JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Ditutup Menguat, Ditopang SRBI dan Selera B...

Finansial

Rupiah Ditutup Menguat, Ditopang SRBI dan Selera Beli Obligasi

Rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan ini di zona hijau, ditopang lelang SRBI dan derasnya aliran modal ke pasar obligasi domestik, meski tekanan jangka menengah belum sepenuhnya reda.

Rupiah Ditutup Hijau Hari Ini, Ditopang SRBI & Pasar Obligasi - Market

Rupiah menutup perdagangan Jumat (27/6/2026) dengan catatan positif, didukung dua faktor yang kebetulan bekerja bersamaan: hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang masih menyerap likuiditas, dan pasar surat utang yang kembali bergairah jelang akhir pekan.

Dari sisi SRBI, Bank Indonesia menyerap Rp15 triliun dalam lelang hari ini, turun dari Rp18 triliun di lelang Rabu (24/6). Total penawaran yang masuk pun tergerus 33,94% menjadi Rp31 triliun, dari Rp46,92 triliun sebelumnya. Penyusutan minat ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, patut dicermati lebih jauh.

Yield pemenang masih "mahal" buat BI. Tenor 6 bulan turun tipis ke 7,35%, tenor 9 bulan ke 7,54%, sedangkan tenor 12 bulan bertahan di kisaran 7,7%. Semua angka itu masih nangkring di atas yield Surat Utang Negara pada tenor setara, artinya biaya operasi moneter BI untuk menjaga rupiah lewat instrumen ini tidak murah.

Yang agaknya lebih menggerakkan sentimen justru kondisi pasar obligasi. Yield SUN kompak tergerus di hampir semua tenor pada sesi penutup pekan ini. Tenor 4 tahun membukukan penurunan paling tajam, amblas 12,8 bps ke 7,15%. Tenor 5 tahun turun 6,9 bps ke 7,14%, tenor 1 tahun terkoreksi 4,8 bps ke 7,16%, dan tenor acuan 10 tahun melandai 1,1 bps ke 7,17%.

Yield turun berarti harga naik. Dan harga naik karena ada yang beli. Data Bloomberg mengonfirmasi: secara mingguan, per 24 Juni, investor asing masih mencatat net inflow ke pasar obligasi Indonesia senilai US$190,8 juta, atau sekitar Rp3,1 triliun. Bukan angka yang mengubah peta, tapi cukup untuk menopang sentimen.

Euforia terlalu dini, rasanya kurang bijak. Dalam perspektif lebih luas, rupiah dan won Korea masih disebut-sebut berada dalam kelompok mata uang yang rentan di semester II-2026, sementara yuan Tiongkok diproyeksikan relatif perkasa. Bak pedang bermata dua, struktur ini mencerminkan perbedaan fundamental: surplus neraca perdagangan Tiongkok yang besar, ditambah dukungan kebijakan domestik, memberi yuan bantalan yang tidak dimiliki mata uang Asia lainnya, termasuk rupiah.

Pertanyaannya, apakah inflow obligasi mingguan yang masih positif ini cukup konsisten untuk menahan tekanan di semester mendatang? Histori mencatat aliran modal ke pasar berkembang kerap berbalik arah begitu sentimen global berubah, dan rupiah biasanya jadi salah satu yang pertama kena tampar.