Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kena hajar jual masif pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, amblas 11,45 persen ke level Rp2.010 dengan nilai transaksi menembus Rp467,1 miliar dan volume 221,64 juta saham berpindah tangan hanya dalam sehari.
Ini bukan tekanan biasa. TPIA sudah ARB lima kali beruntun, mengakumulasi kejatuhan lebih dari 70 persen sejak awal tahun. Dalam satu minggu terakhir saja, saham ini kehilangan hampir separuh nilainya. Pasar lagi panik, dan kepanikan jarang butuh logika.
Dua katalis negatif bergerak bersamaan, saling memperkuat bak efek domino. Pertama, TPIA resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, dengan tanggal efektif 1 Juni 2026. Secara historis, puncak aksi jual passive funds biasanya terjadi pada hari bursa terakhir sebelum tanggal efektif, yang berarti 29 Mei 2026 berpotensi jadi titik tekanan paling brutal. Porsi TPIA di iShares MSCI Indonesia per 20 Mei 2026 tercatat 0,74 persen, setara sekitar Rp38,72 miliar. Kecil memang, tapi efek psikologisnya ke seluruh kelompok saham Grup Barito jauh lebih besar dari angka itu.
Kedua, dan ini yang bikin pasar benar-benar oleng, adalah rumor soal margin call akibat repo saham. Beredar dokumen yang menyebut saham TPIA dijaminkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan Prajogo Pangestu sendiri sebagai agunan fasilitas kredit perbankan.
Bursa Efek Indonesia langsung meminta klarifikasi, dan TPIA merespons cepat. General Manager of Legal & Corporate Secretary TPIA Erri Dewi Riani mengonfirmasi bahwa BRPT dan Prajogo Pangestu telah menjaminkan total 3,675 miliar saham TPIA kepada tiga bank kreditur: BNI, BTN, dan HSBC. Rinciannya: 2 miliar saham ke BNI sejak September 2021, 175 juta saham ke BTN sejak Desember 2024, dan 1,5 miliar saham ke HSBC sejak November 2023.
Manajemen menegaskan jumlah saham yang dijaminkan belum menembus ambang 5 persen dari total saham beredar, sehingga tidak berdampak material pada struktur pengendalian. "Kami juga mendapatkan konfirmasi bahwa fasilitas pinjaman BRPT dari Bangkok Bank telah dilunasi," kata Erri dalam keterbukaan informasi BEI. Manajemen BRPT sendiri membantah keras risiko margin call, menyebut porsi saham TPIA yang dijaminkan sangat kecil, di bawah 10 persen dari total kepemilikan mereka. Struktur penjaminan yang ada berbasis aset tetap fisik seperti kompleks pabrik Cilegon, bukan instrumen spekulatif.
Tapi panic selling sudah terlanjur jalan. Begitulah cara pasar bekerja.
Justru dari balik turbulens inilah gambaran sesungguhnya TPIA mulai terlihat lebih jelas. Perusahaan yang bertahun-tahun identik sebagai produsen olefin dan polyolefin di Cilegon itu kini sudah jauh melampaui identitas lamanya. Jauh sekali.
Pada 1 April 2025, TPIA bersama Glencore mengakuisisi Shell Singapore, yang kemudian berganti nama menjadi Aster Energy and Chemicals Park. Kompleks ini mencakup kilang minyak di Pulau Bukom berkapasitas 237.000 barel per hari dan pabrik petrokimia di Pulau Jurong. Akuisisi Chevron Phillips Singapore Chemicals menyusul pada Mei 2025, mempertebal cengkeraman mereka di Singapura sebagai hub petrokimia terbesar Asia Tenggara.
Hasilnya langsung terpantul di laporan keuangan. Kuartal I-2026, pendapatan melesat 285,80 persen secara tahunan menjadi US$2,40 miliar, ditopang segmen energi yang menyumbang sekitar 60 persen senilai US$1,45 miliar. Laba bersih turnaround dari rugi US$23,6 juta di kuartal I-2025 menjadi US$205,1 juta, rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan. EBITDA kuartal pertama mencapai US$421 juta, dengan likuiditas US$3,8 miliar. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya penuh, agaknya belum sepenuhnya dicerna pasar di tengah kepanikan saat ini.
Ekspansi TPIA tidak berhenti di sisi hulu. Perusahaan kini membangun jaringan anak usaha yang mencakup shipping (PT Chandra Shipping International, Chandra Maritime International Pte Ltd), pelabuhan (PT Chandra Cilegon Port, PT Chandra Pelabuhan Nusantara), pergudangan (PT Chandra Warehouse Cilegon, PT Chandra Daya Warehouse), hingga pengolahan air (PT Wastewater Solutions Indonesia, PT Chandra Tirta Karian). Di sektor energi, PT Krakatau Chandra Energi dan Aster Power Pte Ltd menjadi lengan strategis untuk mengontrol pasokan utilitas industri. Struktur anak usaha yang tersebar dari Singapura, Australia, hingga Shanghai memperlihatkan arah transformasi yang sudah tidak bisa disebut incremental lagi.
Untuk jangka pendek, volatilitas kemungkinan belum selesai. Puncak aksi jual passive funds jelang efektif 1 Juni masih membayang. Tapi setelah tekanan itu surut, investor akan berhadapan langsung dengan valuasi yang sudah jauh lebih rasional: PER di kisaran 17 kali dan PBV sekitar 2 kali, dibanding level ratusan kali yang dulu bikin saham ini sulit dijustifikasi secara fundamental.
Ada katalis tambahan yang bisa jadi pengungkit. Pemerintah menggelontorkan insentif bea masuk 0 persen untuk bahan plastik, yang langsung menekan beban bahan baku naphtha dan LPG di Cilegon. TPIA juga resmi mencabut status force majeure pasokan polimer dan monomer per 5 Mei 2026 setelah gangguan akibat konflik Selat Hormuz berhasil diatasi. Proyek fasilitas CA-EDC ditargetkan beroperasi 2027, sementara belanja modal US$1 miliar untuk caustic soda dan ethylene dichloride sedang berjalan.
Pertanyaannya, apakah tekanan saat ini mencerminkan bisnis yang memburuk, atau sekadar forced selling yang tidak ada hubungannya dengan kualitas perusahaan? Bagi investor ritel yang kini nyangkut atau mengamati dari pinggir lapangan, itu bukan pertanyaan retoris. Itu pertanyaan yang jawabannya bernilai uang.