Pada puncaknya di 2007, Nokia menguasai 40 persen pangsa pasar ponsel dunia dengan kapitalisasi USD 150 miliar. Tujuh tahun berselang, unit bisnis ponselnya dijual ke Microsoft dengan harga yang, kalau dipikir-pikir, sudah terdiskon malu-maluin.
Tapi justru di situ cerita sesungguhnya dimulai.
Nokia Technologies, lini bisnis lisensi paten perusahaan asal Finlandia itu, membukukan penjualan bersih USD 2,2 miliar atau sekitar Rp39 triliun sepanjang 2024. Angka itu melonjak 78 persen dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan yang sudah lama hengkang dari bisnis perangkat ini ternyata masih menerima aliran royalti dari hampir setiap ponsel yang dijual di seluruh dunia. Bukan main.
Mesinnya sederhana. Nokia menginvestasikan lebih dari USD 162 miliar ke R&D sejak tahun 2000, menghasilkan sekitar 26.000 rumpun paten yang mencakup teknologi jaringan dari 2G sampai 5G. Siapa pun yang pakai teknologi itu, bayar. Dan hampir semua produsen ponsel besar dunia pakai.
Kenaikan tajam pendapatan 2024 ada pemicunya yang spesifik: Nokia mengamankan kesepakatan lisensi baru dengan Oppo dan Vivo, plus menerima pembayaran susulan dari perselisihan hukum yang sudah berlangsung lama. Yang paling berdampak, kontrak lisensi paten jangka panjang dengan Apple resmi berlaku mulai Januari 2024. Sebelumnya, Nokia juga sudah memperbarui perjanjian serupa dengan Samsung pada 2023 dan Huawei pada Desember 2022. Nokia kini semacam "tol" tak kasat mata di industri ponsel global.
Bagaimana Nokia sampai di titik ini? Jawabannya ada di keputusan keliru yang bertahun-tahun menggerogoti posisinya.
Nokia sejatinya pelopor. Ponsel pertamanya meluncur 1987, dan pada 1998 mereka sudah menyalip Motorola sebagai pemimpin pasar. Penjualan menembus satu miliar unit di 2005. Di atas kertas, tidak ada alasan untuk kalah.
Kenyataannya, mereka kalah telak.
BBC dan New Yorker kompak menunjuk satu biang kerok: Nokia adalah perusahaan hardware, bukan software. "Nokia pada dasarnya perusahaan hardware, bukan perusahaan software. Dengan kata lain, insinyurnya ahli membuat perangkat fisik, tapi bukan program yang membuat perangkatnya berfungsi. Pada akhirnya, perusahaan ini sangat meremehkan pentingnya software, termasuk aplikasi yang berjalan di smartphone, terhadap pengalaman menggunakan ponsel," tulis New Yorker. BBC melihat sisi lain dari sudut yang sama: "Nokia inovatif dalam perangkat keras dan merupakan kekuatan dominan di awal pasar smartphone. Namun Apple dan kemudian Android, melihat nilai software. Teknologi layar sentuh Apple mengubah cara orang memakai ponsel dan App Store-nya mudah digunakan."
App Store bukan sekadar fitur tambahan. Itu proposisi nilai inti yang mengubah cara orang memakai ponsel, dan Nokia terlambat membacanya. Ketika penurunan pangsa pasar mulai terasa, manajemen agaknya masih yakin bisa mengejar ketertinggalan berbekal reputasi merek. New Yorker menyebutnya blak-blakan: "Nokia melebih-lebihkan kekuatan mereknya, dan percaya bahwa meskipun terlambat memasuki pasar smartphone, mereka akan mampu mengejar ketertinggalan dengan cepat. Bahkan, lama setelah iPhone dirilis, Nokia terus bersikeras bahwa desain hardware yang unggul akan memikat pengguna." Keyakinan yang, seperti yang kita tahu sekarang, tidak terbukti.
Akuisisi Microsoft di 2014 menjadi bab penutup bisnis ponsel Nokia. Nilainya USD 4,4 miliar untuk unit ponsel, plus lisensi paten USD 1,9 miliar. Total sekitar USD 7 miliar, dan tidak mulus bahkan di tangan raksasa Redmond itu: Microsoft mencatat penghapusan buku USD 7,6 miliar setahun kemudian karena akuisisi tersebut gagal membuahkan hasil.
Nokia lalu mengalihkan hak produksi dan pemasaran ke HMD Global sejak 2016 lewat perjanjian lisensi 10 tahun. Skema ini menguntungkan Nokia karena seluruh risiko operasional ditanggung HMD, dari penyimpanan stok hingga strategi pemasaran. Nokia tinggal terima royalti per unit terjual. Kontrak itu akan berakhir Maret 2026, dan HMD sudah mulai bertransisi ke merek sendiri sejak 2024, termasuk menarik smartphone bermerek Nokia dari pasar Eropa pada September tahun yang sama.
Nokia tidak tinggal diam. Manajer komunitas Nokia menyatakan pada Juli 2025 bahwa perusahaan membuka peluang kemitraan baru dengan produsen ponsel besar lain guna menjaga merek Nokia tetap beredar di pasar global. Siapa mitra barunya, belum jelas.
Nokia juga mulai merambah sektor otomotif. Seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas kendaraan, Nokia sudah menandatangani kesepakatan lisensi dengan Mercedes dan sejumlah pabrikan China. Portofolio paten yang sama yang dulu dibangun untuk menopang jaringan telekomunikasi kini ikut mengalir ke dalam setiap mobil yang terkoneksi.
Kejatuhan Nokia di pasar ponsel sering dijadikan studi kasus kegagalan inovasi. Tapi bisnisnya sendiri, entah kebetulan atau tidak, justru menemukan model yang jauh lebih tahan banting: tidak perlu bersaing di pasar yang berubah cepat kalau kamu punya paten yang dipakai semua pemainnya.