Rupiah sempat menyentuh 18.178 per dolar AS di kuartal kedua 2026. Bukan sekadar angka psikologis, bukan. Ini sinyal bahwa tekanan yang selama ini dikelola pelan-pelan oleh Bank Indonesia mulai melampaui kapasitas respons konvensional.
Dalam waktu kurang dari dua bulan, BI menaikkan suku bunga acuan tiga kali: 50 basis poin di luar dugaan pada Mei, disusul 25 bps pada 9 Juni di luar jadwal rapat rutin, lalu 25 bps lagi pada rapat 17-18 Juni. Total akumulasi 100 basis poin, membawa 7-day reverse repo rate ke 5,75 persen. Agresif, untuk ukuran bank sentral yang terbiasa bermain aman.
Hasilnya? Rupiah sempat menguat ke kisaran 17.700. Lalu amblas lagi. Awal Juli sudah melorot mendekati 18.000, seolah kenaikan suku bunga itu cuma membeli waktu, bukan solusi. Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menyebut dalam riset tertulis Selasa (7/7/2026) bahwa rangkaian kenaikan suku bunga BI yang cepat ini belum sepenuhnya berhasil menstabilkan mata uang. Understatement yang terasa pas.
Mirae Asset kini memangkas proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 4,8 persen untuk 2026 dan 4,9 persen untuk 2027, turun dari estimasi sebelumnya 5,0 persen dan 5,1 persen. Penyebabnya sudah familiar: permintaan domestik yang lesu, lingkungan eksternal yang tak bersahabat, kondisi keuangan yang makin ketat. Angka ini bisa jadi bukan lantai, melainkan titik awal revisi berikutnya.
Persoalan rupiah hari ini bukan semata soal selisih suku bunga. Rully menjabarkan bahwa pergerakan mata uang kini lebih didorong kombinasi komunikasi global dan persepsi risiko domestik daripada sekadar interest rate differential. Pasar membaca inkonsistensi fiskal, regulatory noise, dan absennya koordinasi yang kuat antara BI dan pemerintah pusat sebagai premi risiko tersendiri. Ujungnya, seperti kata Rully, premi risiko tetap tinggi dan sentimen tetap berhati-hati.
Dari Washington, sinyalnya juga tidak menyenangkan. The Fed di bawah Kevin Warsh diproyeksikan masih akan menaikkan Fed Funds Rate dua kali lagi masing-masing 25 bps, pada September dan Desember, membawa suku bunga AS ke 4,25 persen. Kombinasi higher-for-longer dan pengurangan neraca secara bertahap membuat dolar sulit dilawan. Bagi Indonesia, ini gaya sentrifugal yang terus menarik modal keluar, terlepas dari berapa pun BI Rate dinaikkan.
Di lapisan yang lebih dalam, ada masalah struktural yang agaknya lebih sulit diobati dengan instrumen moneter. Twin deficit di sisi fiskal dan eksternal mulai muncul ke permukaan. Konsumsi dan investasi melemah tepat ketika ruang stimulus semakin terbatas. Pertumbuhan kredit masih solid di 11,5 persen year-on-year per Mei, tapi transmisi pengetatan ke sektor riil biasanya baru terasa dengan jeda beberapa kuartal. Sinyal itu kemungkinan baru kelihatan pada akhir 2026.
Inflasi juga tidak jinak. Mirae Asset memperkirakan inflasi 2026 bisa menembus 4,0 persen, di atas target BI sebesar 1,5-3,5 persen, sebelum diharapkan kembali ke dalam kisaran pada 2027. Bahan bakarnya berlapis: guncangan harga energi global yang belum reda, depresiasi rupiah yang memperbesar imported inflation, ruang fiskal yang sempit untuk menyerap tekanan biaya. Bank Dunia bahkan memperingatkan harga pupuk global bisa melonjak hingga 38 persen jika disrupsi pasokan berlanjut. Langsung masuk ke harga pangan domestik.
Secara global, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,5 persen pada 2026, paling lambat sejak pandemi. IMF dalam World Economic Outlook April 2026 mencatat kombinasi perang, harga energi tinggi, dan inflasi yang kembali memanas akan berinteraksi dengan lingkungan suku bunga yang makin restriktif. Bagi Indonesia sebagai eksportir komoditas sekaligus importir energi bersih, posisinya selalu ambigu dalam situasi seperti ini. Ibarat pedang bermata dua.
Bank Dunia sendiri masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di 5,0 persen untuk 2026, turun tipis dari realisasi 5,1 persen tahun lalu. Lebih optimistis dari Mirae Asset. Selisih 20 basis poin mungkin terdengar kecil, tapi dikalikan skala ekonomi Indonesia, angka itu bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Pertanyaan yang lebih relevan buat investor domestik mungkin bukan soal siapa proyeksinya lebih akurat. Pertanyaannya: seberapa banyak tekanan yang sudah ter-price in, dan di titik mana berita buruk sudah cukup buruk untuk jadi kesempatan masuk? Sampai koordinasi fiskal dan moneter menjadi lebih kredibel di mata pasar global, kalau data ini bisa dipercaya, volatilitas kemungkinan masih jadi menu harian.