Sehari setelah Qualcomm resmi memperkenalkan Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 di Snapdragon Summit, Xiaomi sudah punya produk siap tayang. Xiaomi 18 Pro Max meluncur sebagai ponsel pertama yang mengusung chipset 2 nm tersebut, langkah yang agaknya sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama Qualcomm.
Chipset Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 bukan sekadar upgrade kosmetik. GPU Adreno 850 dengan clock speed 5 GHz mencatat skor AnTuTu v11 di angka 5,1 juta, naik 13 persen di sisi CPU dan 44 persen di GPU dibanding generasi sebelumnya. Chipset ini juga mendukung RAM LPDDR6 dan storage UFS 5.0, plus teknologi FlexCache lewat CPU Oryon yang sudah dikustomisasi Qualcomm.
Tapi performa bukan satu-satunya kartu truf di sini. Xiaomi 18 Pro Max membawa dua kamera beresolusi 200 MP sekaligus, sesuatu yang belum banyak dilakukan pabrikan lain. Kamera utamanya memakai sensor OmniVision Light Hunter 960L berukuran 1/1.28 inci dengan aperture f/1.7 dan OIS. Kamera keduanya periskop telefoto 200 MP, juga ber-OIS, dengan sensor 1/1.56 inci, aperture f/2.4, dan pembesaran optis 3,2x. Kerja sama dengan Leica masih dipertahankan di lensa telefoto, memakai Leica Optical Summilux. Pelengkapnya ada ultrawide 50 MP dan kamera selfie 50 MP.
2,9 inci. Segitu ukuran layar OLED yang nongol di punggung ponsel ini. Fungsinya beragam: viewfinder kamera, notifikasi, game mini, hingga beberapa fitur AI. Bagi yang pernah pakai HP flip, konsepnya tidak jauh berbeda dengan cover screen. Bedanya, layar itu justru menempel di punggung ponsel bar, bukan di bagian depan yang terlipat.
Layar sekunder ini ternyata punya peran krusial dalam aksesori terbaru Xiaomi, Pocket Guitar. Aksesori magnetik ini menempel di bagian belakang ponsel lewat magnet kuat, persis di atas layar sekunder, lalu terbuka menjadi dua bagian di sekitar engsel. Satu sisi berisi deretan kunci untuk tali gitar, sisi lainnya bertekstur dengan tonjolan yang berfungsi sebagai senar. Karena area petikan berada tepat di bawah layar sekunder, tangan kanan pengguna tidak menghalangi tampilan layar saat bermain. Cukup rapi.
Pocket Guitar beroperasi lewat Changba, aplikasi karaoke asal China, dan terhubung via Bluetooth. Ada dua mode bermain: Chord, di mana tangan kiri menekan tombol akord bernomor I hingga VII sementara tangan kanan memetik panel bertekstur, dan Rhythm, mode kasual karena aplikasi otomatis menangani akord. Baterainya 630 mAh dengan klaim daya tahan 30 hari sekali isi, menggunakan USB-C untuk pengisian.
Kompatibilitasnya tidak eksklusif untuk seri Xiaomi 18 Pro. iPhone dengan iOS 14 ke atas pun bisa terhubung ke Changba lewat Bluetooth. Hanya saja fitur layar belakang dan perekaman sekunder tidak tersedia di luar seri Xiaomi 18 Pro. Harganya 599 yuan, atau sekitar Rp1,5 jutaan, dan saat ini baru tersedia di China melalui JD.com.
Soal baterai, Xiaomi 18 Pro Max membawa kapasitas 8.500 mAh berbasis silicon carbon dengan kandungan silikon 32 persen, salah satu yang tertinggi di kelasnya. Fast charging 100W, wireless charging 50W, dan reverse wireless charging 27W tersedia semuanya. Layar utamanya AMOLED LTPO 6,9 inci 120Hz dengan kecerahan puncak 4.000 nits, dilindungi Xiaomi Dragon Crystal Glass 3. Bukan main.
Satu fitur yang mungkin luput dari perhatian: Smart Privacy Display. Sistem ini mematikan piksel layar secara otomatis ketika terdeteksi ada orang lain melihat dari sudut miring, mirip Privacy Display di lini Samsung tertentu. Bisa diaktifkan lewat voice command Xiao AI atau tombol fisik.
Pocket Guitar, entah kebetulan atau tidak, justru jadi cermin dari arah Xiaomi di seri ini: bukan cuma mengejar benchmark, tapi menarik perhatian dengan cara yang tidak terduga. Pertanyaannya tinggal satu: apakah pasar di luar China akan kebagian juga.