Dua baterai rudal Patriot tambahan sudah bergerak menuju Arab Saudi dan Qatar. Pengiriman itu, dikonfirmasi Axios mengutip dua pejabat AS dan seorang sumber regional, bukan manuver defensif biasa. Ini sinyal bahwa Washington serius mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang.
Satu baterai diarahkan ke Arab Saudi untuk melindungi fasilitas minyak utama kerajaan, satu lagi ke Qatar untuk mengamankan infrastruktur gas alam. Latar belakangnya: sejak awal Agustus, para pemimpin Riyadh dan Doha sudah kompak mendesak Trump agar tidak menghantam infrastruktur energi Iran. Mereka khawatir pembalasan Tehran justru akan menyasar ladang minyak dan gas mereka sendiri. Desakan itu, menurut pejabat AS yang dikutip Axios, menjadi faktor kunci yang mendorong Washington memilih tekanan ekonomi ketimbang operasi militer skala penuh, setidaknya untuk saat ini.
"Saat ini" bisa berubah cepat. Trump menegaskan tengah mempertimbangkan serangan udara lanjutan. "Sekarang saya harus mengambil keputusan, apakah Iran menandatangani perjanjian itu atau perjanjian itu tidak akan ada lagi," katanya. Kapal induk USS Theodore Roosevelt berangkat dari San Diego pada 27 September dan diperkirakan tiba di kawasan sekitar pertengahan November. Kelompok Kesiapan Amfibi Makin Island, membawa ribuan personel Korps Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-13, berlayar sehari setelahnya dan diprediksi merapat akhir November.
Iran tidak pasif. Pada 29 September, Korps Garda Revolusi Islam menerbitkan surat terbuka kepada rakyat Amerika lewat Sepah News, merinci apa yang mereka klaim sebagai kerusakan militer AS: lebih dari 200 drone strategis, 12 pesawat tanker dan angkut, 30 jet tempur, serta sedikitnya satu pesawat AWACS disebut telah hancur. Lebih dari 350 unit fasilitas dan infrastruktur pangkalan Amerika diklaim luluh lantak, dengan kemampuan operasional 18 pangkalan disebut sempat mendekati titik nol.
Angka-angka itu perlu dicermati. Tapi konfirmasi parsial datang dari media Barat sendiri. The Washington Post, menggunakan lebih dari 100 citra satelit resolusi tinggi, mengidentifikasi 228 struktur dan peralatan yang rusak di 15 fasilitas militer AS. BBC Verify menemukan kerusakan di sedikitnya 20 situs militer yang tersebar di delapan negara. Laporan Inspektur Jenderal Pentagon pada September mencatat empat F-15E, satu F-35A, satu A-10, dua belas KC-135 tanker, serta lebih dari 30 drone MQ-9 dalam daftar kehilangan atau kerusakan berat. Selisih angka antara klaim IRGC dan catatan Pentagon memang ada. Kedua pihak setuju bahwa kerusakannya masif.
Naval Support Activity Bahrain jadi contoh paling konkret: kerusakannya cukup parah hingga fungsi komando terpaksa dipindah ke Amerika Serikat. Maximilian Bremer, pakar kekuatan udara yang dikutip Washington Post, menyoroti bagaimana kerusakan fasilitas semacam itu berdampak pada kemampuan operasional jangka panjang, jauh melampaui sekadar kerugian peralatan sesaat.
Front diplomatik ikut bergerak, agaknya dengan kecepatan yang berbeda dari front militer. Iran dilaporkan telah menerima tanggapan AS terkait proposal gencatan senjata. China kembali mendesak kedua pihak kembali ke meja perundingan dan menghormati nota kesepahaman yang ada. Menariknya, desakan Beijing itu muncul berbarengan dengan manuver militer Washington yang justru terus menggelar kekuatan di kawasan.
Dari Baghdad, kabar yang disambut Tehran: pasukan AS dan Inggris resmi hengkang dari Irak setelah Operasi Inherent Resolve, kampanye anti-ISIS yang berjalan 12 tahun, dinyatakan berakhir. Trump menyebut kampanye itu "petualangan yang sangat mahal menuju neraka". Bukan berarti tutup buku sepenuhnya, karena Washington menegaskan masih bisa kembali menyerang Irak jika mendeteksi ancaman dari wilayah tersebut. Pasukan yang ditarik dipindahkan ke Yordania sebagai cadangan, berfokus pada sel-sel ISIS di Suriah.
Tudingan lain mewarnai lanskap geopolitik kawasan. Press TV melaporkan Netanyahu dituduh merancang operasi bendera palsu yang melibatkan pesawat maskapai flydubai rute Dubai-Tel Aviv, yang melakukan pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi, setelah insiden di kokpit pada 30 September. Sumber yang dikutip Press TV menyebut operasi itu dibahas selama kunjungan rahasia Netanyahu ke Uni Emirat Arab, dirancang untuk menyeret Trump ke konflik baru dengan Iran, dan terkait kalkulasi politik Netanyahu menjelang pemilu parlemen Israel. Catatan penting: Press TV tidak mengungkap identitas sumber dan tidak menyajikan bukti. Belum ada tanggapan dari Israel, UEA, maupun AS.
Pertanyaannya, berapa lama Washington sanggup menopang ritme eskalasi ini? Perbaikan fasilitas, penggantian alutsista, pemindahan personel, dan penataan ulang logistik semuanya butuh anggaran yang tidak kecil. Bisa jadi meja perundingan yang akhirnya menang, bukan karena niat baik, melainkan karena dompet yang mulai tipis.