MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Singapura Tembus Lima Besar Pusat Keuangan Dunia,...

Ekonomi

Singapura Tembus Lima Besar Pusat Keuangan Dunia, AUM Asia Pasifik Diproyeksikan US$34,5 Triliun pada 2030

Singapura naik dari peringkat kesembilan ke posisi kelima pusat keuangan dunia versi New Financial, didukung proyeksi AUM Asia Pasifik yang tumbuh 6,8% per tahun hingga 2030.

PWC: Singapura perkuat posisi sebagai pusat kekayaan Asia Pasifik

Sepuluh tahun lalu, Singapura masih tertahan di posisi kesembilan daftar pusat keuangan dunia. Kini negara-kota itu sudah merangsek ke peringkat lima, mengungguli China dan Luksemburg, berdasarkan pemeringkatan terbaru lembaga kajian New Financial yang berbasis di London.

Pencapaian itu bukan kebetulan. Hingga akhir 2025, nilai aset yang dikelola di Singapura mencapai S$6,7 triliun, ditopang aliran modal asing yang tak kunjung surut. Amerika Serikat, Inggris, dan Hong Kong memang masih nyaman di tiga besar, tapi jarak Singapura terhadap kelompok itu terus menyempit.

Di level kawasan, gambarnya lebih mengesankan. PwC memproyeksikan aset kelolaan (AUM) Asia Pasifik akan menembus US$34,5 triliun pada 2030, tumbuh dengan CAGR 6,8%, lebih tinggi dari Amerika Utara di angka 6,2% dan Eropa yang hanya 5,6%. Tunggu, em dash itu harus hilang. Total aset nasabah di kawasan diperkirakan melonjak dari US$107,2 triliun pada 2024 menjadi US$154,3 triliun pada 2030. Angka yang tidak main-main, dan Singapura ada di jantungnya.

Bersama Hong Kong, Singapura menjadi dua pusat investasi internasional terkemuka di Asia Pasifik. Negara ini mengelola sekitar 8% aset sovereign wealth fund global, dengan total AUM US$4,6 triliun. Angka itu ditopang tiga entitas investasi raksasa yang bermarkas di sana: GIC dengan AUM sekitar US$936 miliar yang berinvestasi eksklusif di luar negeri, Temasek dengan US$434 miliar yang portofolionya mencakup perusahaan domestik seperti DBS dan Singapore Telecom hingga aset di berbagai benua, serta cadangan moneter yang dikelola Monetary Authority of Singapore (MAS) senilai US$416 miliar. Ketiganya punya mandat berbeda, tapi efeknya satu: Singapura punya otot finansial yang tidak sembarangan.

Daya tarik itu ikut menyedot bank-bank global. JPMorgan Chase tercatat memperluas operasinya di sana untuk menangkap pertumbuhan sektor wealth management yang kian gemuk. Otoritas keuangan Singapura bahkan berkolaborasi dengan bank-bank swasta untuk memangkas proses pembukaan rekening nasabah kaya menjadi sekitar satu bulan, agaknya sebagai respons atas meningkatnya mobilitas aset dari sejumlah negara yang tengah bergejolak secara kebijakan.

Segmen high-net-worth (HNW) diprediksi makin subur. PwC memperkirakan aset HNW di Asia Pasifik akan mencapai US$52,4 triliun pada 2030 dengan CAGR 6,9%. Pasar privat menjadi pendorong utamanya: kontribusi private markets terhadap pendapatan industri pengelolaan aset di kawasan melonjak dari 20,3% pada 2012 menjadi 55,4% pada 2024, dan diproyeksikan mencapai 59,5% atau sekitar US$99,8 miliar pada 2030.

Satu ironi menarik. Meski kawasan tumbuh pesat, pengelola aset lokal Asia Pasifik baru menguasai kurang dari seperempat aset nasabah di wilayahnya sendiri. Bandingkan dengan Eropa yang hampir 40% dan Amerika Utara yang mendekati 60%. Celah itulah yang, bisa jadi, justru menjadi peluang terbesar industri ini dalam lima tahun ke depan, kalau data ini bisa dipercaya, lompatan dari seperempat menuju angka Eropa saja sudah bernilai triliunan dolar.

Pada sisi teknologi, Singapura mendorong tokenisasi aset dari fase uji coba menuju komersialisasi penuh lewat Project Guardian yang dipimpin MAS. Masif. Inisiatif ini kini melibatkan lebih dari 40 institusi di tujuh yurisdiksi, didukung Guardian Wholesale Network, kerangka regulasi stablecoin, hingga rencana penerbitan surat utang MAS yang ditokenisasi menggunakan CBDC.

Paul Pak, Pemimpin Asset and Wealth Management PwC Singapura dan Asia Pasifik, menyebut posisi Singapura ditopang kombinasi keunggulan struktural yang sulit ditiru dalam waktu singkat: besarnya dana kekayaan negara, regulasi yang progresif untuk keuangan berbasis tokenisasi, ekosistem perpajakan yang ramah investasi lintas negara, hingga pasar modal yang terus matang. Tantangan berikutnya, kata Pak, mengubah momentum pertumbuhan menjadi keunggulan yang benar-benar berkelanjutan lewat strategi dan disiplin pengelolaan modal yang tepat.

Pertanyaan yang lebih relevan buat pelaku pasar Indonesia mungkin ini: seberapa besar dana yang semestinya masuk ke Jakarta, tapi justru parkir nyaman di Singapura?