KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah di Ambang Rp18.000: Overshooting atau Funda...

Ekonomi

Rupiah di Ambang Rp18.000: Overshooting atau Fundamentalnya Memang Lemah?

Rupiah ditutup di Rp17.995 per dolar AS pada Kamis (2/7), tertekan defisit neraca dagang pertama sejak 2020. Para ekonom mulai mempertanyakan apakah pasar sudah bergerak terlalu jauh dari nilai wajarnya.

Perkiraan Titik Balik Rupiah: Antara Fundamental, Sentimen Pasar, dan Overshooting - Universitas Andalas

Rupiah nyaris jebol Rp18.000 kemarin, ditutup di Rp17.995 per dolar AS di pasar spot, melemah 0,25 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.952. Ini hari ketiga berturut-turut rupiah mencatat pelemahan, dan pelaku pasar tahu betul level psikologis itu tinggal selangkah lagi.

Katalis terbaru datang dari angka yang cukup mengejutkan: neraca perdagangan Indonesia defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Bukan sekadar angka buruk biasa. Defisit ini mengakhiri tren surplus yang berjalan 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, rekor yang selama ini jadi salah satu penyangga kepercayaan pasar terhadap rupiah. Impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, jauh melampaui ekspor sebesar 23,20 miliar dolar AS. Biang keroknya sektor migas, yang mencatatkan defisit 3,76 miliar dolar AS, didorong lonjakan impor minyak mentah dan hasil minyak yang secara tahunan melejit 70,78 persen.

Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menilai tekanan kali ini lebih banyak datang dari dalam negeri. Ada peringatan dari Fitch Ratings yang menyebut arus keluar modal berkelanjutan serta penurunan cadangan devisa dalam jangka panjang bisa membebani profil kredit Indonesia. "Defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020 pada Mei, di tengah penurunan ekspor yang tidak terduga, turut memberikan tekanan terhadap rupiah," kata Lukman kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Hari ini semua mata tertuju ke Washington. Data Non-Farm Payrolls AS dirilis malam ini, dan kalau angkanya lebih kuat dari ekspektasi, dolar berpotensi terkerek lagi. Rupiah bisa resmi tembus Rp18.000. Lukman memproyeksikan range pergerakan hari ini di Rp17.900 hingga Rp18.050. Satu faktor yang agak tidak biasa dia sebut: Piala Dunia yang sedang berlangsung di Amerika Serikat, yang secara tidak langsung mendorong aktivitas ekonomi dan bisa ikut mendongkrak angka ketenagakerjaan.

Pertanyaan yang lebih besar dari sekadar level psikologis: di mana sebenarnya nilai wajar rupiah?

Dr. Hefrizal Handra dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas memaparkan kalkulasi yang menarik. Pakai pendekatan Purchasing Power Parity sederhana, dengan kurs dasar Rp12.000 di 2014 dan rata-rata perbedaan inflasi Indonesia-AS sekitar 1-2 persen per tahun, nilai keseimbangan rupiah saat ini mestinya ada di kisaran Rp15.000-Rp16.000. Tambahkan risk premium Indonesia yang dia perkirakan sekitar Rp1.000-Rp1.500, maka "harga wajar" rupiah sebetulnya ada di Rp16.500-Rp17.500. Angka yang membuat kurs Rp17.995 sudah mulai masuk wilayah undervalued. Kalau tembus ke Rp18.500-Rp19.000, agaknya kita sudah benar-benar dalam fase overshooting.

Konsep overshooting bukan istilah baru. Rudiger Dornbusch, ekonom MIT, sudah menjelaskan mekanismenya puluhan tahun lalu: pasar keuangan sering bereaksi berlebihan terhadap perubahan ekspektasi, mendorong nilai tukar jauh melampaui yang bisa dijelaskan oleh fundamental. Rekam jejak rupiah membuktikannya berulang kali. Krisis 1998, guncangan 2008, kepanikan awal pandemi 2020. Setiap kali, rupiah "kelewatan" melemah sebelum berbalik arah.

Yang bikin situasi sekarang lebih ruwet adalah kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang datang bersamaan. Secara global, suku bunga AS yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik terus mendorong flight to quality, modal mengalir keluar dari pasar berkembang. Dari dalam, hilangnya surplus neraca dagang menghapus satu argumen penting yang selama ini membuat rupiah relatif tahan banting ketimbang mata uang emerging market lain. Dua pukulan sekaligus. Tidak mudah diabaikan.

Titik balik, kata Handra, biasanya muncul ketika tiga hal terjadi bersamaan: sentimen pasar sudah sangat negatif merata, valuasi mata uang sudah benar-benar murah, dan ada katalis kebijakan yang cukup meyakinkan untuk memulihkan kepercayaan. Dua syarat pertama, bisa jadi, sedang mendekat. Yang ketiga belum terlihat. Selama katalis itu belum muncul, rupiah bisa saja tetap tertekan lebih lama dari perkiraan, bahkan di level yang secara analitis sudah seharusnya menarik untuk dikoleksi.