bawah realisasi 11% di semester I. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: NIM yang tergerus seiring kenaikan biaya dana, ditambah risiko kredit bermasalah di segmen konsumer dan UMKM yang belum sepenuhnya mereda. Sejumlah bank bahkan sudah memangkas panduan NIM 2026 mereka sebesar 10-20 basis poin.
Mirae Asset Sekuritas melihat masalah yang lebih mendasar. Analis Muhammad Nurkholis Syafruddin, dalam riset bertajuk "Likuiditas Bank-Bank di Indonesia Terlihat Lebih Baik dari Kenyataannya", mengingatkan bahwa LDR yang beredar di angka 92,7% per Agustus 2026 belum mencerminkan tekanan sesungguhnya. Setelah memperhitungkan saldo anggaran lebih pemerintah sebesar Rp 451 triliun yang tersimpan di perbankan, LDR efektif versi Mirae mendekati 97,2%, hampir setara puncak 99,5% pada 2019. Angka itu pun diperkirakan memburuk karena SAL diprediksi turun ke sekitar Rp 200 triliun di akhir tahun. "Perbedaan ini sangat penting karena SAL diperkirakan menurun secara bertahap menuju sekitar Rp 200 triliun pada akhir 2026," tulis Nurkholis.
Kesenjangan antara kredit dan simpanan makin menganga. Kredit sistem perbankan tumbuh 13,3% secara tahunan per Agustus 2026, dengan kredit investasi melesat 23,4%, sementara total deposito hanya tumbuh 7,7%. Dalam delapan bulan pertama 2026, selisih pertumbuhannya sudah 4 poin persentase. Trennya belum berbalik. Bukan angka yang bisa diabaikan.
Meski begitu, Mirae tetap positif pada BBCA karena likuiditas berlimpah dan waralaba pendanaan yang kuat. BRIS juga masuk daftar pilihan, didorong kemampuannya menangkap permintaan produk syariah dan bisnis emas yang jadi jangkar pertumbuhan. Sebaliknya, Nurkholis terang-terangan berhati-hati terhadap bank-bank Himbara besar: tekanan pendanaan marjinal dan risiko kualitas aset dari segmen konstruksi masih jadi momok.
Dari sisi valuasi, beberapa nama sudah cukup murah kalau dilihat dari rasio PE trailing. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat di 6,12 kali, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) di 6,31 kali, dan BRIS di 8,73 kali. Murah, kalau memang itu ukurannya. Pada penutupan Jumat (25/9/2026), BMRI menguat tipis 0,2% ke Rp 4.080, BBNI terkoreksi 0,5% ke Rp 3.500, dan BRIS amblas 3,2% ke Rp 1.510.
Kiwoom Sekuritas, yang mempertahankan enam saham pilihan hingga akhir 2026, memasukkan BBNI dan BRIS dalam daftar itu bersama ANTM, KLBF, BBRI, dan JSMR. Head of Research Liza Camelia Suryanata meringkas logikanya dengan singkat: "Di era suku bunga tinggi, kami lebih pilih quality first, yakni balance sheet sehat, earnings nyata, valuasi masuk akal, dan likuiditas baik."
Target harga dari BRI Danareksa: BBCA di Rp 8.600, BMRI Rp 6.200, BBNI Rp 4.800, BRIS Rp 3.100, BBTN Rp 1.500, BTPS Rp 1.400, dan BNGA Rp 2.100. Semua rated buy, kecuali BBRI yang tidak dirating karena afiliasi.
Pertanyaannya bukan lagi soal mana saham bank yang bagus. Pertanyaannya adalah seberapa dalam investor sudah memperhitungkan bahwa semester II ini tidak akan semudah semester I.