Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, industri sawit Indonesia mengantongi nilai ekspor kumulatif US$23,26 miliar, tumbuh 10,92 persen dari US$20,97 miliar di periode yang sama tahun lalu. Pendorongnya tidak terlalu misterius: rata-rata harga CPO global sepanjang Januari-Juli 2026 tercatat US$1.137 per ton, naik dari US$1.075 per ton di periode sama 2025. Selisih US$62 per ton itu, dikalikan jutaan ton volume, cukup untuk menopang angka kumulatif yang solid.
Tapi Juli sendiri lain cerita. Nilai ekspor bulan itu US$3,81 miliar, tergelincir 2,89 persen dari US$3,92 miliar di Juni. Volume pengapalan pun terkoreksi 2,67 persen, dari 3,275 juta ton menjadi 3,188 juta ton. Yang paling dalam jatuhnya: ekspor CPO mentah amblas 25,70 persen ke hanya 249.000 ton. Harga rata-rata CPO ekspor Juli juga sedikit lebih luntur, US$1.168 per ton versus US$1.174 sebulan sebelumnya.
Di sisi produksi, angkanya justru bergerak sebaliknya. "Total produksi CPO dan PKO pada Juli 2026 mencapai 5,37 juta ton, tumbuh 1,87 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 5,27 juta ton," ungkap Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam keterangan resmi. Secara kumulatif Januari-Juli 2026, produksi CPO dan PKO nasional tercatat 35,65 juta ton, naik 6,45 persen dari 33,49 juta ton setahun sebelumnya. Produksi tumbuh, ekspor bulanan tidak otomatis ikut.
Menarik dicermati pergeseran peta tujuan ekspor di Juli. Uni Eropa mencetak lonjakan permintaan bulanan tertinggi, volumenya melonjak 40 persen ke 104.000 ton. Amerika Serikat naik 20 persen ke 44.000 ton, Afrika terkerek 17 persen ke 61.000 ton, China tumbuh tipis 4 persen ke 25.000 ton. Sebaliknya, Rusia anjlok 69 persen, India turun 20 persen, Malaysia 32 persen, Pakistan 17 persen. Penurunan ke Rusia sedalam itu, jujur saja, patut dicermati lebih jauh: gangguan logistik, persoalan pembayaran, atau pergantian pemasok?
Secara kumulatif Januari-Juli 2026, China masih jadi bintang dengan pertumbuhan ekspor 30 persen dibanding setahun lalu, disusul Malaysia 14 persen dan Afrika 5 persen. India, yang biasanya bertengger di posisi pasar terbesar kedua atau ketiga, justru tergerus 20 persen. Bukan angka kecil untuk pasar sebesar itu.
Di dalam negeri, konsumsi Juli 2026 mencapai 2,27 juta ton, naik 3,35 persen dari bulan sebelumnya. Biodiesel jadi pendorongnya. Serapan CPO untuk bahan baku biodiesel melonjak 13,59 persen ke 1,285 juta ton, bak gayung bersambut dengan mandatori B40 yang tengah berjalan. Konsumsi pangan justru menyusut 8,31 persen ke 805.000 ton.
Dengan stok awal tahun 2,068 juta ton, ditambah total produksi, dikurangi konsumsi dan ekspor, serta memasukkan impor 38.000 ton, stok akhir sawit Indonesia per Juli 2026 berada di 2,758 juta ton. Agaknya masih nyaman di level itu. Tidak ketat, tidak juga kebanjiran.
Bagi pemegang saham emiten perkebunan, angka kumulatif yang solid ini kabar baik untuk realisasi pendapatan paruh pertama. Pertanyaannya: apakah koreksi Juli sekadar gangguan sesaat, atau sinyal bahwa tekanan permintaan global mulai terasa masuk ke kuartal ketiga?