Sepanjang April lalu, para pejabat Federal Reserve bergulat dengan skenario yang tidak mereka inginkan: inflasi masih bandel di atas target, perang di Timur Tengah mendongkrak harga energi, dan tidak ada sinyal jelas kapan tekanan ini akan mereda.
Risalah rapat FOMC tanggal 28-29 April, yang dirilis pekan ini, membuka gambaran lebih hawkish dari yang mungkin diharapkan pasar. Mayoritas peserta rapat sepakat bahwa "penguatan kebijakan", bahasa halus Fed untuk kenaikan suku bunga, kemungkinan akan tepat jika inflasi terus bertahan di atas 2 persen. Bukan wacana pinggiran. Ini posisi mayoritas.
Notulen itu juga mencatat bahwa tingginya angka inflasi, dikombinasikan dengan ketidakpastian seputar durasi konflik Timur Tengah, bisa mengharuskan kebijakan saat ini dipertahankan "lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya." Pasar opsi sudah menghitung peluang itu: sekitar 30 persen probabilitas kenaikan suku bunga pada kuartal pertama 2027.
Gubernur Fed Philadelphia Anna Paulson turut memperkuat nada tersebut. Dalam pidato tertulisnya di konferensi yang diselenggarakan Fed Atlanta, Selasa (19/5), Paulson menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini sudah berada di level yang cukup restriktif dan masih dibutuhkan untuk menjinakkan inflasi. "Mempertahankan suku bunga tetap stabil memberikan kita waktu untuk menilai bagaimana ekonomi berkembang," ujarnya, sembari menekankan bahwa pemangkasan baru akan layak dilakukan setelah ada kemajuan inflasi yang berkelanjutan dan terukur.
Paulson juga menyebut bahwa inflasi sebenarnya sudah terlalu tinggi bahkan sebelum perang Iran pecah. Konflik itu, kalau boleh jujur, hanya memperburuk masalah yang sudah ada.
Bukan berarti semua sepakat soal arah yang sama. Beberapa anggota FOMC masih membuka ruang untuk pemangkasan suku bunga, tapi dengan syarat ketat: inflasi harus jelas kembali ke target 2 persen, atau pasar tenaga kerja harus menunjukkan pelemahan yang cukup dalam. Skenario yang, agaknya, belum terlihat dalam waktu dekat. Tingkat pengangguran saat ini masih berada di level yang Paulson sebut "sangat stabil" dan pasar kerja dinilai "hampir seimbang."
Kekhawatiran yang lebih dalam muncul dari dua variabel yang bekerja sekaligus: harga energi yang tinggi secara berkelanjutan ditambah tarif impor. Kombinasi maut, bisa dibilang. Beberapa pejabat Fed memperingatkan bahwa skenario ini bisa memicu inflasi yang lebih luas, mendongkrak ekspektasi inflasi jangka pendek, dan akhirnya menciptakan dilema klasik antara menjaga lapangan kerja maksimal dan menstabilkan harga. Tidak ada jawaban mudah di sini.
Staf internal Fed mencatat bahwa ekspektasi inflasi jangka pendek sudah kembali meningkat, meski ekspektasi untuk 2027 ke atas relatif terjaga dekat target 2 persen. Konflik di Timur Tengah, menurut tinjauan staf, "terus menjadi faktor kunci yang mendorong pergerakan harga aset" secara global.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan: Kevin Warsh, Kepala The Fed yang baru, akan mewarisi komite yang semakin condong ke arah agresif. Bukan warisan yang ringan, terutama jika perang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pertanyaannya, berapa lama ketahanan pasar bisa bertahan?
Bagi investor lokal, arah kebijakan Fed ini bukan sekadar berita dari seberang Atlantik. Suku bunga AS yang bertahan tinggi, atau bahkan naik, berarti tekanan pada mata uang emerging market tetap ada. Rupiah dan IHSG sudah paham betul seperti apa rasanya.