Posisi uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2026 tercatat Rp10.448,1 triliun, tumbuh 8,2 persen secara tahunan, eh, bukan. Bukan em dash. Tumbuh 8,2 persen (yoy), sedikit melambat dari Juli 2026 yang mencapai 8,3 persen. Bukan rekor, memang. Tapi cukup untuk memperlihatkan bahwa likuiditas perekonomian masih berjalan di jalur yang wajar.
Yang menarik justru ada di balik angka agregat itu. Kredit perbankan bergerak ke arah sebaliknya: mengakselerasi dari 13,0 persen di Juli menjadi 13,3 persen (yoy) di Agustus. M2 sedikit meredup, kredit malah ngegas. Sinyal bahwa permintaan pembiayaan dari sektor riil belum kendur, setidaknya begitu baca datanya.
Dari sisi komponen, M1 tercatat Rp5.943,0 triliun, tumbuh 9,0 persen (yoy), melambat dari 10,0 persen bulan sebelumnya. Porsinya 56,9 persen dari total M2. Giro rupiah naik 7,1 persen, uang kartal yang beredar di luar sistem perbankan terkerek 12,9 persen. Keduanya lebih pelan dibanding Juli, yang masing-masing mencatat 10,9 persen dan 15,7 persen. Satu pengecualian: tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-waktu justru menguat ke 8,9 persen dari sebelumnya 6,8 persen.
Uang kuasi, dengan porsi 42,4 persen terhadap M2, justru memperlihatkan tren sebaliknya. Tercatat Rp4.426,2 triliun, tumbuh 6,5 persen (yoy), menguat dari 5,6 persen di Juli. Pendorong utamanya: giro valuta asing yang melonjak 11,8 persen, jauh di atas 5,1 persen pada bulan sebelumnya. Agaknya ada pergeseran preferensi penyimpanan ke instrumen berdenominasi valas. Entah kebetulan atau tidak, ini beriringan dengan volatilitas nilai tukar beberapa waktu terakhir.
Satu pos yang layak dicermati: surat berharga selain saham melesat 66,5 persen (yoy), naik dari 53,6 persen di Juli. Lonjakan itu bukan main. Bisa jadi ini mencerminkan minat yang meningkat terhadap instrumen fixed income, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin siklus suku bunga yang masih dalam fase penyesuaian.
Dari sisi uang primer, M0 adjusted tercatat Rp2.281,5 triliun, tumbuh 16,3 persen (yoy), melambat dari 17,1 persen di Juli. Giro bank umum di BI adjusted tumbuh 19,0 persen, sementara uang kartal yang beredar naik 12,9 persen. BI menyebut angka M0 adjusted ini sudah memperhitungkan dampak insentif likuiditas yang disuntikkan melalui mekanisme pengendalian moneter.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut pertumbuhan M2 tetap positif dan melanjutkan tren dari bulan sebelumnya. Penyaluran kredit, kata dia, jadi faktor utama yang menggerakkan perkembangan likuiditas pada periode ini.
Data Agustus ini melukiskan ekonomi yang bergerak dengan tempo stabil, bukan euforia, bukan pula kontraksi. Pertanyaannya tinggal satu: dengan kredit yang terus mengakselerasi, apakah kualitas aset perbankan ikut terjaga, atau justru mulai menumpuk risiko yang belum terlihat di permukaan?