KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Minyak Dihajar Perang, Indonesia Ikut Kena Getahny...

Ekonomi

Minyak Dihajar Perang, Indonesia Ikut Kena Getahnya

Harga minyak Brent melonjak hingga US$119,50 per barel akibat konflik Teluk Persia, membalik narasi pelonggaran moneter global dan menekan proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 5,0% menjadi 4,8%.

BRI Menilai Perang di Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Energi

Harga minyak Brent sempat melonjak ke US$119,50 per barel sebelum stabil di US$112,6, naik lebih dari 60% dalam hitungan minggu. Pasar keuangan global belum sepenuhnya mencerna apa artinya angka itu bagi suku bunga, inflasi, dan aset berisiko.

Konflik di Teluk Persia sudah memasuki bulan ketiga. Selat Hormuz belum ditutup, tapi gangguan distribusi sudah cukup untuk mengguncang sekitar 20% pasokan minyak dunia. WTI sempat meledak 78% sebelum turun ke kisaran US$100 per barel. Lonjakan ini bukan soal permintaan, murni premi risiko geopolitik, sesuatu yang jauh lebih susah diprediksi dan lebih lama mereda dibanding siklus demand biasa.

Office of Chief Economist BRI, dalam laporan Weekly Economic Update edisi akhir Maret 2026, mencatat struktur harga yang patut dicermati: harga spot Brent berada jauh di atas harga futures, sinyal bahwa pasar melihat guncangan jangka pendek jauh lebih berat dibanding proyeksi menengah. Probabilitas implisit pasar per 27 Maret pun menempatkan peluang gencatan senjata dalam waktu dekat di bawah 50%, dengan skenario konflik baru berpotensi mereda sekitar Juni 2026.

Artinya, volatilitas belum akan ke mana-mana.

Dampak paling langsung terasa di narasi kebijakan moneter. Analis pasar Elev8, Kar Yong Ang, menyebut tema penurunan suku bunga yang sebelumnya dominan kini berhenti total akibat tekanan inflasi energi. Pasar masuk fase "higher for longer" yang jauh lebih keras dari sekadar penundaan satu-dua pertemuan. Di AS, harga bensin sudah menyentuh US$4,25 per galon, mendorong proyeksi CPI ke 3,5% pada musim panas 2026, jauh di atas target The Fed di angka 2%. Konsekuensinya, peluang pemangkasan suku bunga AS hingga 2027 kini tinggal di bawah 20%.

Eropa kondisinya lebih rumit. ECB memangkas proyeksi pertumbuhan ke 0,9%, sementara inflasi Inggris berpotensi mendekati 4%. Stagflasi bukan lagi sekadar skenario tail risk, sudah mulai masuk baseline sebagian analis. Jepang kena tekanan dari dua arah sekaligus: inflasi impor energi dan yen yang sudah tergerus lebih dari 13% terhadap dolar AS.

Bagi Indonesia, fundamentalnya memang masih relatif solid. Tapi angka-angkanya tidak berbohong. OECD merevisi proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 5,0% menjadi 4,8% untuk 2026. Bukan dramatis, tapi cukup sebagai penanda bahwa ruang manuver ekonomi menyempit. IHSG amblas 0,14% secara mingguan ke level 7.097 per 27 Maret, dengan outflow asing mencapai US$1,32 miliar dalam sepekan, arus keluar mingguan terbesar sejak awal tahun. Premi CDS 5 tahun Indonesia ikut terkerek ke 103,34 basis poin. Angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Rupiah, agaknya, jadi satu-satunya titik relatif terang. BRI mencatat Rupiah justru menguat tipis 0,12% secara mingguan di pekan keempat Maret, ketika mayoritas mata uang negara berkembang melemah. Ketahanan ini, walau kecil, menunjukkan posisi Rupiah relatif lebih baik dibanding peers, meski data terakhir menunjukkan kurs sudah berada di Rp17.237 per dolar AS.

Yield Surat Berharga Negara naik selektif, terutama di tenor pendek 1, 2, dan 5 tahun. Bank Indonesia memang aktif melakukan operasi moneter, dengan outstanding SRBI mencapai Rp822,21 triliun per 26 Maret 2026. Tapi kenaikan yield SRBI belum cukup menarik investor nonresiden, yang tetap mencatat net outflow Rp1,12 triliun dari instrumen tersebut.

ULN Indonesia naik tipis ke US$434,71 miliar per Januari 2026, dari US$432,97 miliar di Desember 2025. Bukan besaran totalnya yang mengkhawatirkan, melainkan pergeseran komposisi: proporsi utang jangka pendek meningkat, yang bisa mempertebal risiko refinancing kalau kondisi eksternal makin buruk.

Di pasar komoditas, gambarannya campur aduk. Emas sempat menyentuh US$5.430 per ons troi sebelum konsolidasi ke kisaran US$4.600 hingga US$4.800, dengan BRI mencatat angka US$4.494,1 per ons troi untuk akhir Maret. Elev8 menilai emas berada dalam fase tarik-menarik: didorong risiko geopolitik dari satu sisi, dibatasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar dari sisi lain. Batu bara menguat ke US$135,6 per ton. CPO dan kedelai justru terkoreksi tipis.

Pertanyaannya sederhana: berapa lama pasar bisa bertahan dalam kondisi seperti ini?

Yong Ang mengingatkan bahwa volatilitas tinggi akan terus berlanjut selama konflik energi belum selesai. Bagi pelaku pasar domestik, bisa diartikan begini: window dressing akhir kuartal tahun ini agaknya kurang meyakinkan, dan strategi defensif masih lebih relevan ketimbang agresif mengejar momentum.