Setidaknya delapan model smartphone baru resmi masuk pasar Indonesia sepanjang September 2026, menawarkan rentang harga yang cukup lebar, mulai dari kelas Rp 1 jutaan hingga perangkat yang spesifikasinya bikin baca dua kali.
Polanya mulai bergeser. Produsen tidak lagi hanya adu angka chipset di atas kertas, eh, maksudnya bukan begitu: baterai besar, refresh rate layar, kecepatan pengisian daya, sampai fitur kamera telefoto kini menjadi senjata utama. Setiap merek mencari celah berbeda untuk diperebutkan.
Di segmen paling terjangkau, ZTE Nubia A57 hadir dengan layar IPS LCD 6,75 inci, chipset Unisoc T7250, dan baterai 5.000 mAh. Spesifikasinya tidak bikin jantung berdegup kencang. Tapi justru di situ posisi pasarnya: entry-level yang bisa dijangkau tanpa mengorbankan satu bulan penuh gaji. Kamera utamanya hanya 13 MP, angka yang terasa ganjil di era 50 MP sudah jadi standar, agaknya ZTE memang bermain di lapangan yang lain.
Samsung Galaxy A08 masuk sedikit di atasnya. Layar PLS LCD 6,7 inci, chipset MediaTek Helio G99 Plus, baterai 6.000 mAh, kamera 50 MP. Khas Samsung untuk kelas ini: layar luas, daya tahan solid, harga yang tidak bikin dompet menangis.
Xiaomi mendominasi segmen menengah dengan empat varian sekaligus. Redmi Note 17 4G dan 5G berbagi layar AMOLED 6,99 inci serta baterai 7.700 mAh, beda di chipset saja. Varian 4G memakai Snapdragon 6s 4G Gen 2, versi 5G naik ke Snapdragon 4 Gen 4, kamera utama keduanya 50 MP. Redmi Note 17 Pro dan Pro Max bermain lebih keras di sektor baterai: 10.000 mAh. Angka yang tidak main-main untuk kelas harganya. Chipset masing-masing Snapdragon 6s Gen 4 dan Snapdragon 6 Gen 5, layar AMOLED 6,83 inci.
Realme 16 Pro edisi Harry Potter tampil dengan kolaborasi yang, kalau data ini bisa dipercaya, bukan sekadar gimmick kosmetik. Di balik desain tematiknya, Realme menyematkan layar AMOLED 6,78 inci, kamera utama 200 MP, chipset Dimensity 7300 Ultra, dan baterai 7.000 mAh. Kombinasi 200 MP dengan chipset kelas menengah ke atas memang makin lazim dari Realme belakangan.
TECNO POVA 8 Pro 5G datang dengan proposisi berbeda: Dimensity 7400 Ultimate dipasangkan layar AMOLED 144Hz. Pilihan yang masuk akal untuk pengguna yang lebih banyak gaming atau konsumsi konten berat. Baterai 6.500 mAh, charging 45W, kamera utama 50 MP dengan OIS. Satu catatan: wireless charging tidak ada, dan itu bisa jadi deal-breaker buat sebagian orang.
Dua perangkat Huawei bermain di kelas yang lebih atas. Pura 90s Pro 5G mengandalkan Kirin 9030S, baterai 6.000 mAh, charging 66W kabel plus 50W nirkabel. Kemampuan telefoto dan fotografi jarak dekat menjadi nilai tambah bagi pengguna yang gemar mengeksplorasi kamera. Pura 90s Pro Max 5G lebih agresif: RAM 12 GB, penyimpanan 512 GB, kamera utama 200 MP dengan telefoto hingga 20x, serta charging 100W kabel dan 80W nirkabel. Konfigurasi yang sulit diabaikan bagi pengguna yang menjadikan kamera smartphone sebagai peralatan kerja sungguhan.
Samsung Galaxy S26 FE menutup daftar ini dari posisi yang mungkin paling strategis untuk segmen menengah atas. Exynos 2500 membawanya masuk ke wilayah performa yang lebih dekat dengan flagship, diperkuat fitur AI dan kemampuan video seperti My FanCam serta Horizontal Lock. Baterai 4.900 mAh dengan charging 45W memang bukan yang paling jumbo di kelasnya. Samsung seperti memilih jalan lain: unggul di ekosistem dan fitur pintar ketimbang mengejar kapasitas baterai.
Rentang harga mulai Rp 1 jutaan memang menggiurkan. Tapi justru di situlah tantangannya, karena banyak perangkat yang spesifikasinya terlihat serupa di atas kertas, padahal karakternya jauh berbeda di tangan.