Hanya 15 juta barel minyak Iran yang masih mengapung di lautan, dan jam terus berdetak. Itulah gambaran yang dilukiskan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancaranya dengan Fox News' Sunday Morning Futures pada 27 September, saat ia menyebut ekonomi Teheran sedang berjalan menuju tembok dalam hitungan dua minggu.
Kalkulasinya lugas. Pengiriman minyak terakhir Iran kemungkinan besar menuju Tiongkok, dan begitu kargo itu sampai, Teheran "tidak akan punya apa pun lagi untuk ditukar dengan apa pun." Bukan retorik kosong, ada angka konkret di belakangnya.
Konteks yang membingkai pernyataan ini penting. Sejak runtuhnya Nota Kesepahaman dengan Iran pada Juli lalu, Washington menerapkan apa yang mereka sebut Operation Economic Outcast: blokade menyeluruh yang memutus akses masuk-keluar kapal dari pelabuhan Iran sekaligus menargetkan negara dan perusahaan asing yang nekat berbisnis dengan Teheran. Bukan tekanan biasa.
Selat Hormuz, jalur sempit yang menentukan nasib pasokan energi global, jadi panggung utama ketegangan ini. Pekan lalu Iran mengajukan proposal gencatan senjata tujuh hari, dengan tawaran membuka kembali selat tersebut sebagai kartu negosiasi. Trump menolak mentah-mentah. Agaknya Washington menghitung bahwa posisi tawar mereka sekarang terlalu kuat untuk berkompromi di titik ini.
Bessent justru mengklaim Selat Hormuz tidak benar-benar lumpuh seperti yang digambarkan Teheran. Rata-rata aliran minyak melalui jalur itu kini mencapai 15 hingga 22 juta barel per hari, angka yang secara mengejutkan stabil dibandingkan volume pra-konflik sekitar 20 juta barel per hari. Militer AS, menurut klaimnya, mengawal kapal-kapal melalui rute dekat pesisir Oman. Lebih dari 1 miliar barel minyak diklaim sudah melintas ke pasar internasional sementara minyak Iran diblokir. Kalau data ini bisa dipercaya, blokade itu bekerja satu arah: menghajar Iran tanpa menghentikan pasar global.
Di Teheran, narasi yang berkembang justru berbeda. Hanya beberapa jam setelah Bessent berbicara, Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, tampil di sebuah upacara di Teheran dan menegaskan bahwa industri minyak bukan sekadar sumber devisa, melainkan bagian integral dari kekuatan dan keamanan nasional. Safavi bahkan mengutip pidato pelantikan Eisenhower yang pernah menyebut Iran sebagai negara terpenting di peta dunia karena kombinasi minyak dan posisi geografisnya. Pilihan referensi yang tidak biasa dari seorang jenderal.
Safavi menyebut lokasi geografis dan cadangan energi Iran sebagai "sumber kekuatan" dan "alat tawar-menawar" yang nyata dalam geopolitik kawasan. Kalimat itu terasa seperti respons langsung terhadap tekanan Washington, meski tidak disampaikan sebagai balasan resmi.
Trump sendiri, dalam percakapan terpisah dengan Axios pada hari yang sama, mengakui pembicaraan AS-Iran masih mungkin berlanjut pekan ini. Tapi ia menambahkan catatan pedas: Iran sudah "memanfaatkan pengaruhnya terlalu jauh" dan tawaran Teheran bukan kesepakatan yang ia inginkan. Bukan sinyal yang hangat.
Tujuan sebenarnya dari tekanan ekonomi ini, menurut Bessent, bukan semata membuat Iran sengsara. Washington ingin memastikan bahwa jika kesepakatan akhirnya tercapai, Iran benar-benar mematuhinya karena mereka tidak punya pilihan lain. "Mereka terisolasi dari dunia. Mereka adalah negara paria," kata Bessent, tanpa basa-basi.
Dua minggu adalah waktu yang sangat pendek di geopolitik. Tapi jika kalkulasi Bessent benar, Iran akan masuk ke meja negosiasi berikutnya dengan tangan jauh lebih kosong dari sebelumnya.