SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Vucic Tinggalkan Kursi Presiden Serbia, Bidik Posi...

Internasional

Vucic Tinggalkan Kursi Presiden Serbia, Bidik Posisi PM di Pemilu Oktober

Aleksandar Vucic resmi mengundurkan diri sebagai Presiden Serbia, tujuh bulan sebelum masa jabatannya berakhir, dan akan memimpin Partai SNS dalam pemilu dipercepat bulan Oktober.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengundurkan diri dan mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri.

Aleksandar Vucic menutup babak kepresidenannya lebih cepat dari jadwal. Tepat pada 27 September, pria 56 tahun itu berdiri di depan para pendukungnya di Istana Kepresidenan Belgrade dan mengumumkan pengunduran dirinya, tujuh bulan sebelum masa jabatan kedua yang semestinya baru berakhir Mei 2027.

Keputusan ini bukan mengejutkan sepenuhnya. Sejak rapat umum di Belgrade pada 27 Juni lalu, Vucic sudah memberi sinyal bahwa dirinya hanya akan memegang jabatan presidensial "beberapa minggu lagi." Yang dia rencanakan jauh lebih ambisius: memimpin langsung Partai Serbia Progresif, SNS, dalam pemilihan umum dipercepat yang dijadwalkan Oktober.

Konstitusi Serbia memang melarang Vucic mencalonkan diri untuk periode ketiga sebagai presiden. Tapi tidak ada yang melarangnya bergeser ke kursi perdana menteri. Kalau SNS berhasil membentuk pemerintahan baru, Vucic berpeluang tetap menggenggam kendali pemerintahan Serbia dari jalur yang berbeda. Perpindahan jalur yang, agaknya, sudah dikalkulasi matang.

Ketua Parlemen Ana Brnabic mengisi posisi presiden interim hingga pengganti definitif terpilih, sesuai ketentuan konstitusi yang sama.

"Saya melayani kalian semua dan tanah air kami Serbia dengan jujur dan hormat sepanjang masa kepresidenan saya. Ini hanyalah awal," kata Vucic dalam pidato perpisahannya, dikutip DW.

Tapi pidato itu disampaikan di bawah tekanan politik yang tidak ringan. Bermula dari tragedi November 2024 di Kota Novi Sad: kanopi stasiun kereta api ambruk, 16 orang tewas. Insiden itu jadi katalis kemarahan publik yang sudah lama tersimpan, eh, lebih tepatnya: meledakkan amarah yang selama ini diredam. Korupsi sistemik, ekonomi yang stagnan, erosi demokrasi, semuanya tumpah sekaligus.

Gelombang demonstrasi melanda kota demi kota, dipimpin mahasiswa dan kelompok oposisi. Cukup keras sampai dua menteri pemerintahan ditangkap atau mundur pasca-tragedi Novi Sad. Pemerintah Serbia membantah tuduhan massa, tapi kerusakan politiknya sudah terlanjur dalam.

Bukan main. Satu dekade lebih Vucic mendominasi panggung politik Serbia, dari wakil perdana menteri (2012-2014), perdana menteri (2014-2017), hingga presiden (2017-sekarang), dan kini ia harus membuktikan diri dari nol lagi.

Pemilu Oktober nanti bukan kontestasi biasa. SNS akan berhadapan langsung dengan koalisi Students Win, gerakan antikorupsi yang menggabungkan elemen mahasiswa dengan partai-partai oposisi. Pertanyaannya, berapa lama modal politik Vucic masih bisa bertahan menghadapi arus yang kali ini terasa berbeda?

Apakah perpindahan kursi ini memberinya amunisi baru atau justru taruhan yang mahal, jawabannya menunggu di kotak suara.