SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  ENRG Rights Issue Rp4,12 T: Dana Segar untuk Tiga...

Bisnis

ENRG Rights Issue Rp4,12 T: Dana Segar untuk Tiga Blok Migas Utama

OJK telah menyatakan efektif Pernyataan Pendaftaran ENRG untuk rights issue IV senilai Rp4,12 triliun. Dana segar ini mayoritas mengalir ke tiga aset utama: Bentu, Malacca, dan Kangean.

Perhatian ke ENRG Bergeser, Rights Issue Bakal Jadi Sentimen Positif atau Beban?

Lampu hijau dari OJK sudah dikantongi. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) kini tinggal menghitung hari sebelum mesin rights issue keempat mereka resmi berputar, membidik dana segar sekitar Rp4,12 triliun dari pasar.

Melalui surat bernomor S-120/D.04/2026 tertanggal 24 September 2026, regulator menyatakan Pernyataan Pendaftaran ENRG untuk Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV telah efektif. ENRG akan menerbitkan maksimal 13,28 miliar saham baru Seri B dengan nominal Rp100, ditawarkan di harga pelaksanaan Rp310 per saham. Rasionya 2:1, artinya setiap pemegang dua saham lama berhak menebus satu saham baru. Pemegang saham yang tercatat di DPS pada 6 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB yang berhak menerima HMETD. Jika seluruh hak dilaksanakan, dilusi maksimum yang harus diterima pemegang saham lama: 33,33% dari modal ditempatkan.

Dari sisi pemegang saham besar, ada pergeseran yang layak dicermati. PT Shima Global Kapital, yang berhak atas 2,33 miliar HMETD, memilih tidak mengeksekusi haknya dan mengalihkan seluruhnya ke afiliasi, PT Bakrie Kalila Investment (BKI). BKI sendiri akan melaksanakan 2,80 miliar HMETD senilai Rp869,2 miliar, sementara PT Bakrie Capital Indonesia turut mengeksekusi 554,7 juta HMETD senilai Rp171,9 miliar. Entah kebetulan atau tidak, Grup Bakrie justru memperbesar eksposur lewat jalur pengalihan ini.

Lantas, ke mana uangnya pergi? Wakil Direktur Utama ENRG Edoardus Ardianto menyebut sekitar 90% dana akan dialokasikan untuk belanja modal (capex), sisanya 10% untuk modal kerja. "Dari 90% capex ini, alokasinya kami prioritaskan untuk tiga aset besar kami yaitu Bentu, Malacca, dan Kangean. Secara persentase, Bentu hampir 60%, Malacca dan Kangean masing-masing 15%," jelas Edoardus, yang akrab disapa Edo, dalam program virtual bertajuk Positioning for Transformational Growth, Sabtu (26/9/2026). Sisanya disebar ke unit bisnis lain. Secara teknis, dana hasil rights issue akan disalurkan sebagai pinjaman ke anak-anak usaha untuk membiayai pengeboran sumur baru, peremajaan pipa, serta pengembangan fasilitas gas.

Ambisi produksi ENRG tidak main-main. Edo memproyeksikan pertumbuhan produksi migas rata-rata 10% per tahun dalam lima tahun mendatang, dikontribusikan dari aset-aset organik yang sudah ada di portofolio. Untuk 2026 ini saja, target kenaikan produksi minyak sekitar 5%, dengan fokus di Blok Malacca, Siak, dan Blok Kampar. Produksi gas, diakui Edo, bakal relatif flat dalam waktu dekat. Komersialisasi tambahan produksi Blok Gebang baru diharapkan tercapai di semester I-2027.

Pertanyaannya, apakah angka 10% itu realistis? Edo sendiri mengakui laju pertumbuhannya tidak akan seragam setiap tahun. "Ada yang mungkin di bawah 10%, ada yang di atas 10%. Tergantung keberhasilan eksplorasi dan pengembangan," katanya. Kalau data proyeksi ini bisa dipercaya, rata-rata tersebut baru terasa maknanya setelah beberapa tahun berjalan.

ENRG saat ini menggenggam 13 aset hulu migas, 12 di Indonesia dan satu di Mozambik. Sembilan sudah beroperasi komersial, empat masih dalam tahap pengembangan atau eksplorasi, termasuk Buzi di Mozambik, Gebang di Sumatra Utara, South CPP di Riau, dan Bireun Sigli di Aceh. Di luar pertumbuhan organik, manajemen juga membuka pintu akuisisi aset-aset yang sudah beroperasi, baik di pasar domestik maupun internasional, selama memenuhi kriteria cadangan dan kelayakan finansial.

Soal serapan rights issue, agaknya itu bukan masalah. Komitmen Grup Bakrie sudah terkonfirmasi, jalur pengalihannya pun sudah tersusun rapi. Yang lebih krusial adalah apakah Rp4 triliun lebih itu benar-benar berhasil dikonversi menjadi produksi nyata dan laba bersih yang bisa dinikmati pemegang saham minoritas yang ikut terdilusi 33%.