Tren kecerdasan buatan dan lonjakan kebutuhan pusat data memang sedang jadi magnet bagi investor, tapi tidak semua emiten yang terseret narasinya menikmati pergerakan harga yang mulus. Dua emiten berlatar belakang data center, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), justru memperlihatkan karakter perdagangan yang kontras dalam beberapa pekan terakhir.
POWR tergolong pendatang baru dalam percakapan soal data center. Sepanjang paruh pertama tahun ini saham ini relatif sepi, bergerak terbatas tanpa katalis yang jelas. Sejak awal Agustus 2026, ceritanya mulai berubah. Ekspektasi lonjakan konsumsi listrik dari bisnis data center mengangkat minat pelaku pasar, dan harga POWR perlahan menanjak hingga menyentuh Rp 1.025 pada 18 September 2026. Bukan angka yang dramatis. Tapi perubahan karakternya patut dicermati.
Pasar kini sedang menguji daya tahan rally tersebut. Aksi profit taking mulai terasa, dan pertanyaannya klasik: apakah sentimen data center sudah cukup dalam tertanam untuk membawa POWR ke level lebih tinggi, atau ini sekadar euforia yang kehabisan bensin?
DCII menghadapi persoalan yang lebih struktural. Di atas kertas, kinerja perusahaan milik Otto Toto Sugiri ini tidak jelek sama sekali. Sepanjang semester I-2026, pendapatan DCII melonjak 33,2% secara tahunan menjadi Rp 1,78 triliun, sementara laba bersih melesat 18,7% ke angka Rp 732,5 miliar. Pertumbuhan yang, jujur saja, cukup impresif di tengah gejolak makro global.
Tapi harga sahamnya stagnan di kisaran Rp 201.000 pada perdagangan Jumat (25/9/2026), dan secara tahunan masih terkoreksi hampir 33%. Fundamental tumbuh, harga tergerus. Paradoks ini bisa dijelaskan tiga faktor yang saling bertumpuk.
Pertama, masalah likuiditas. DCII tercatat sebagai emiten berkualifikasi High Shareholding Concentration (HSC) di Bursa Efek Indonesia, dengan tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 99,96%. Artinya, porsi saham yang benar-benar beredar dan aktif diperdagangkan di pasar reguler nyaris tidak ada. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan kondisi itu membuat pergerakan harga DCII sangat sensitif terhadap perubahan permintaan-penawaran, sekecil apapun pergerakannya.
Kedua, soal valuasi. DCII diperdagangkan di atas price-to-earnings lebih dari 400 kali, jauh di atas rata-rata industri mana pun. Angka yang tidak main-main. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah menilai angka itu membutuhkan justifikasi sangat besar dari sisi ekspansi bisnis dan pertumbuhan laba. Nafan punya pandangan senada: kalau pasar mulai re-rating atau memangkas ekspektasi pertumbuhan, koreksi harga bisa dalam, meski fundamental perusahaan masih tumbuh positif.
Ketiga, ada unsur struktural yang lebih dalam. Selama free float tidak bertambah dan profil likuiditasnya tidak berubah, sulit bagi saham ini menarik masuk dana institusional dalam jumlah berarti. Fath bicara terus terang soal ini: "Apabila jelas tergambar bagaimana perusahaan bisa ekspansi sekaligus menambah free float, harusnya saham ini bisa jadi lebih menarik dengan catatan likuiditas naik disertai free float-nya."
Dua cerita berbeda dari satu tema yang sama. POWR berpotensi menikmati re-rating jika konsumsi listrik data center benar-benar mengakselerasi seperti diantisipasi pasar. DCII punya fundamental yang tumbuh tapi tersandera struktur kepemilikan dan valuasi yang tidak memberi ruang untuk kesalahan. Pertanyaannya, berapa lama pasar mau bersabar menunggu katalis yang belum juga datang? Bagi investor ritel yang ingin masuk ke narasi data center lewat saham lokal, memahami perbedaan antara keduanya bukan sekadar akademis, ini soal di mana uang diparkir dan berapa lama kamu siap menahan napas.