SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Risalah FOMC dan Caddev RI: Dua Agenda yang Akan R...

Ekonomi

Risalah FOMC dan Caddev RI: Dua Agenda yang Akan Ramaikan Meja Trading Pekan Ini

Dari risalah FOMC hingga cadangan devisa Indonesia yang menyentuh titik terendah dua tahun, pekan ini sarat agenda yang bisa menggerakkan pasar ke segala arah.

Agenda Penting Pekan Depan: Sinyal The Fed hingga Inflasi China

Pasar keuangan global pekan ini masuk ke fase kalkulasi ulang. Bukan tanpa alasan: risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode 16-17 Juni akan dipublikasikan Rabu dini hari, dan dokumen itu agaknya menyimpan lebih banyak ketegangan internal ketimbang yang terlihat dari pernyataan resmi The Fed.

Meski The Fed memutuskan menahan suku bunga pada pertemuan tersebut, sinyal yang beredar di kalangan pejabat justru mengarah ke kenaikan lanjutan di akhir tahun. Ketua Fed Kevin Warsh sudah menegaskan inflasi memang mulai mereda, tapi bank sentral tidak lagi memberikan panduan eksplisit soal arah suku bunga. Semua bergantung data. Framing semacam itu, entah kebetulan atau tidak, membuat setiap rilis ekonomi minggu ini berubah jadi pertaruhan tersendiri.

Data pembuka pekan datang dari ISM Services PMI Amerika Serikat untuk Juni, yang konsensusnya diperkirakan sedikit turun ke 54,2 dari 54,5 di Mei. Bulan lalu angka itu menjadi ekspansi terkuat dalam tiga bulan, ditopang percepatan aktivitas bisnis dan lonjakan pesanan baru. Yang perlu dicermati bukan hanya angka headline-nya, tapi komponen tekanan harga yang bulan lalu sudah menyentuh level tertinggi sejak Agustus 2022, terutama dipicu energi. Kalau tekanan ini bertahan, narasi "The Fed segera pivot" kian sulit dijual ke pasar.

Kamis pagi, giliran China. Biro Statistik Nasional akan merilis inflasi konsumen Juni, dengan konsensus memperkirakan kenaikan tipis ke 1,3% dari 1,2% di Mei. Secara nominal angka itu kecil. Tapi konteksnya tidak bisa diabaikan: lemahnya permintaan domestik China selama beberapa kuartal terakhir terus menghantui sentimen investor global. Kalau inflasi inti yang bulan lalu tercatat 1,1% tidak beranjak naik, sinyal deflasi struktural bisa kembali menghantui.

Dua rilis Bank Indonesia pekan ini akan jadi ujian ketahanan eksternal Indonesia. Selasa, BI mengumumkan posisi cadangan devisa Juni. Posisi Mei tercatat US$144,9 miliar, turun dari US$146,2 miliar di April. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja. Bloomberg Technoz mencatat ini posisi caddev terendah dalam dua tahun terakhir. Yang lebih mengkhawatirkan: Fitch Ratings pekan lalu memperingatkan risiko penurunan peringkat utang Indonesia jika caddev terus menyusut, dengan proyeksi tahun ini hanya mampu menutup 4,6 bulan kebutuhan pembayaran eksternal, lebih rendah dari median negara BBB sebesar 5 bulan.

Bank Indonesia sendiri menilai posisi Mei masih "sangat memadai" karena setara 5,6 bulan impor. Setidaknya itu klaim manajemen, dan klaim itu masih harus dibuktikan oleh angka Juni. Untuk menjaga stabilitas rupiah ketika yield obligasi AS bertahan tinggi dan dolar perkasa, BI dilaporkan menawarkan carry yang lebih menarik guna menyedot modal asing masuk.

Masih dari BI, Survei Konsumen Juni dirilis bersamaan dengan data uang primer (M0). Indeks Keyakinan Konsumen Mei berada di 120,9, turun dari 123,0 pada April, tapi masih di zona optimistis. Indeks Ekspektasi Konsumen bahkan bertahan di 129,7. Kamis, Survei Penjualan Eceran memberi gambaran apakah konsumsi domestik tetap jadi penyangga pertumbuhan di paruh kedua tahun ini. Kontraksi bulanan April yang dalam sebesar 11,6% diperkirakan menyempit ke 0,9% di Mei, terbantu efek hari besar keagamaan.

Dari Eropa, ECB Kamis ini merilis notulen kebijakan moneter pertemuan Juni. Pada pertemuan itu mereka menaikkan suku bunga 25 basis poin, pertama kali sejak 2023, membawa suku bunga deposito ke 2,25%. Pasar ingin membaca seberapa hawkish nada diskusi para pejabat untuk pertemuan berikutnya. Inflasi zona euro sudah melambat melampaui ekspektasi bulan lalu seiring harga minyak yang melandai ke level sebelum konflik Timur Tengah. Pertanyaannya, apakah pelonggaran ini cukup untuk mengubah nada ECB?

Bicara minyak, perbaikan arus tanker di Selat Hormuz memang memberi angin segar jangka pendek bagi pasokan global. Tapi yield obligasi jangka panjang yang masih bertahan tinggi mengisyaratkan pasar belum sepenuhnya percaya inflasi struktural sudah jinak. Keputusan OPEC soal penyesuaian kuota produksi pekan ini akan menentukan apakah harga minyak mentah bisa rebound atau terus berkonsolidasi.

Penutup pekan, Jumat malam, Kanada merilis tingkat pengangguran Juni. Mei kemarin data ini mengejutkan pasar: pengangguran amblas ke 6,6% dari 6,9%, dengan penyerapan tenaga kerja 87.800 orang, pertumbuhan lapangan kerja terbesar sejak Desember 2024. Konsensus memperkirakan Juni tetap di 6,6%. Pasar tenaga kerja Kanada yang solid berpotensi mempersempit ruang Bank of Canada untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Bagi investor domestik, rangkaian agenda ini punya satu benang merah: arah dolar AS dan yield US Treasury adalah variabel yang paling langsung memengaruhi rupiah dan IHSG. Pekan penuh data. Tidak semua sama bobotnya. Risalah FOMC dan cadangan devisa RI, dua itulah yang paling banyak akan dibicarakan di meja trading Rabu dan Selasa nanti.