Laba bersih PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) nyaris dua kali lipat dalam satu kuartal. Anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) ini membukukan laba bersih Rp101,89 miliar sepanjang Januari-Maret 2026, melonjak 110,4% dibanding periode yang sama tahun lalu, angka yang tidak kecil, terutama mengingat industri semen domestik masih bergulat dengan kelebihan kapasitas yang kronis.
Pendapatan SMCB tercatat Rp2,56 triliun, tumbuh 3,6% secara tahunan, ditopang volume penjualan semen dan terak yang naik 1,4% menjadi 2,92 juta ton. EBITDA terkerek 14,3% menjadi Rp358 miliar, sinyal bahwa efisiensi operasional mulai menunjukkan hasil nyata. Dari sisi volume, SMCB tumbuh 9% di kuartal pertama ini, jauh melampaui pasar yang ekspansinya hanya 5%.
Hasil solid ini jadi fondasi bagi keputusan RUPST pada Jumat (22/5/2026), yang menyetujui pembagian dividen Rp329,3 miliar, setara 50% dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp658,7 miliar. Laba 2025 itu sendiri diraih saat industri dihajar kontraksi volume 4,5% dan penurunan konsumsi semen nasional 1,5%, akibat tekanan biaya energi dan perang harga yang tak kunjung reda.
"Tahun 2025 merupakan periode yang penuh tantangan bagi industri semen. Namun, melalui disiplin operasional, penguatan sinergi bersama SIG, serta transformasi komersial, Perseroan mampu menjaga profitabilitas," ujar Direktur Utama SMCB Rizky Kresno Edhie Hambali dalam paparan publik.
Manajemen SMCB agaknya tidak mau sekadar menunggu pemulihan pasar domestik yang proyeksi pertumbuhannya mentok di 1%-2% sepanjang 2026. Strategi yang lebih ambisius sudah disiapkan: ekspor semen ke Amerika Serikat. Fasilitas dermaga dan produksi semen tipe V di Tuban, Jawa Timur, yang dikembangkan bersama SMGR dan Taiheiyo Cement Corporation, kini rampung dan siap beroperasi mulai Mei 2026.
Pilihan AS bukan keputusan impulsif. Negeri itu secara historis mengimpor sekitar 25 juta ton semen per tahun, dan SMCB sudah mengurus sertifikasi ekspor ke sana sejak setahun sebelumnya. Kompetitor utama di pasar AS datang dari Vietnam dan Turki. Target 2026 ditetapkan konservatif di angka 450.000 ton, dengan ambisi jangka panjang mencapai 1 juta ton per tahun. "Kontribusi ekspor diperkirakan sekitar 10% terhadap total pendapatan dalam beberapa tahun mendatang," sebut Rizky.
Di pasar domestik, SMCB berharap program tiga juta rumah terus bergulir dan proyek Koperasi Desa Merah Putih memberikan tambahan serapan. Manajemen menargetkan margin laba bersih di kisaran 6%-7% sepanjang 2026. "Fokus utama kami bukan agresivitas volume saja, melainkan menjaga profitabilitas di tengah perang harga yang sulit dihindari akibat tantangan kelebihan kapasitas industri," kata Rizky.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai langkah ekspor SMCB sudah tepat, dan modal berharga sudah ada di tangan: fasilitas Tuban yang memang didesain untuk kebutuhan ekspor. "Strategi penguatan ekspor akan berdampak positif terhadap kinerja top line SMCB," tegas Nafan.
Satu ganjalan yang belum selesai. Saham SMCB masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia sejak 31 Januari 2025, lantaran porsi saham publik masih di kisaran 1%, jauh di bawah ketentuan free float minimal 7,5%. Direktur SMCB Asrudin menyebut beberapa opsi sedang dibahas bersama SMGR dan konsultan pasar modal, termasuk kemungkinan rights issue. Keputusan final ditargetkan di kuartal IV-2026.
Selama suspensi berlangsung, Nafan tidak bisa memberikan rekomendasi saham dan menekankan pentingnya aksi korporasi yang bisa mendongkrak jumlah saham publik secara bertahap. Ia pun menyinggung kemungkinan Danantara terlibat dalam pemulihan saham emiten pelat merah ini. Bisa jadi itu sekadar wacana. Tapi kalau data dan momentum ini bisa dipercaya, SMCB punya lebih banyak kartu di tangan daripada yang terlihat dari luar.