SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  CPO Tergelincir ke MYR4.675, Stok Malaysia di Amba...

Bisnis

CPO Tergelincir ke MYR4.675, Stok Malaysia di Ambang 3 Juta Ton

Harga minyak sawit mentah ambruk hampir 4% sepanjang September 2026, dihantam ekspor loyo dan lonjakan persediaan Malaysia. Kabar pangkasan tarif dari India jadi satu-satunya angin segar di tengah tekanan bertubi-tubi.

Harga CPO Diproyeksi Tetap di Atas US$ 1,154 per Ton hingga Akhir 2026

Sepanjang pekan ketiga September 2026, harga crude palm oil di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tidak pernah sekalipun bergerak nyaman. Dari RM4.936 per ton pada 17 September, harga terus tergerus hingga menyentuh RM4.675 per ton pada perdagangan Jumat (25/9/2026), melorot sekitar 2% hanya dalam satu sesi dan mencatat koreksi kumulatif hampir 6% dalam kurang dari dua minggu. Bukan angka yang bisa diabaikan.

Dua penyebab utamanya sudah terbaca jauh sebelum pekan ini: ekspor yang amblas dan stok yang menggunung. Data cargo surveyor mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1-20 September anjlok antara 12,8% hingga 24,7% dibanding bulan sebelumnya. Estimasi AmSpec bahkan hanya 608.120 ton untuk periode itu, turun hampir seperempat dari Agustus. Di sisi produksi, UOB Kay Hian memperkirakan output Malaysia naik 20-24% pada 1-20 September dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Pasar, agaknya, belum sepenuhnya mengantisipasi lonjakan sebesar itu.

Akibatnya, persediaan minyak sawit Malaysia yang sudah mencapai level tertinggi delapan bulan di 2,82 juta ton pada Agustus kini berpotensi menembus 3 juta ton pada akhir September. Level psikologis itu punya sejarah yang membuat pelaku pasar bergidik: terakhir kali stok Malaysia berada di atas 3 juta ton, yakni Desember 2025, harga CPO terseret ke kisaran RM4.000 per ton. Pasar ingat betul.

Tekanan tidak datang dari satu arah. Pelemahan harga soyoil di Chicago Board of Trade sebesar 0,83%, koreksi minyak mentah yang mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel, penguatan ringgit Malaysia 0,22% terhadap dolar AS, semuanya bekerja bersamaan. Selisih harga atau discount CPO terhadap minyak kedelai dan bunga matahari pun semakin menyempit, membuat sebagian pembeli India mulai melirik substitusi.

Kabar sedikit melegakan datang dari New Delhi. Pemerintah India resmi memangkas bea masuk dasar untuk CPO dan crude soybean oil menjadi 5% dari sebelumnya 10%, berlaku mulai 24 September 2026. Setelah diperhitungkan pungutan lainnya, total bea masuk CPO mentah turun menjadi 11% dari 16,5%. Kebijakan ini diambil untuk meredam kenaikan harga minyak nabati domestik yang telah melonjak hampir 20% dalam setahun terakhir, sekaligus mendorong konsumsi jelang musim festival September-November.

Analis Trimegah Sekuritas Kharel Devin Fielim dan Alberto Jonas menilai penurunan tarif tersebut berpotensi mendorong kenaikan impor minyak nabati India, yang pada gilirannya dapat memengaruhi harga CPO global. "Penurunan bea masuk dapat mendorong peningkatan impor minyak nabati India, yang berpotensi meningkatkan persaingan antar-pemasok sekaligus memengaruhi harga minyak sawit dan kedelai global," tulis keduanya dalam riset yang dirilis Kamis (24/9/2026). India memenuhi hampir dua pertiga kebutuhan minyak nabatinya lewat impor, dengan pasokan antara lain dari Indonesia dan Malaysia. Bagi eksportir sawit Indonesia, ini membuka ruang permintaan tambahan, terutama selama musim festival berlangsung.

Hanya saja, ada catatan yang tidak bisa diabaikan. India juga memangkas tarif minyak bunga matahari lebih agresif, bea masuk dasar crude sunflower oil dihapus menjadi 0% dari 10%. Kompetisi antar-minyak nabati di pasar India kian sengit. Eksportir sawit Indonesia dan Malaysia tidak bisa sekadar duduk menunggu pesanan masuk.

Dari sisi teknikal, analis komoditas Reuters Wang Tao memetakan support CPO di area RM4.677-RM4.711 per ton. Jumat pagi, harga telah menyentuh batas bawah rentang itu. Jika tekanan berlanjut, RM4.622 per ton menjadi level berikutnya yang perlu diwaspadai.

Malaysian Palm Oil Council tetap memproyeksikan harga CPO bertahan di atas US$1.154 per ton atau sekitar RM4.700 hingga akhir 2026, dengan argumen bahwa penumpukan stok saat ini bersifat sementara. Curah hujan Indonesia tercatat 60% di bawah rata-rata pada Agustus dan 20% di bawah rata-rata pada Juli, sinyal El Niño yang mulai mengeras. Meski begitu, para analis memperkirakan dampaknya terhadap produksi baru terasa di pertengahan 2027. Jangka pendek tetap milik bull stok dan bear permintaan. Untuk saat ini, yang kedua sedang menang.