JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Ram Punjabi Serok RAAM Dua Hari Berturut, Saham Te...

Finansial

Ram Punjabi Serok RAAM Dua Hari Berturut, Saham Tetap Merah

Presiden Direktur RAAM memborong 918.300 lembar saham perusahaannya lewat lima kali transaksi pada 23-24 September 2026, menggelembungkan kepemilikan jadi 68,83 persen. Tapi pasar agaknya tidak ikut antusias.

PT Tripar Multivision Plus Tbk . (Foto: Dok. RAAM)

Presiden Direktur PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM), Ram Jethmal Punjabi, memborong saham perusahaannya sebanyak 918.300 lembar dalam dua hari berturut-turut. Aksi akumulasi yang terbilang agresif untuk ukuran transaksi orang dalam.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia yang dirilis Jumat, 25 September 2026, seluruh pembelian dilakukan secara langsung untuk tujuan investasi. Transaksi pertama dieksekusi pada 23 September: 386.500 lembar di harga Rp173 per saham, senilai sekitar Rp66,8 juta. Sehari berikutnya, Ram masuk lagi dengan empat kali transaksi terpisah, eh, empat gelombang: 107.700 lembar di Rp176, lalu 267.200 lembar di Rp175, kemudian 31.900 lembar di Rp173, dan terakhir 125.000 lembar di Rp174. Total nilai seluruh transaksi dua hari itu mendekati Rp159,7 juta.

Pasca-pembelian, kepemilikan Ram di RAAM naik dari 4.688.967.382 unit menjadi 4.689.885.682 unit saham, mendongkrak porsi hak suaranya dari 68,81 persen ke 68,83 persen. Dalam dokumen pelaporan yang sama, Ram mengonfirmasi statusnya sebagai pemegang saham pengendali dan menegaskan komitmen untuk mempertahankan posisi kendali tersebut.

Aksi borong ini muncul saat kinerja operasional perusahaan sebenarnya mulai beranjak membaik. Rp128,6 miliar, itulah pendapatan konsolidasian RAAM sepanjang semester I 2026, naik 14,7 persen dari Rp112,1 miliar setahun sebelumnya. Laba kotor hampir dua kali lipat menjadi Rp52,6 miliar, dengan margin yang melebar dari 24,5 persen ke 40,9 persen. Yang paling mencolok: perseroan berhasil membalik rugi operasional Rp27,3 miliar pada semester I 2025 menjadi laba operasional Rp6,3 miliar. EBITDA semester I tercatat sekitar Rp16,9 miliar, dengan akselerasi kuat di kuartal kedua saat EBITDA menembus Rp22,2 miliar.

Mesin pertumbuhannya jelas: bisnis film. Pendapatan segmen ini tumbuh 30,4 persen secara tahunan ke Rp74,4 miliar, ditopang "Cerita Lila" yang menembus satu juta penonton di Indonesia dan "Sengkolo 2" yang melampaui ekspektasi di Malaysia. Di luar rilis baru, monetisasi pustaka konten juga mulai memberikan kontribusi yang lebih terukur.

"Perbaikan performa penayangan film kami, ditambah monetisasi pustaka konten yang lebih tinggi, mendorong pemulihan pada laba kotor dan EBITDA," ungkap Vikas Chand Sharma, Direktur dan CFO RAAM, dalam keterbukaan informasi BEI akhir Juli lalu. Sharma juga menyebut pihaknya aktif memangkas pinjaman guna menekan beban bunga, demi membangun fondasi keuangan yang lebih kokoh.

Pasar, entah kebetulan atau tidak, merespons dingin. Pada sesi perdagangan Jumat 25 September, saham RAAM tergerus hingga Rp169 per saham, turun 3,43 persen dari penutupan sebelumnya di Rp175. Sepanjang hari, harga sempat menyentuh tertinggi Rp177 sebelum berbalik ke terendah Rp166. Volume pun sepi: total nilai transaksi harian hanya Rp74,4 juta.

Rapor historisnya berat. Secara year-to-date, RAAM sudah amblas 26,72 persen. Dalam setahun terakhir, saham ini rontok 47,20 persen dari puncak Rp334. Kalau ditarik tiga tahun, angka kerusakannya mencapai 75,18 persen dari level tertinggi Rp770. Pertanyaannya, berapa banyak lagi yang harus diborong untuk benar-benar menggerakkan kepercayaan pasar? Akumulasi orang dalam sesekali menjadi sinyal pembalikan, tapi dengan track record harga seperti ini, dua hari borong belum cukup untuk meyakinkan siapa pun.