Nasdaq mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pekan ini, sedangkan S&P 500 tinggal selangkah dari rekor baru. Dalam enam bulan terakhir, Nasdaq sudah naik sekitar 23 persen dan S&P 500 menguat 18 persen. Yang ironis: hampir separuh investor AS justru memperkirakan pasar akan berbalik turun dalam enam bulan ke depan, berdasarkan survei terbaru American Association of Individual Investors. Harga sudah tinggi, tapi keyakinan sudah mulai goyah.
Momen ini berbarengan dengan babak baru di Berkshire Hathaway. Setelah menyerahkan posisi CEO kepada Greg Abel pada awal tahun, Warren Buffett kini resmi melepas kursi Chairman of the Board. Lebih dari lima dekade, dua jabatan itu nyaris identik dengan satu nama. Sekarang keduanya sudah beralih tangan. Bagi sebagian pemegang saham Berkshire, ini sekadar pergantian struktural. Bagi kalangan investor yang lebih luas, ini momen yang agaknya tepat untuk kembali membaca apa sebetulnya yang diajarkan pria 94 tahun asal Omaha itu selama puluhan tahun.
Dalam surat tahunan terbarunya kepada pemegang saham, Buffett menulis sesuatu yang cukup menggelisahkan. "Meskipun pasar saham saat ini jauh lebih besar dibanding saat awal karier kami, para pelaku pasar aktif hari ini tidak lebih stabil secara emosional maupun teredukasi dengan lebih baik. Karena berbagai alasan, pasar saham saat ini jauh lebih menunjukkan perilaku menyerupai kasino dibandingkan saat saya masih muda," tulisnya. Lebih banyak uang beredar, tapi tidak lebih banyak kearifan.
Robert R. Johnson, Profesor Keuangan dari Heider College of Business Creighton University di Omaha, menjelaskan mengapa ini terjadi. Pertama, ledakan informasi di era digital justru berbalik jadi masalah. Dulu investor harus bersabar menunggu laporan ValueLine atau riset sekuritas, sehingga hanya yang serius yang benar-benar membaca. Sekarang semua orang punya akses instan ke ribuan pendapat sekaligus, yang ironisnya tidak otomatis mendongkrak kualitas keputusan. Kedua, industri keuangan modern lebih terdorong memfasilitasi spekulasi dibanding investasi murni karena skema pendapatan berbasis volume transaksi. Aplikasi investasi populer mengklaim telah "mendemokratisasi investasi", padahal yang sebenarnya terjadi adalah demokratisasi spekulasi. Ketiga, prediksi sensasional dan cerita kaya mendadak jauh lebih laku dibanding nasihat membosankan soal dollar-cost averaging ke reksa dana indeks.
Soal prediksi pasar, Buffett pernah berujar dengan sarkas: "Ramalan pasar mungkin memberi tahu banyak hal tentang si peramal, tetapi tidak memberi tahu apa pun tentang masa depan. Nilai utama dari para peramal saham hanyalah membuat para tukang ramal nasib terlihat lebih baik."
Dari sudut pandang historis, kecemasan soal valuasi tinggi bukan hal baru. Dalam surat kepada pemegang saham Berkshire pada 2007, tepat sebelum krisis finansial meletus, Buffett sudah memperingatkan bahaya keyakinan buta bahwa harga aset akan terus naik. "Hampir semua warga Amerika percaya bahwa harga rumah akan terus naik selamanya. Hari ini, negara kita mengalami penderitaan yang meluas akibat keyakinan yang keliru itu. Ketika harga rumah turun, sejumlah besar kebodohan finansial mulai terungkap. Anda baru mengetahui siapa yang berenang tanpa pakaian ketika air laut surut," tulisnya. Kalimat yang, entah kebetulan atau tidak, terasa pas sekali dengan kondisi valuasi sekarang.
Kondisi serupa pernah terjadi pada akhir 1990-an. Antara 1995 dan 1999, S&P 500 melonjak hampir 200 persen, didorong antusiasme terhadap saham-saham internet yang banyak di antaranya belum pernah mencetak laba. Ketika gelembung pecah, ratusan saham teknologi ambruk dan tidak pernah kembali. Amazon terjun hampir 95 persen antara 1999 dan 2001. Apple kehilangan lebih dari 50 persen nilainya dalam satu hari pada 2000. Keduanya bangkit dan bertumbuh menjadi raksasa. Tidak semua bisnis seberuntung itu. Pelajaran dari era dot-com bukan soal timing masuk dan keluar, melainkan soal seberapa kuat fondasi bisnis yang dibeli.
Dari semua ini, ada tiga hal yang konsisten diajarkan Buffett sepanjang kariernya. Yang pertama adalah pengendalian emosi. Kecerdasan tinggi tidak banyak membantu jika seseorang panik saat pasar turun atau rakus saat pasar naik. Harga saham mencerminkan emosi kolektif jutaan orang, dan investor yang bisa tetap dingin di tengah kebisingan itu punya keunggulan nyata. Yang kedua adalah membeli bisnis, bukan sekadar ticker. Selembar saham adalah klaim kepemilikan atas bisnis nyata. Investor yang berpikir seperti pemilik bisnis, bukan trader, cenderung punya kesabaran yang berbeda soal fluktuasi harga harian. Yang ketiga adalah menetapkan batas "cukup" dalam konsumsi. Buffett yang masuk daftar orang terkaya dunia masih tinggal di rumah yang dibeli pada 1958. Bukan akting. Itu strategi: uang yang tidak dihabiskan akan bekerja lewat compounding.
Pertanyaannya, berapa banyak orang yang benar-benar mau menjalankan strategi sepembosanan itu?
Soal compounding, Johnson menceritakan kembali satu anekdot. Suatu ketika Jeff Bezos bertanya kepada Buffett mengapa orang tidak meniru strateginya yang begitu sederhana. Jawaban Buffett pendek: karena tidak ada yang mau kaya secara lambat. Bukan angka kecil yang dipertaruhkan orang yang mengabaikan nasihat ini. Investasi seribu dolar di Netflix saat pertama kali masuk daftar rekomendasi Stock Advisor pada 17 Desember 2004 kini bernilai lebih dari 383.680 dolar per 27 September 2026. Nvidia, direkomendasikan 15 April 2005, mengubah seribu dolar menjadi lebih dari 1.382.954 dolar pada tanggal yang sama. Dua contoh ekstrem, tentu. Tapi keduanya dibangun di atas satu fondasi: pilih bisnis berkualitas, tahan lama.
Greg Abel kini mewarisi mesin yang dibangun Buffett lebih dari lima dekade. Yang lebih berat dari kursi Chairman adalah mewarisi kepercayaan jutaan investor yang selama ini membeli Berkshire bukan semata karena portofolionya, tapi karena filosofi di baliknya.