SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PDB AS Direvisi ke 2,1%, tapi Konsumen Nyaris Memb...

Ekonomi

PDB AS Direvisi ke 2,1%, tapi Konsumen Nyaris Membeku

Ekonomi Amerika Serikat ternyata tumbuh lebih kencang dari dugaan di kuartal pertama 2026, tapi jangan keburu lega: belanja konsumen hampir stagnan, dan target inflasi 2% Fed mundur lagi ke 2028.

Ekonomi AS ke 2,1%, belanja konsumen alami stagnasi

Revisi ketiga Biro Analisis Ekonomi AS mengubah gambaran yang tadinya terasa suram. Produk Domestik Bruto Amerika Serikat tumbuh 2,1% secara tahunan di kuartal I 2026, jauh di atas estimasi sebelumnya 1,6% yang bahkan oleh para ekonom survei Reuters pun dianggap sudah final. Sebagai pembanding, kuartal Oktober-Desember hanya mencatat 0,5%.

Tapi angka headline itu agak menyesatkan. Penyebab utama revisi naik bukan karena ekonomi riil makin sehat, melainkan karena impor ternyata lebih rendah dari perkiraan, khususnya barang konsumsi dan barang modal. Dalam perhitungan PDB, impor yang lebih rendah otomatis mendongkrak angka pertumbuhan. Sederhananya: ekonomi AS "terlihat" lebih besar karena belanja untuk produk asing berkurang, bukan karena aktivitas domestiknya ikut bergerak.

Yang lebih mengkhawatirkan justru tersembunyi di balik revisi itu. Belanja konsumen dipangkas tajam menjadi hanya 0,5%, dari estimasi sebelumnya 1,4%. Padahal konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS. Angka 0,5% itu, jujur saja, nyaris tidak bergerak. Penurunan ini sebagian besar dipicu merosotnya pengeluaran di sektor jasa, keuangan, asuransi, perjalanan internasional. Ada faktor teknis di sini: aksi jual di pasar saham selama kuartal pertama ikut menekan pengeluaran terkait jasa keuangan.

Satu-satunya yang menyelamatkan wajah: investasi berbasis teknologi. Belanja bisnis pada peralatan melonjak 15,8%, dan pengeluaran untuk produk kekayaan intelektual naik 13,8%, melampaui estimasi sebelumnya 11,6%. Boom kecerdasan buatan agaknya masih jadi lokomotif tunggal investasi korporasi AS saat ini, sementara segmen lain masih menunggu sinyal yang tak kunjung datang.

Bagaimana kuartal kedua? Ada harapan kecil, kalau data ini bisa dipercaya. Pengembalian pajak yang lebih besar dari tahun lalu, rata-rata US$3.276 per wajib pajak hingga awal Mei dibanding US$2.939 di periode yang sama 2025, diperkirakan bakal mendorong konsumsi kembali. Faktor itu juga membantu meredam tekanan harga bensin yang naik akibat perang yang dipimpin Amerika Serikat melawan Iran. Apakah cukup untuk menggerakkan jarum konsumsi secara berarti, masih tanda tanya.

Di sisi inflasi, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams memundurkan proyeksi pencapaian target inflasi 2% Fed hingga 2028. Bukan kabar kecil. Fed sudah berulang kali merevisi timeline-nya, dan perpanjangan target ini memberi sinyal bahwa pelonggaran suku bunga masih jauh dari jadwal. IMF punya pandangan sedikit lebih optimistis, memperkirakan inflasi AS menyentuh 2% pada 2027, setahun lebih cepat dari proyeksi Williams.

Gross Domestic Output, rata-rata antara PDB dan Gross Domestic Income yang oleh banyak ekonom dianggap ukuran lebih akurat, tercatat tumbuh 1,7% di kuartal I, direvisi naik dari 1,3%. Lebih rendah dari headline PDB. Moderat, bukan istimewa.

Bagi investor, kombinasi ini membentuk narasi yang tidak sederhana: pertumbuhan ada, tapi rapuh. Konsumsi lesu, inflasi bandel, dan Fed tidak akan buru-buru memotong suku bunga. Pasar yang sempat berharap pivot agresif tahun ini perlu mengkalibrasi ulang ekspektasi, entah kebetulan atau tidak, tepat saat data makin sulit dibaca.