SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Neraca Pembayaran RI Defisit Terdalam Sejak 2004,...

Ekonomi

Neraca Pembayaran RI Defisit Terdalam Sejak 2004, Tembus US$9,1 Miliar

Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 mencatat defisit US$9,1 miliar, rekor terburuk sejak pencatatan data dimulai pada 2004, dipicu tekanan ganda dari transaksi berjalan maupun finansial.

Defisit Menganga! Neraca Pembayaran RI Terburuk dalam Sejarah

Angka US$9,1 miliar itu bukan sekadar statistik. Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2026 yang dilaporkan Bank Indonesia pekan ini adalah yang terdalam sejak data kuartalan NPI mulai dicatat pada 2004, dan pelaku pasar agaknya perlu waktu sejenak untuk mencernanya.

Sebagai perbandingan, kuartal IV-2025 NPI masih surplus US$6,1 miliar. Setahun lalu, kuartal I-2025, defisitnya hanya US$787 juta. Dalam satu tahun, lubang NPI melebar lebih dari sebelas kali lipat. Bukan tren yang nyaman untuk diabaikan.

Tekanan datang dari dua sisi sekaligus. Situasi yang jarang terjadi, dan justru itulah yang membuat angka ini berat. Transaksi berjalan mencatat defisit US$4,0 miliar atau 1,1% dari PDB, melebar tajam dari US$2,47 miliar (0,7% PDB) pada kuartal sebelumnya. Ini defisit transaksi berjalan terdalam sejak kuartal IV-2019, ketika angkanya sempat mencapai US$8,04 miliar.

Neraca perdagangan barang masih surplus US$8,0 miliar, tapi turun dari US$10,2 miliar di kuartal IV-2025. Surplus nonmigas pun menyusut dari US$16,0 miliar menjadi US$13,3 miliar, tergerus perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasok yang belum reda. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut kondisi ini sejalan dengan dinamika perdagangan antarnegara yang sedang tidak kondusif.

Neraca jasa tetap jadi pengurang. Defisitnya US$4,6 miliar, sedikit membaik dari US$5,3 miliar di kuartal sebelumnya, didorong penurunan impor jasa freight. Secara struktural, Indonesia masih lebih banyak membayar jasa ke luar negeri ketimbang menerimanya.

Yang memperparah gambar keseluruhan: transaksi finansial ikut berbalik defisit US$4,9 miliar, padahal kuartal IV-2025 masih surplus US$9,0 miliar. Dalam kondisi normal, pos ini justru jadi bantalan ketika transaksi berjalan tertekan. Kali ini, kedua kaki tersandung bersamaan. Cukup untuk bikin pasar gelisah.

Investasi langsung masih positif, surplus US$2,0 miliar. Investasi portofolio pun masih mencatat surplus US$730 juta, sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik belum sepenuhnya pudar. Ramdan menegaskan investasi langsung tetap surplus sebagai cerminan persepsi positif terhadap iklim investasi Indonesia.

Biang keroknya ada di komponen investasi lainnya, yang mencakup pinjaman, simpanan, kredit perdagangan, dan kewajiban keuangan lain. Pos ini mencetak defisit US$7,8 miliar, dipicu pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan aset di luar negeri. Satu pos ini cukup untuk membalikkan seluruh transaksi finansial ke zona merah.

US$148,2 miliar. Segitu posisi cadangan devisa per akhir Maret 2026, setara 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor. Bantalan itu masih tebal, kalau data ini bisa dipercaya sebagai penyeimbang jangka pendek.

Sepanjang 2026, BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan tetap terkendali dalam kisaran 0,5% hingga 1,3% dari PDB. Pertanyaannya, seberapa cepat tekanan di sisi investasi lainnya bisa mereda, sementara ketidakpastian pasar keuangan global belum menunjukkan tanda-tanda surut?