Penerbitan Panda Bond pemerintah Indonesia resmi diundur, bukan karena prosesnya bermasalah, tapi justru sebaliknya: terlalu laris.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, sejumlah fund manager dan bank besar di China meminta tambahan waktu untuk memperoleh persetujuan dari komite investasi masing-masing. Yang semula dijadwalkan awal Juli, kini penerbitannya digeser ke akhir Juli 2026. Penundaan yang, kalau jujur saja, terdengar lebih seperti kabar baik.
Indonesia bersiap menerbitkan surat utang berdenominasi yuan di pasar obligasi domestik China, instrumen yang dikenal sebagai Panda Bond. Target awal penerbitan berkisar di angka US$1 miliar, meski nilainya masih bisa bergerak tergantung kondisi pasar dan selera investor. Kementerian Keuangan memastikan proses berjalan sesuai jadwal, termasuk pertemuan Purbaya dengan People's Bank of China beberapa waktu lalu untuk mempercepat proses perizinan.
Sepanjang 2024, pasar Panda Bond mencetak rekor: RMB194,8 miliar dari 110 transaksi oleh 44 penerbit, berdasarkan data S&P Ratings China. Sekitar 95% di antaranya beredar di pasar interbank. Memasuki 2026, tren itu tidak melambat. Lima bulan pertama saja sudah tembus RMB136,5 miliar, melesat 90,3% secara tahunan. Bukan main.
Indonesia bukan pionir di arena ini. Korea Selatan menjadi pelopor pemerintah asing yang masuk ke pasar Panda Bond pada 2015, disusul negara-negara Eropa seperti Polandia, Hungaria, Portugal, dan Slovenia. Dari Asia Tenggara, Filipina sudah lebih dulu masuk pada 2018 dan kembali hadir setahun berikutnya. Tahun ini, Pakistan dan Kazakhstan untuk pertama kalinya ikut menerbitkan Panda Bond, bergabung bersama Mesir yang sudah masuk lewat jalur Sustainable Panda Bond sejak 2023.
Yang membuat dinamika 2026 kian seru adalah kehadiran Brasil. Reuters melaporkan pemerintah Brasil berencana menerbitkan Panda Bond hingga RMB5 miliar, sekitar US$735 juta, yang jika terealisasi akan menjadi debut surat utang berdenominasi yuan terbesar oleh negara asing di pasar domestik China. Menteri Keuangan Brasil Dario Durigan menyebut langkah ini sebagai semacam uji coba, dengan harapan membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan Brasil untuk turut mengakses pendanaan yuan di China.
Dua ekonomi berkembang besar, Indonesia dan Brasil, bergerak ke pasar yang sama dalam waktu yang hampir berbarengan. Entah kebetulan atau tidak, momentumnya sulit diabaikan, terutama saat tekanan geopolitik terus mendorong diversifikasi pembiayaan dari dolar AS. Pertanyaannya, berapa lama tren ini akan bertahan sebelum pasar Panda Bond benar-benar sesak?
Bagi investor di pasar obligasi domestik, penundaan ini agaknya tidak perlu dibaca sebagai sinyal negatif. Kalau alasannya adalah antrean investor yang terlalu panjang, itu bukan risiko. Itu permintaan.