SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Sidang PBB Jadi Panggung Perang Kata, Bom Tetap Ja...

Internasional

Sidang PBB Jadi Panggung Perang Kata, Bom Tetap Jatuh di Lapangan

Iran dan Ukraina kompak berdiri di podium PBB menegaskan hak membela diri, sementara negosiasi di balik layar berjalan tersendat dengan saling curiga yang masih tebal.

Negara-negara yang Diserang Tegaskan Hak Membela Diri

Dua perang besar, satu panggung, dan tidak ada yang benar-benar siap berdamai. Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York pekan ini menjadi semacam cermin retak bagi tata kelola dunia: pidato-pidato berapi tentang perdamaian disampaikan sementara bom masih jatuh di lapangan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian tampil di podium Rabu (23/9/2026) dengan narasi yang cukup terang. "Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris. Amerika dan Israel menyerang kami," tegasnya. Kalimat itu bukan sekadar retorika untuk konsumsi domestik, tapi sinyal ke Washington bahwa Teheran tidak akan menelan ancaman Trump begitu saja. Sehari sebelumnya, Trump dari podium yang sama mengancam akan "memusnahkan" Iran jika kesepakatan damai tidak segera tercapai. Pezeshkian dan Araghchi tidak hadir saat Trump berpidato. Kebanyakan anggota delegasi Iran berjalan keluar ruangan. Hanya satu yang tinggal.

Konteks penting yang tidak boleh dilewatkan: gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada Juni 2026 itu sudah runtuh sejak Juli. Masih segar betul. Tim AS yang dipimpin Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu tidak langsung dengan delegasi Iran yang diwakili Menlu Abbas Araghchi di sela-sela sidang, berkomunikasi lewat Qatar sebagai mediator selama hampir tiga jam. Tapi jangan terlalu berharap.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Pezeshkian bicara lebih blak-blakan dari yang ia sampaikan di podium PBB. Ia tidak lagi percaya dengan proses perundingan bersama AS, tidak melihat kebutuhan bertemu Trump selama Washington belum memenuhi kesepakatan yang sebelumnya sudah ditandatangani. "Kami tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dengan mereka akan dicapai," ujar Pezeshkian. Tiga jam pertemuan tidak langsung di New York itu, agaknya, lebih berfungsi sebagai sinyal politik ketimbang kemajuan substantif.

Syarat yang dibawa Teheran ke meja perundingan panjang daftarnya: jaminan jalur aman Selat Hormuz sesuai kesepakatan Iran-Oman, penghentian seluruh operasi militer, pencabutan blokade angkatan laut, plus pembekuan aset Iran dicabut. Washington tetap ngotot soal denuklirisasi penuh. Rubio tidak membantah ada opsi tekanan ekonomi lebih berat, bahkan opsi militer, meski ia menolak memerinci lebih jauh. Jurang antara dua tuntutan itu tidak kecil.

Perang Ukraina-Rusia justru mengalami eskalasi yang mengkhawatirkan menjelang musim dingin. Data ACLED yang dianalisis AFP mencatat 118 insiden serangan Rusia hanya dalam 18 hari pertama September 2026, angka tertinggi dalam satu bulan sejak awal perang kecuali Maret 2022 yang membukukan 174 serangan. Masif. Tren ini bukan kebetulan.

Zelenskyy merespons dengan ancaman balasan yang sama kerasnya: ia berjanji menyasar fasilitas pemanas dan energi Rusia sepanjang musim dingin. "Rakyat Ukraina memahami bahwa musim dingin ini bisa sangat berat bagi kami, tetapi sebagai balasannya kami tidak punya pilihan selain membuat Rusia juga menderita," katanya. Lavrov sudah menegaskan ke Dewan Keamanan PBB bahwa tidak akan ada "jeda" dalam perang. Pernyataan Zelenskyy soal sulitnya menyeret Putin ke meja negosiasi selama kran uang Moskwa belum ditutup terdengar seperti sindiran langsung ke negara-negara yang masih berdagang dengan Rusia. Pertanyaannya, berapa lama dunia masih punya kesabaran menonton ini?

Satu-satunya titik terang yang disebutkan Rubio: kemungkinan gencatan senjata terbatas di sektor ekspor gandum, karena kedua pihak agaknya masih punya kepentingan bersama di sana. Kecil, tapi tidak nihil.

Dua konflik berbeda, satu pola yang sama. Negosiasi berjalan di satu ruangan sementara artileri bekerja di ruangan lain. Sidang PBB tahun ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cerminan realitas, lebih jujur menggambarkan betapa sempitnya kapasitas dunia menghentikan perang ketimbang sidang-sidang sebelumnya.