Tiga bank pelat merah kompak diam di tempat. Per 28 September 2026, bunga deposito rupiah BRI, BNI, dan Mandiri belum beranjak, sementara BI rate sudah berdiri di 5,75%, selisih yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup mencolok untuk diabaikan begitu saja.
BRI menjadi bank dengan bunga tertinggi di antara ketiganya: 3,00% per tahun untuk tenor 1, 3, dan 6 bulan. Tenor yang lebih panjang, 12, 24, dan 36 bulan, justru lebih rendah, di angka 2,50%. Dibanding posisi sebelumnya, penurunan terjadi di beberapa titik: tenor 1 bulan tergerus dari 3,25%, tenor 3 bulan dari 3,50%, dan tenor 12 bulan ke atas amblas dari 3,00% ke 2,50%. Hanya tenor 6 bulan yang bertahan.
BNI menawarkan struktur sedikit berbeda. Setoran awal minimal Rp5 juta, dengan pilihan tenor 1 hingga 24 bulan. Bunga dimulai dari 2,25% untuk tenor terpendek, naik bertahap ke puncak 2,75% di tenor 6 bulan, lalu turun lagi ke 2,50% untuk tenor 12 dan 24 bulan. Tidak ada diferensiasi berdasarkan besaran nominal, nasabah yang menaruh Rp10 juta dapat bunga yang persis sama dengan yang menaruh Rp1 miliar.
Bank Mandiri paling sederhana strukturnya. Tenor 1 dan 3 bulan diberi bunga 2,25%, sementara tenor 6, 12, dan 24 bulan naik ke 2,50%. Bisa dibuka lewat kantor cabang atau aplikasi Livin' by Mandiri dengan setoran awal Rp1 juta via digital.
Konteks makronya yang bikin angka-angka di atas terasa menarik dikupas. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin secara kumulatif sepanjang Mei hingga Juli 2026, salah satu kenaikan paling agresif dalam sejarah kebijakan moneter domestik. BI rate kini tertahan di 5,75%. Sementara rata-rata industri sudah bergerak jauh: bunga deposito tenor 1 bulan menyentuh 5,1% di Agustus, naik hampir 1% dari posisi April. Tenor 3 bulan sudah melonjak 1,1% ke 5,8%, tenor 6 bulan di 5,6%. Tiga bank BUMN ini, dengan bunga tertinggi 3,00%, masih tertinggal jauh dari pasar. Masif.
Kenapa bisa begitu? Tekanan likuiditas dari pelemahan rupiah dan lonjakan imbal hasil SBN seharusnya mendorong bank berlomba menarik dana pihak ketiga dengan bunga lebih tinggi. Tapi bank-bank besar dengan basis nasabah ritel yang tebal agaknya menghitung bahwa mereka belum perlu bersaing keras, setidaknya untuk saat ini.
Faktor eksternal tidak kalah panas. Harga minyak Brent mendekati level US$100 per barel, dipicu ketegangan geopolitik pasca rencana damai Iran-AS yang kandas. The Fed baru saja menaikkan suku bunga dua pekan lalu, diikuti Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang. Skenario "higher for longer" yang sempat dianggap hampir berakhir kini kembali jadi skenario utama, ibarat pedang bermata dua bagi deposan yang masih parkir di instrumen berbunga rendah.
Di atas semua itu, tingkat bunga penjaminan LPS sudah naik ke 3,75% dari sebelumnya 3,50%. Artinya, selisih antara bunga penjaminan dan bunga yang ditawarkan bank BUMN kini semakin tipis. Simpanan tetap dijamin penuh, tapi imbal hasilnya belum bergerak mengikuti arah kebijakan moneter.
Penyesuaian bunga deposito diprediksi masih akan terjadi hingga akhir tahun, terutama jika FOMC September memutuskan kenaikan lanjutan seperti yang diproyeksikan pasar. Bagi deposan yang memprioritaskan keamanan di atas yield, tiga bank ini tetap pilihan solid. Tapi bagi yang sedang menimbang apakah deposito masih sepadan dibanding instrumen lain, pertanyaan itu makin susah diabaikan.