SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  BI Bidik Hong Kong dan Timor Leste untuk Perluas Q...

Ekonomi

BI Bidik Hong Kong dan Timor Leste untuk Perluas QRIS Antarnegara

Bank Indonesia berencana menambah dua negara mitra QRIS Cross Border pada 2026, yakni Hong Kong dan Timor Leste, sebagai bagian dari strategi mendorong devisa dari sektor pariwisata.

Geliat Transaksi QRIS Cross Border

Bank Indonesia tak diam menunggu turis datang. Sambil mendorong kunjungan wisatawan asing, bank sentral aktif memperluas jaringan pembayaran digital lintas negara agar uang yang mereka bawa benar-benar mengalir ke ekonomi domestik.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengonfirmasi bahwa pada 2026 Indonesia akan menambah dua negara mitra baru dalam skema QRIS Cross Border: Hong Kong dan Timor Leste. Pengumuman itu disampaikan Filianingsih pada Rabu (23/9), menandai babak baru ekspansi konektivitas pembayaran yang selama ini sudah berjalan dengan sejumlah negara di kawasan ASEAN.

Ini bukan sekadar urusan teknis perbankan. Di baliknya ada kalkulasi devisa yang cukup serius. Pariwisata masih jadi salah satu sumber penerimaan valuta asing terbesar Indonesia, bersaing ketat dengan ekspor komoditas. Kalau wisatawan bisa bayar langsung pakai dompet digital negara asal mereka tanpa perlu repot tukar uang tunai, friksi konsumsi berkurang dan potensi belanja naik.

Hong Kong menarik sebagai mitra karena volume wisatawan dan pelaku bisnis dari kawasan itu yang tidak main-main. Timor Leste, meski skalanya berbeda jauh, punya nilai strategis tersendiri karena kedekatan geografis dan ikatan ekonomi dengan Indonesia, terutama lewat pintu masuk Nusa Tenggara Timur.

Saat ini QRIS Cross Border sudah aktif dengan beberapa negara tetangga di ASEAN. Penambahan mitra ini agaknya jadi sinyal bahwa BI ingin mendorong interoperabilitas pembayaran melampaui batas kawasan, mengikuti tren global di mana sistem pembayaran cepat lintas batas makin dianggap infrastruktur kritis, bukan sekadar fitur pelengkap.

Pertanyaannya, seberapa cepat adopsi di lapangan bisa menyusul ambisi di atas kertas? Pengalaman dengan negara mitra sebelumnya menunjukkan konektivitas teknis kerap berlari lebih kencang dari literasi pengguna. Wisatawan dan merchant lokal harus sama-sama siap di kedua sisi. Bukan pekerjaan kecil, dan jauh lebih berat dari sekadar tanda tangan di perjanjian bilateral.