SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Uang Primer Juni 2026 Tembus Rp 2.228 Triliun, Laj...

Ekonomi

Uang Primer Juni 2026 Tembus Rp 2.228 Triliun, Laju Pertumbuhan Sedikit Melambat

Bank Indonesia mencatat uang primer (M0) adjusted tumbuh 13,8% yoy pada Juni 2026, sedikit meredup dari 14,2% di bulan sebelumnya, meski likuiditas disebut tetap terjaga.

Uang Primer Naik 13,8%, Bank Indonesia Pastikan Likuiditas Terjaga

Posisi uang primer (M0) adjusted Indonesia per Juni 2026 tercatat Rp 2.228 triliun, naik 13,8% secara tahunan. Angka ini meningkat dari posisi Mei 2026 yang sebesar Rp 2.214,6 triliun, meski laju pertumbuhannya sedikit tergerus dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 14,2% yoy.

Dua komponen utama menopang angka ini. Uang kartal yang diedarkan tumbuh 14,0% yoy, dengan nilai Rp 1.314,8 triliun. Giro bank umum di Bank Indonesia adjusted meningkat 12,7% yoy menjadi Rp 852 triliun. Agaknya pelambatan tipis di sisi giro inilah yang menekan laju M0 keseluruhan, eh, yang membikin laju M0 keseluruhan sedikit kehilangan tenaga.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyebut kondisi likuiditas sistem keuangan tetap terjaga. "Uang Primer (M0) Adjusted pada Juni 2026 tumbuh 13,8% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 14,2% (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp 2.228,0 triliun," ujar Ramdan dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).

Satu hal yang perlu dipahami: BI memakai metodologi M0 adjusted yang sudah memperhitungkan dampak kebijakan insentif likuiditas. Bukan angka mentah. Pendekatan ini, menurut bank sentral, memberikan gambaran yang lebih akurat soal kondisi uang beredar. Bisa jadi angka nominalnya terlihat besar, tapi konteks kebijakannya sudah diserap ke dalam kalkulasi.

Perlambatan 0,4 poin persentase dari Mei ke Juni memang kecil. Tapi tren seperti ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal awal, biasanya mulai diendus pasar, terutama bila berlanjut beberapa bulan berturut-turut. Sejauh ini BI tampak nyaman dengan laju ini, seiring upaya menjaga keseimbangan antara mendorong kredit dan menjinakkan tekanan inflasi. Bukan perkara gampang, apalagi bayang-bayang ketidakpastian eksternal belum juga angkat kaki.