SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Gen Z Kuasai Pasar Modal, tapi Literasi Keuanganny...

Finansial

Gen Z Kuasai Pasar Modal, tapi Literasi Keuangannya Masih Bolong

Lebih dari 60 persen investor pasar modal Indonesia kini berusia di bawah 30 tahun, sementara akun kripto tembus 21 juta. Masalahnya, kecepatan masuk tidak selalu diiringi pemahaman yang cukup.

Bagaimana Generasi Muda Mengelola Risiko Dan Keuntungan

Data KSEI per akhir 2024 cukup mengejutkan: lebih dari 60 persen investor pasar modal Indonesia berusia di bawah 30 tahun, didominasi Gen Z dan milenial muda yang baru saja memasuki dunia kerja. Bersamaan dengan itu, OJK mencatat jumlah akun konsumen aset kripto telah melampaui 21 juta akun per Februari 2026, dengan nilai transaksi sepanjang 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Angka yang tidak kecil, dari kelompok yang baru kemarin belajar mengatur uang saku.

Boom ini bukan kebetulan. Aplikasi investasi yang bisa diunduh gratis, modal awal yang nyaris simbolis, dan banjir konten finansial di TikTok serta YouTube telah meruntuhkan hambatan masuk yang dulu membuat pasar modal terasa eksklusif. Gen Z tumbuh sebagai digital native, dan bagi mereka, buka rekening efek tidak jauh berbeda dengan buka akun e-commerce.

Tapi di sinilah ceritanya mulai menarik.

CEO BMoney Angganata Sebastian mengamati satu pola yang ia sebut konsisten pada investor muda: mereka suka melompat. Alih-alih memulai dari instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang atau obligasi, banyak yang langsung membidik saham individual atau reksa dana saham dengan deretan return historis tertinggi. "Gen-Z ini saya lihat suka lompat. Baru mau mulai investasi, maunya langsung yang return-nya tinggi, jadinya banyak yang langsung main saham sendiri atau nyari reksa dana saham yang deretan return historisnya paling tinggi," ujar Angganata dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust. Akibatnya, tidak sedikit yang nyangkut di instrumen yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Angganata juga mengingatkan soal bahaya janji manis yang berseliweran di media sosial. Tidak ada instrumen investasi yang bisa memberikan keuntungan secara pasti. "Kalau ada manajer investasi yang bilang 'pasti untung', itu dia sudah sama kayak Tuhan. Di dunia nyata tidak ada yang pasti seperti itu," katanya. Sebagai acuan, reksa dana pasar uang wajarnya memberikan return 5,5-6 persen bersih per tahun, obligasi sekitar 7 persen, sementara saham di kisaran 10-15 persen per tahun jangka panjang, dan itupun bukan jaminan.

Dari hampir satu juta nasabah BMoney yang telah terdaftar, sekitar 70-80 persen adalah Gen Z. Karakter pengguna muda ini yang membuat Angganata memperhatikan betul aspek user experience, sampai mengukur jumlah tahapan dari pertama mengunduh aplikasi hingga transaksi pertama. "Gen-Z kalau registrasi terlalu ribet langsung batal," akunya. Kemudahan akses memang krusial, tapi ia menegaskan itu tidak boleh menggantikan pemahaman: "Jangan asal klik, pahami dulu uang kita diputar di mana."

Persoalan literasi keuangan ini bukan sekadar kekhawatiran industri. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa baru menyentuh 62,72%, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 69,57%. Aksesnya sudah ada, pemahamannya yang tertinggal. Gap ini agaknya menjadi sumber masalah.

Hirzi Muhammad Hafiz, Director of Research GIS FEB UIN Jakarta, menilai mahasiswa tidak perlu menjadi ahli untuk mulai berinvestasi, tapi setidaknya harus paham dasar-dasarnya. "Kita juga harus tahulah setidaknya apa saja instrumen-instrumen investasi dan minimal itu tahu dasarnya aja sih. Jadi, enggak perlu kayak harus expert," ujarnya dalam program Money Lab di YouTube Investor Daily. Yang lebih penting, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya pijakan keputusan investasi. Konten flexing di Instagram atau YouTube, seseorang baru dua tahun investasi sudah beli mobil, belum tentu cermin realita. "Jadi, kalau misalnya teman-teman lihat di sosial media ada orang yang baru setahun, dua tahun tiba-tiba langsung beli mobil segala macam flexing-flexing, itu menurut aku mungkin antara dia memang beruntung banget atau memang orang tuanya kaya. Jadi jangan mudah terlena," tambah Hirzi.

Kajian akademis terbaru turut mengonfirmasi gambaran ini. Riset berbasis systematic literature review yang menggabungkan data OJK dan KSEI menemukan empat determinan utama perilaku investasi generasi muda: literasi keuangan digital, persepsi risiko, efikasi diri keuangan, dan pengaruh media sosial. Yang mencemaskan, pola yang muncul cenderung diwarnai overconfidence dan herding behavior. Beli karena orang lain beli, jual karena orang lain panik.

Entah kebetulan atau tidak, lonjakan jumlah jenis aset kripto yang diperdagangkan dari sekitar 501 pada 2023 menjadi lebih dari 1.464 jenis pada 2026 terjadi bersamaan dengan membludaknya investor muda yang baru belajar. Bagi sebagian, ini peluang. Bagi sebagian lain, ladang ranjau.

Generasi ini punya akses yang belum pernah dimiliki generasi investor sebelumnya. Pertanyaannya bukan apakah mereka harus berinvestasi. Melainkan: apakah mereka benar-benar siap menanggung risikonya bila pasar berbalik arah?